Satu dari Lima Orang Palestina di Gaza Kelaparan Akibat Perang Genosida dan Blokade Israel
Israel memberlakukan blokade bantuan kemanusiaan di Gaza sejak 2 Maret, menghentikan pasokan makanan, pasokan medis, dan bantuan lainnya.
Menurut laporan PBB, satu dari lima orang Palestina di Jalur Gaza mengalami kelaparan. PBB dalam laporan terbarunya juga memperingatkan, seluruh wilayah Palestina tersebut berada di ambang kelaparan setelah hampir tiga bulan Israel memblokade masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah kantong tersebut.
Situasi di Gaza semakin memburuk sejak Israel melancarkan serangan barunya Maret setelah membatalkan gencatan senjata. Saat ini penduduk Gaza berjuang untuk mendapatkan makanan, obat-obatan, dan air bersih, seperti dikutip dari CNN, Kamis (15/5).
Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) dalam laporan terbarunya pada Senin mengungkapkan, seluruh populasi di Gaza mengalami “tingkat ketahanan pangan akut yang tinggi” dan wilayah tersebut berada pada “risiko tinggi” kelaparan, jenis krisis kelaparan yang paling parah.
“Barang-barang yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia telah habis atau diperkirakan akan habis dalam beberapa minggu mendatang,” kata IPC. Makanan hampir habis, dan apa yang tersisa dijual dengan harga selangit yang hanya mampu dibeli oleh sedikit orang, katanya.
Israel memberlakukan blokade bantuan kemanusiaan di Gaza sejak 2 Maret, menghentikan pasokan makanan, pasokan medis, dan bantuan lainnya kepada lebih dari 2 juta warga Palestina yang tinggal di wilayah tersebut. Organisasi internasional mengatakan tindakan penjajah Israel ini melanggar hukum internasional. Israel juga dituduh menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.
IPC memperingatkan, ada “risiko tinggi” bahwa kelaparan akan terjadi antara sekarang dan akhir September, menyebabkan sebagian besar orang di Gaza tidak memiliki akses ke makanan, air, tempat tinggal, dan obat-obatan. IPC menambahkan, pengiriman bantuan kemanusiaan yang dapat mencegah terjadinya kelaparan.
Berdasarkan sistem IPC – skala lima fase yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan kerawanan pangan – bencana kelaparan hanya dapat dinyatakan jika data menunjukkan ambang batas tertentu terpenuhi. Kondisi tersebut adalah: setidaknya 20 persen dari semua rumah tangga harus menghadapi kekurangan pangan yang ekstrem, 30 persen atau lebih anak-anak harus mengalami kekurangan gizi akut, dan setidaknya 2 dari setiap 10.000 orang meninggal setiap hari karena kelaparan total atau interaksi antara kekurangan gizi dan penyakit.
IPC mengatakan, ambang batas pertama telah terpenuhi di Gaza. Menurut laporan tersebut, hampir 469.500 orang – sekitar 22 persen dari populasi - kemungkinan akan mengalami kerawanan pangan yang masuk dalam kategori “bencana”, fase tertinggi pada skala IPC, antara Mei dan September.
Laporan IPC juga mengungkapkan, 25 toko roti yang dikelola Program Pangan Dunia PBB (WFP) terpaksa tutup pada awal April karena kekurangan bahan pasokan, dan makanan hampir habis di sebagian besar dari 177 dapur umum. Harga makanan di Gaza juga meroket. Harga tepung terigu naik 3.000 persen sejak Februari dan satu karung tepung terigu seberat 25 kilogram dapat mencapai harga antara USD235 (sekitar Rp3,8 juta) dan USD520 (Rp8,5 juta).
Menurut laporan tersebut, anak-anak dan ibu hamil berada pada risiko yang sangat tinggi. Hampir 71.000 kasus malnutrisi akut di kalangan anak di bawah usia lima tahun diperkirakan terjadi antara April 2025 dan Maret 2026. Selain itu, hampir 17.000 ibu hamil dan menyusui akan memerlukan perawatan untuk malnutrisi akut.