Krisis Tepung Gaza Memburuk: Kebutuhan 450 Ton per Hari, Pasokan Jauh di Bawah Standar

Jalur Gaza menghadapi krisis tepung parah dengan kebutuhan 450 ton per hari, namun pasokan minim. Israel dituding memperparah kelaparan, sementara bantuan kian menyusut.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Krisis Tepung Gaza Memburuk: Kebutuhan 450 Ton per Hari, Pasokan Jauh di Bawah Standar
Jalur Gaza menghadapi krisis tepung parah dengan kebutuhan 450 ton per hari, namun pasokan minim. Israel dituding memperparah kelaparan, sementara bantuan kian menyusut. (AntaraNews)

Jalur Gaza menghadapi krisis tepung yang semakin parah, dengan kebutuhan harian mencapai sekitar 450 ton. Namun, pasokan yang tersedia saat ini hanya sekitar 200 ton, jauh di bawah angka yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk.

Kantor media pemerintah Gaza pada Ahad (12/4) melaporkan situasi genting ini, menuduh Israel memperkuat kebijakan “kelaparan yang direkayasa” di wilayah tersebut dengan membatasi pasokan tepung.

Krisis ini berdampak langsung pada sekitar 1,9 juta pengungsi dari total populasi 2,4 juta jiwa di Gaza, yang hidup dalam kondisi memprihatinkan setelah rumah mereka hancur akibat konflik berkepanjangan sejak 7 Oktober 2023.

Pembatasan Pasokan dan Tuduhan Kelaparan yang Direkayasa

Kantor media pemerintah Gaza secara tegas menuding Israel sengaja memperparah krisis pangan di Jalur Gaza. Mereka menyatakan bahwa tindakan Israel yang membatasi pasokan tepung merupakan bagian dari kebijakan “kelaparan yang direkayasa”.

Meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya memungkinkan masuknya hingga 600 truk bantuan per hari, Israel dilaporkan hanya mengizinkan sekitar 38 persen dari total pasokan sebelum perang. Kondisi ini jauh dari harapan dan kebutuhan mendesak warga Gaza.

Situasi ini menciptakan tekanan luar biasa bagi warga sipil. Banyak dari mereka terpaksa bertahan hidup dalam kondisi yang tidak layak di tenda-tenda darurat. Mereka kehilangan tempat tinggal akibat konflik yang terus berlanjut sejak Oktober 2023.

Penarikan Bantuan dan Dampak Kemanusiaan

Krisis tepung di Gaza semakin memburuk drastis setelah beberapa organisasi bantuan internasional mengurangi atau menghentikan operasinya. World Central Kitchen (WCK), sebuah lembaga amal berbasis di Amerika Serikat, menghentikan dukungan pasokan tepungnya. WCK sebelumnya menyediakan 20 hingga 30 ton tepung setiap hari.

Selain WCK, Program Pangan Dunia (WFP) juga terpaksa mengurangi pasokannya secara signifikan. Mereka memangkas jumlah tepung dari 300 ton menjadi hanya 200 ton per hari, menambah beban pada sistem distribusi pangan yang sudah rapuh.

Sejumlah organisasi lain juga dilaporkan telah menghentikan program roti dan tepung mereka di wilayah tersebut. Penarikan dan pengurangan bantuan ini memperparah kekurangan pangan, secara langsung memengaruhi jutaan warga yang sangat bergantung pada uluran tangan kemanusiaan.

Kondisi Pengungsi dan Kegagalan Kesepakatan Gencatan Senjata

Sekitar 1,9 juta dari 2,4 juta penduduk Jalur Gaza saat ini berstatus pengungsi. Mereka hidup dalam kondisi yang sangat sulit dan tidak layak, banyak yang tinggal di tenda-tenda setelah rumah mereka hancur akibat perang genosida Israel.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, kondisi kehidupan di Gaza belum menunjukkan perbaikan signifikan. Israel dituding gagal mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan sesuai kesepakatan, termasuk pangan, pasokan medis, dan bahan tempat tinggal.

Perang di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai sekitar 172.000 lainnya. Konflik ini juga menyebabkan kerusakan luas terhadap sekitar 90 persen infrastruktur sipil, menghancurkan harapan pemulihan cepat bagi wilayah tersebut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi