FOTO: Dari Gaza ke Italia, Perjuangan Kecil Shamm Qudeih
Balita Shamm Qudeih asal Gaza yang kini mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Anak Santobono Pausilipon, Naples, Italia (02/09/2025).
Di sebuah rumah sakit di Gaza selatan, balita bernama Shamm Qudeih meringis kesakitan dalam pelukan ibunya. Rambut kusut, tulang rusuk menonjol, tubuh kurus kering, potret memilukan itu diabadikan jurnalis lepas Associated Press, Mariam Dagga.
Beberapa hari kemudian, Shamm dievakuasi ke Italia untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara Mariam, yang sering menjenguknya, tewas dalam serangan udara di rumah sakit yang sama pada 25 Agustus 2025.
Kisah Shamm mencerminkan tragedi kemanusiaan di Gaza, di mana lebih dari setengah juta orang menghadapi kelaparan. Sejak lahir beberapa minggu sebelum serangan 7 Oktober 2023, Shamm berjuang melawan penyakit metabolik langka, penyakit penyimpanan glikogen, yang membuat tubuhnya kesulitan menyerap nutrisi. Kondisinya semakin parah karena blokade dan perang yang tak kunjung usai.
Setiba di Rumah Sakit Anak Santobono Pausilipon, Naples, berat badan Shamm yang berusia dua tahun hanya 4 kilogram. “Kondisinya sangat serius dan menantang,” ujar Dr. Daniele de Brasi, spesialis penyakit genetik.Namun, dengan diet khusus berupa bubur karbohidrat dan nutrisi melalui selang, ia mulai pulih.
Dalam beberapa minggu, beratnya naik menjadi 5,5 kilogram. Shamm kini bisa duduk tegak, rambut pirangnya diikat ekor kuda, matanya berbinar, bahkan sudah tersenyum.
Perjuangan Seorang Ibu
Sang ibu, Islam, telah mengungsi lebih dari 15 kali bersama putrinya. “Kami berjalan jauh, di bawah panas terik, dari tenda ke tenda, tanpa cukup makanan dan perawatan,” katanya.Islam juga kehilangan teman sekaligus penyaksi perjalanan putrinya: Mariam Dagga. “Dia selalu datang menjenguk saya. Saya sangat sedih mendengar dia meninggal,” ucapnya lirih.
Perjalanan yang Masih Panjang
Shamm adalah satu dari 181 anak Palestina yang dirawat di Italia. Meski berat badannya sudah bertambah, ia masih jauh dari ideal. Tim dokter berharap dalam sebulan ke depan, Shamm bisa lepas dari selang makanan dan terus tumbuh sehat.Islam kini menaruh harapan di luar Gaza. “Selama perang masih berlangsung, tidak mungkin kami kembali,” ujarnya.Kisah Shamm adalah pengingat bahwa di balik angka-angka konflik, ada nyawa kecil yang bertahan, mencari cahaya di tengah gelapnya perang.