Angin Segar May Day, Driver Ojol Tunggu Realisasi Potongan Aplikator 8 Persen
Kebijakan tersebut pun disambut antusias oleh para mitra pengemudi yang berharap dapat meningkatkan kesejahteraan.
Peringatan Hari Buruh (May Day) tahun ini membawa angin segar bagi para pengemudi ojek online (ojol), menyusul pernyataan Presiden yang menetapkan batas maksimal pemotongan biaya oleh perusahaan aplikator hanya sebesar 8 persen. Kebijakan tersebut pun disambut antusias oleh para mitra pengemudi yang berharap dapat meningkatkan kesejahteraan.
Salah satunya Willy, pengemudi ojek online yang ditemui di kawasan Jakarta Pusat menyatakan, dirinya sudah mendengar wacana tersebut. Bahkan seharian ini, hal itu sudah ramai diperbincangkan di kalangan rekan-rekan seprofesinya. Dia pun menaruh harapan besar agar regulasi tersebut benar-benar ditegakkan.
"Kami berharap Pak Presiden Prabowo menekankan kepada aplikator untuk sungguh-sungguh menetapkan potongan 8 persen untuk para ojol," ujar Willy saat ditemui di sela-sela waktu tunggunya mencari penumpang, Jumat (1/5/2026) sore.
Program Promo Murah
Selain mendesak realisasi potongan 8 persen, Willy juga menyoroti berbagai program promo murah atau "layanan hemat" yang diterapkan oleh pihak aplikator. Menurutnya, program-program semacam itu sangat mencekik pendapatan mitra pengemudi dan justru merugikan pelanggan.
"Kita berharap program-program hemat, slot, dan lain-lain itu dihilangkan. Dari sisi kita (driver), potongannya gede banget. Dampaknya ke sisi pelanggan juga jadi susah dapat driver, karena driver enggan mengambil orderan dengan potongan yang besar," keluh dia.
Minim Transparansi, Driver Sering "Buntung"
Willy menjelaskan, tuntutan pembatasan potongan 8 persen ini bukan tanpa alasan. Dia merasakan, selama ini tidak ada transparansi yang jelas antara biaya yang dibayarkan konsumen dengan upah yang diterima oleh pengemudi. Driver hanya menerima angkanbersih tanpa mengetahui berapa persentase potongan yang diambil aplikator.
Berdasarkan pengalaman pribadinya saat berada di posisi sebagai pelanggan dirinya, pernah ditolak driver karena katanya ia cuma dapat Rp5.000, padahal di aplikasi saya bayarnya sampai Rp 20 ribuan.
"Kita tidak bisa (lihat potongannya), karena di aplikasi driver pendapatannya langsung tertera bersih," ungkap dia.
Harus Kerja Ekstra Keras
Besarnya potongan aplikator saat ini yang bisa mencapai 20 persen membuat pendapatan mereka merosot tajam. Willy dan rekannya lainnya, mengaku harus bekerja ekstra keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan hanya untuk mengantongi pendapatan kotor sebesar Rp 150.000 dalam sehari, para pengemudi harus memforsir tenaga hingga batas maksimal.
"Pendapatan Rp 150.000 per hari saja itu sudah berat banget, sudah ngos-ngosan," ungkap Willy.
"Kami keluarnya dari subuh sampai malam, kadang sampai jam 1 malam cuma dapat pekgo (Rp150.000). Itu belum dipotong bensin, makan, dan rokok," catat dia.
Karena itu, dia berharap potongan 8% aplikator dapat segera diwujudkan.