Tangisan Bayi itu Lirih, Namun Menggetarkan Jiwa', Anak-anak Gaza Berjuang Menahan Sakitnya Kelaparan

Juru kamera BBC merekam apa yang dia alami ketika meliput kondisi anak-anak Gaza yang kelaparan akibat blokade Israel.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Tangisan Bayi itu Lirih, Namun Menggetarkan Jiwa', Anak-anak Gaza Berjuang Menahan Sakitnya Kelaparan
Siwar Ashoura (BBC)

Kengerian perang kian menjalar tanpa belas kasih, pertumpahan darah hadir di setiap sudut Gaza, Palestina. Orang-orang tak bersalah tewas, tubuh manusia yang penuh harapan tercabik-cabik oleh kerasnya dentuman bom Israel. Mereka yang masih hidup harus menghadapi sakitnya menahan rasa lapar. Mereka sekarat.

Seluruh beban penderitaan manusia paling keras, hanya bisa kita saksikan tanpa melakukan apa-apa.

Tapi meski begitu masih ada sedikit rekan-rekan media pemberani di Gaza. Mereka menyampaikan penderitaan, menyuarakan yang tidak mampu lagi bersuara.

Kisah ini dibawa oleh seorang jurnalis dan kameramen BBC yang menyaksikan langsung perlakuan keji Israel di Jalur Gaza.

Matanya Hanya Bisa Mengikuti Setiap Gerakan Ibunya

Jurnalis tersebut, menyampaikan kisah Siwar Ashour. Ia mengatakan, “Kisah Siwar memecahkan sesuatu dalam diri kami semua, dan menulis kisah ini adalah salah satu hal paling menyakitkan yang pernah saya lakukan. Namun saya lihat wajahnya, tahu namanya, dan ceritanya harus terus didengar”

Siwar berusia lima bulan, kondisi tubuhnya sangat malang. Ia menderita kekurangan gizi. Bayi dengan mata cokelat besar yang mendominasi tubuhnya yang kurus kering itu hanya mampu menatap ibunya. Mata indah itu hanya bisa mengikuti setiap gerakan ibunya, Najwa. Selasa lalu, Najwa mengirimkan pesan video dari kamarnya di Rumah Sakit Nasser, wilayah selatan Gaza.

Najwa ingin dunia tahu betapa besar rasa cintanya kepada anaknya, “Saya berharap dia bisa mendapat pengobatan yang layak, agar dia bisa pulih sepenuhnya, dan kembali seperti semula – bermain seperti anak-anak yang lain, tumbuh dan bertambah berat seperti anak-anak lainnya. Siwar adalah anak pertama saya. Sebagai seorang ibu, hati saya selalu tersayat melihat kondisinya.”

najwa
najwa BBC

Alergi berat

Dalam beberapa hari terakhir, Siwar mengalami infeksi kulit. Luka-luka muncul di tangannya. Dia juga mengalami gangguan pencernaan yang parah. Satu-satunya perjuangan yang ia bisa lakukan adalah untuk menjaga agar nutrisi bisa bertahan di tubuh mungilnya. Sistem kekebalan tubuh Siwar berjuang melawan kekurangan gizi akibat blokade Israel.

Tangisan bayi itu lirih, namun menggetarkan jiwa. Suara kehidupan yang berjuang agar sekedar bisa bertahan hidup. Siwar hanya mampu minum susu formula khusus karena ia alergi berat.

Pada Selasa, ada kabar baik yang sampai di telinga Najwa. Tenaga medis di Rumah Sakit Lapangan Yordania di dekatnya berhasil menemukan sebagian susu formula yang ia dibutuhkan. Jumlahnya sedikit, tapi mereka berencana mengirim lebih banyak.

Anak-Anak Melambaikan Tangan dan Mencium Ibu Mereka

Dalam beberapa hari ke depan, ada rencana untuk membawa anak-anak sakit ke Uni Emirat Arab dan Yordania. Kini, di rumah sakit sekitar Amman sudah ada beberapa keluarga Gaza yang anak-anaknya tengah dirawat karena sakit atau terluka akibat perang. Evakuasi ini dikoordinasikan dengan Israel yang terlebih dulu memeriksa latar belakang orang tua yang bepergian bersama anak-anak mereka.

Pada Januari, Abdelrahman al-Nashash kehilangan kakinya akibat bombardir Israel. Ia datang bersama ibunya, Asma.

Selama empat bulan mereka tinggal di tempat yang menyediakan makanan dan tempat untuk berlindung. Sebuah tempat yang aman.

Pada Selasa, Asma memanggil anak-anaknya dan nenek mereka di Gaza. Nenek itu bercerita tentang perang yang menggila di sekitar mereka. Ia berkata “Roket ada di mana-mana, meluncur di atas kepala kami. Makanan tidak lagi tersedia di sini, kehidupan yang sangat buruk. Tidak ada tepung, dan harga-harga melonjak tinggi.”

nenek najwa
nenek najwa BBC

Di Gaza, anak-anak melambaikan tangan dan mencium ibu mereka dengan tulus. Setelah itu, Asma berkata “Saya tak tahu harus berkata apa. Saya sangat berterima kasih kepada ibu saya atas semua yang dia lakukan untuk saya. Saya berharap bisa kembali dan menemukan mereka dalam keadaan sehat dan aman.” Asma terdiam, lalu tangisnya tumpah.

Hanya melalui mata seorang ibu yang menyaksikan anak-anaknya terperangkap, ketakutan, dan menderita kelaparan, kita bisa mengerti mengapa seseorang ingin kembali ke Gaza.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi