Perkuat Ketahanan Pangan, APPMBGI Siapkan Cold Storage Strategis dan Command Center MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai fondasi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional dan pembangunan sumber daya manusia berkualitas.
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) tengah merancang pembangunan infrastruktur logistik yang komprehensif.
Hal ini dilakukan Dalam upaya menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai fondasi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional dan pembangunan sumber daya manusia berkualitas.
"Ini mencakup gudang pangan dan cold storage (ruang pendingin) di berbagai wilayah sentra produksi pangan, didukung oleh MBG Command and Control Center sebagai pusat kendali digital," kata Ketua Umum APPMBGI Abdul Rivai Ras dalam keterangannya, Jumat (1/5).
Keberhasilan Program MBG
Rivai Ras menyatakan, keberhasilan program MBG tidak cukup hanya pada penyajian makanan bergizi di dapur, melainkan harus dibangun di atas fondasi logistik yang tangguh, higienis, dan berbasis prinsip keberlanjutan.
"Program MBG adalah proyek strategis nasional yang menyentuh jutaan anak bangsa. Untuk itu, kita tidak boleh hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Kita perlu menerapkan konsep food supply chain management yang terintegrasi," ungkapnya.
"Di mana cold chain logistics menjadi elemen krusial untuk meminimalkan food loss, menjaga kualitas gizi, serta mewujudkan sistem pangan yang resilien di tengah tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan,” sambungnya.
Menurutnya, penguatan infrastruktur ini sejalan dengan pemikiran teoritis ketahanan pangan modern yang menekankan, keamanan pangan (food security) bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga aksesibilitas, stabilitas pasokan, dan pemanfaatan nutrisi yang optimal.
Hal ini sebagaimana kerangka empat pilar FAO yang diperkaya dengan dimensi keberlanjutan dan ketahanan terhadap gangguan iklim serta disrupsi rantai pasok.
Strategi Infrastruktur Pendukung MBG
APPMBGI disebutnya memprioritaskan pembangunan gudang pangan dan cold storage di wilayah-wilayah sentra produksi bahan pangan utama, seperti sentra perikanan, hortikultura, dan pertanian.
"Tujuannya adalah menjaga kesegaran bahan baku — terutama produk mudah rusak seperti ikan segar, sayuran, dan buah sebelum diolah di ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG," sebutnya.
Fasilitas cold storage ini dijelaskannya akan menerapkan cold chain logistics yang terkontrol suhu, sehingga dapat memperpanjang masa simpan bahan pangan, mengurangi post-harvest loss yang di Indonesia masih cukup tinggi, serta menjamin standar keamanan pangan dan mutu gizi yang konsisten dari hulu hingga hilir (farm-to-table atau ocean-to-table).
Selain infrastruktur fisik, APPMBGI juga mengembangkan MBG Command and Control Center. Pusat kendali ini akan berfungsi sebagai sistem monitoring real time yang mengintegrasikan data stok gudang, distribusi bahan baku, kualitas, serta supervisi operasional dapur di seluruh Indonesia.
"Dengan pendekatan ini, APPMBGI ingin membangun sistem logistik yang transparan, responsif, dan berbasis data, yang merupakan elemen penting dalam manajemen rantai pasok pangan berkelanjutan di era industri 4.0," jelasnya.
Penguatan Rantai Pasok dan Pemberdayaan Lokal
Inisiatif ini mendorong koordinasi yang lebih erat antara pemasok lokal (petani, nelayan, dan UMKM), operator dapur MBG, serta pelaku usaha daerah. Pendekatan ini tidak hanya menjamin stabilitas pasokan dan harga yang lebih terkendali, tetapi juga memperkuat ekonomi sirkular di tingkat akar rumput.
“Dengan infrastruktur yang kuat, kita dapat memaksimalkan penyerapan produk lokal, memberdayakan petani dan nelayan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan pangan tertentu. Ini adalah wujud nyata bagaimana program MBG dapat menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi inklusif sekaligus instrumen ketahanan pangan nasional,” paparnya.
APPMBGI telah Melantik Pengurus Dewan Pimpinan
Daerah (DPD) Tingkat I dan II di 38 provinsi untuk mengawal implementasi di lapangan, termasuk pengawasan distribusi bahan pangan dari gudang ke dapur-dapur MBG.
"Struktur organisasi yang kuat ini memastikan program dapat dijalankan secara terdesentralisasi namun tetap terkoordinasi secara nasional," ucapnya.
Visi Jangka Panjang: MBG yang Resilien dan Berkelanjutan
Kemudian, terkait dengan langkah pembangunan gudang pangan, cold storage, dan command center ini merupakan bagian dari visi jangka panjang APPMBGI untuk menjadikan MBG bukan sekadar program bantuan sementara, melainkan ekosistem pangan nasional yang solid, adaptif terhadap perubahan iklim, dan mampu mendukung target Indonesia Emas 2045.
"Inisiatif ini juga selaras dengan komitmen sebelumnya APPMBGI dalam pengelolaan limbah dapur mengubah minyak jelantah menjadi bioavtur dan sampah organik menjadi kompos, sehingga membentuk kesatuan konsep zero waste dan circular economy di seluruh rantai nilai program MBG," tegasnya.
Rivai Ras menekankan, pendekatan intelektual yang diusung APPMBGI adalah membangun sistem pangan yang holistic, yang menggabungkan efisiensi logistik, inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan tanggungjawab lingkungan dalam satu kerangka kebijakan yang koheren.
“Kita tidak sedang sekadar membangun dapur atau gudang. Kita sedang merancang fondasi peradaban pangan Indonesia yang tangguh, di mana setiap anak mendapatkan nutrisi optimal, petani dan nelayan sejahtera, lingkungan terjaga, dan negara memiliki kedaulatan pangan yang sesungguhnya,” pungkasnya.
APPMBGI terbuka untuk kolaborasi lebih luas dengan pemerintah pusat dan daerah, Badan Gizi Nasional, kementerian teknis, BUMN, serta mitra swasta dan Internasional yang memiliki visi yang sama.