Anak-anak Gaza Sekarat karena Kedinginan dan Kurang Gizi, Israel Blokir Vaksin dan Bantuan
Israel memblokir vaksin polio untuk anak-anak, meskipun terdapat 622 anak di bawah usia 10 tahun yang menderita penyakit tersebut.
Di Gaza, Palestina, anak-anak harus menghadapi kematian akibat kedinginan, kekurangan gizi, dan rentan akan penyakit. Hal ini terjadi karena genosida dan blokade Israel yang terus-menerus berlangsung.
Dr. Marwan Al-Hams, direktur rumah sakit lapangan di Kementerian Kesehatan Gaza mendesak para pemimpin Arab, muslim, dan dunia untuk campur tangan dan menghentikan genosida dan segera mengizinkan masuknya bantuan makanan sehat dan air bersih ke Gaza.
Al-Hams mengonfirmasi bahwa 32 anak meninggal akibat musim dingin. Sementara lebih banyak lagi anak-anak yang meninggal akibat malnutrisi atau kurang gizi akibat kurangnya makanan di sana. Di sisi lain, menurutnya bahan pengawet makanan dalam makanan kaleng dapat menyebarkan penyakit di antara anak-anak, dan terkadang menyebabkan kematian, jelas Al-Hams dalam wawancara dengan Aljazeera.
Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan memblokir masuknya truk bantuan kemanusiaan di Gaza.
Dilansir Quds News Network, Kamis (10/4), Israel juga memblokir vaksin polio untuk anak-anak, meskipun terdapat 622 anak di bawah usia 10 tahun yang menderita penyakit tersebut.
Al-Hams memperingatkan hal ini dapat memicu wabah penyakit di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Mesir, dan Lebanon. Ia menuntut perbatasan terbuka agar memungkinkan vaksin, makanan, dan susu untuk penduduk Palestina yang sangat membutuhkan itu.
Kepadatan penduduk di antara keluarga pengungsi menyebarkan epidemi seperti diare dan hepatitis. Hampir 300.000 orang dari Rafah kini berlindung di Khan Younis. Sementara penduduk Gaza Utara mengungsi ke Kota Gaza. Menurutnya, air kotor dan gizi buruk membuat penyakit hepatitis sangat sulit diatasi, bahkan mustahil.
Tentara Israel menghancurkan lebih dari 60.000 saluran pasokan air dan enam pabrik pengolahan air limbah. Melumpuhkan sistem air dan sanitasi Gaza.
Krisis semakin parah karena sangat kekurangan bahan bakar. Sehingga menyebabkan kota-kota tidak dapat mengoperasikan peralatan yang tersisa. Selama invasi ke Khan Younis, pasukan Israel dengan sengaja menargetkan dan menghancurkan pompa air, truk pembuangan limbah, dan seluruh infrastruktur air kota.
Sekitar 75% korban serangan Israel menewaskan serta melukai wanita dan anak-anak. Lebih dari 35% berusia di bawah 16 tahun, dan banyak dari mereka yang tiba di rumah sakit dengan luka bakar parah atau amputasi. Israel, kata Al-Hams, menggunakan senjata baru yang dipasok Amerika Serikat (AS), bahkan menargetkan “zona aman” seperti kamp pengungsian.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan, sejak Israel kembali melanjutkan genosida pada 18 Maret, sebanyak 1.449 penduduk Palestina yang meninggal dan 3.647 orang terluka. Parahnya, kebanyakan dari korban tersebut adalah wanita.
Al-Hams menekankan kebutuhan mendesak akan air bersih, makanan bergizi, dan pasokan medis di Gaza. Ia juga mengatakan bahwa anak-anak di sana menderita kekurangan gizi yang melemahkan kekebalan tubuh mereka.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey