FOTO: Sedihnya Anak-Anak Palestina di Jalur Gaza Dihantui Penyakit Mematikan Ini

Perang berkepanjangan menempatkan anak-anak Palestina dalam kondisi menyedihkan. Selain menderita kelaparan, mereka kini juga dihantui penyakit mematikan.

Helmi Fithriansyah
Oleh Helmi Fithriansyah - Reporter
FOTO: Sedihnya Anak-Anak Palestina di Jalur Gaza Dihantui Penyakit Mematikan Ini
Seorang anak perempuan Palestina mencari jalan di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP) (© 2025 Liputan6.com)

Peperangan berkepanjangan menempatkan anak-anak Palestina di Jalur Gaza dalam kondisi menyedihkan. Selain menderita kelaparan, mereka kini juga dihantui penyakit mematikan, yaitu meningitis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan kasus meningitis pada anak-anak di Jalur Gaza di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.

Dalam pernyataannya, WHO menyebut sejumlah faktor yang memperparah situasi kesehatan masyarakat di Gaza, antara lain sanitasi yang buruk, akses layanan kesehatan yang sangat terbatas, serta terganggunya program vaksinasi rutin.

WHO juga mengungkapkan bakteri penyebab meningitis yang menyebar melalui udara dinilai sangat berisiko, terutama bagi para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda padat tanpa ventilasi memadai.

Sejak konflik memuncak pada 7 Oktober 2023, lebih dari 2 juta warga Gaza terpaksa mengungsi, menyusul serangan militer Israel yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, hingga kini lebih dari 57.000 warga Palestina tewas, sebagian besar di antaranya merupakan perempuan dan anak-anak.

PBB juga menyebut bahwa 80% wilayah Gaza kini telah menjadi zona militer Israel, memaksa warga sipil terus berpindah-pindah ke wilayah-wilayah pengungsian yang semakin padat dan tidak memadai secara kesehatan maupun logistik.

Situasi rumah sakit di Gaza juga semakin mengkhawatirkan. Banyak fasilitas medis telah rusak atau berhenti beroperasi, sementara rumah sakit yang tersisa menghadapi lonjakan pasien, kekurangan tempat tidur, serta minimnya stok antibiotik yang dibutuhkan untuk menangani penyakit menular seperti meningitis.

WHO dan badan-badan kemanusiaan internasional mendesak akses kemanusiaan yang lebih luas dan aman untuk memasok kebutuhan dasar, termasuk obat-obatan, air bersih, serta pemulihan layanan imunisasi. Tanpa intervensi segera, krisis kesehatan anak di Gaza dikhawatirkan akan terus memburuk.

Potret Anak-Anak Palestina di Jalur Gaza Dihantui Penyakit Meningitis

Meningitis Ancam Kesehatan Anak-anak di Gaza
Seorang anak perempuan Palestina mencari jalan di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Seorang anak perempuan Palestina mencari jalan di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP)

Meningitis Ancam Kesehatan Anak-anak di Gaza
Badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfokus pada masalah kesehatan masyarakat internasional, World Health Organization (WHO), menyebut bahwa kasus meningitis pada anak di Gaza mengalami kenaikan. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Anak-anak beraktivitas di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP)

Meningitis Ancam Kesehatan Anak-anak di Gaza
Perwakilan WHO di wilayah Palestina mencatat sanitasi yang buruk, akses layanan kesehatan yang terbatas, serta adanya gangguan pada program vaksinasi rutin jadi faktor penyebab kenaikan. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Seorang anak beraktivitas di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP)

Meningitis Ancam Kesehatan Anak-anak di Gaza
WHO juga menjelaskan bahwa bakteri meningitis yang menyebar di udara dapat menular dan berbahaya bagi warga Gaza yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Anak-anak tampak berada di dekat tenda pengungsiannya yang berdiri di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP)

Meningitis Ancam Kesehatan Anak-anak di Gaza
Diketahui, sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 2 juta orang atau hampir seluruh penduduk Gaza harus mengungsi. Hingga kini, ada lebih dari 57.000 warga Palestina tewas sejak perang antara Israel dan milisi Hamas memanas pada Oktober 2023 lalu. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Anak-anak tampak berada di dekat tenda pengungsiannya yang berdiri di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP)

Meningitis Ancam Kesehatan Anak-anak di Gaza
Serangan Israel yang menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza menyebabkan sejumlah krisis, termasuk kesehatan anak dan kelaparan. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebut, kini, 80% wilayah Gaza telah menjadi zona militer Israel---sebuah situasi yang memaksa penduduk Gaza berpindah ke kawasan pengungsian. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Anak-anak bermain di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP)

Meningitis Ancam Kesehatan Anak-anak di Gaza
Di sisi lain, beberapa rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Kondisi tempat tidur yang penuh dan ketersediaan antibiotik yang terbatas, membuat rumah sakit kesulitan untuk menampung korban lonjakan. (Eyad BABA/AFP) © 2025 Liputan6.com

Anak-anak bermain di antara reruntuhan bangunan yang dihantam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza tengah, pada 10 Juli 2025. (Eyad BABA/AFP)

Rekomendasi