Pakar Dorong Peran Indonesia di Asia-Eropa sebagai Penggerak Agenda Global

Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penghubung, tetapi juga penggerak agenda strategis dalam kerja sama Asia-Eropa, dengan fokus pada tantangan global dan penguatan posisi ASEAN.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pakar Dorong Peran Indonesia di Asia-Eropa sebagai Penggerak Agenda Global
Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi non-blok Indonesia, menunjukkan pemahaman mendalam terhadap risiko Kebijakan Luar Negeri Bebas Aktif yang diwarisi para pendiri bangsa. (Planet Merdeka)

Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menekankan pentingnya Indonesia mengambil peran lebih dari sekadar penghubung dalam kerja sama Asia-Eropa. Indonesia diharapkan mampu menjadi penggerak agenda strategis di kancah global. Hal ini disampaikan Rezasyah dalam keterangannya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (2/5).

Menurutnya, untuk mewujudkan peran tersebut, Indonesia harus terlebih dahulu memahami berbagai tantangan bersama yang akan dihadapi hingga tahun 2030. Tantangan utama meliputi perubahan iklim, persaingan dalam mendapatkan dan mengolah energi terbarukan, serta ketersediaan bahan langka. Pemahaman mendalam ini menjadi kunci dalam merumuskan strategi kerja sama yang efektif.

Selain itu, penguatan posisi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berkualitas tinggi dengan tata kelola yang baik juga krusial. Langkah ini akan mempercepat proses kerja sama antara Asia dan Eropa. Indonesia juga perlu meyakinkan forum ASEM mengenai implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pasifik.

Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan global yang memerlukan respons strategis dalam kerja sama Asia-Eropa. Perubahan iklim menjadi isu mendesak yang membutuhkan solusi bersama dari kedua benua. Selain itu, persaingan ketat dalam memperoleh dan mengolah sumber energi terbarukan juga menjadi fokus utama. Ketersediaan bahan langka turut menambah kompleksitas tantangan yang ada.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Indonesia perlu memperkuat fondasi regional melalui ASEAN. Penguatan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang berkualitas tinggi adalah langkah vital. Ini harus ditopang oleh tata kelola yang baik dan transparan. Dengan demikian, ASEAN dapat menjadi mitra yang lebih solid dalam kerja sama Asia-Eropa.

Rezasyah juga menyoroti pentingnya Indonesia meyakinkan forum Asia-Europe Meeting (ASEM) terkait kinerjanya. Implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pasifik harus dipastikan berjalan efektif, dengan prinsip keterbukaan, inklusivitas, dan sentralitas ASEAN. Kerja sama pembangunan mesti sejalan dengan penciptaan lingkungan keamanan yang kondusif di kawasan. Hal ini akan memperkuat kepercayaan mitra Eropa terhadap komitmen Indonesia.

Posisi geografis Indonesia yang strategis, sebagai "jembatan" antara Asia dan Eropa, dapat dioptimalkan lebih jauh. Rezasyah menyebutkan bahwa Indonesia memiliki daya tawar tinggi berkat luas wilayahnya. Jaringan pelabuhan laut dan udara yang tersebar di banyak pulau juga menjadi aset berharga.

Namun, potensi ini belum sepenuhnya termanfaatkan. Agar peran Indonesia lebih signifikan, negara ini perlu aktif mengupayakan terbentuknya agenda kerja sama yang inovatif. Mendorong isu-isu strategis seperti ekonomi digital dan pembangunan berkelanjutan adalah langkah yang tepat. Dengan kinerja yang lebih tinggi dari standar saat ini, posisi Indonesia dalam ASEM akan semakin kuat.

Di tengah kondisi multilateralisme global yang melemah, relevansi ASEM justru tetap kuat. Konflik di Timur Tengah dan sikap Amerika Serikat yang kerap mengancam keamanan negara lain menjadi pemicu melemahnya kerja sama global. Namun, ASEM berhasil mempertahankan perannya sebagai forum dialog penting.

Kelangkaan energi serta potensi meluasnya perang mendorong negara-negara Asia dan Eropa untuk meningkatkan koordinasi. Mereka berupaya lebih mendalam dalam menjaga kesepakatan yang telah ada. ASEM telah menunjukkan kualitasnya sebagai forum dialog yang efektif, terutama ketika institusi lain seperti WTO mengalami kebuntuan.

Forum ini menyadari pentingnya koordinasi cepat agar tidak kehilangan pengaruh di mata dunia. Oleh karena itu, ASEM terus berupaya menjadi platform yang responsif dan relevan. Ini menunjukkan bahwa kerja sama regional dan antar-benua masih sangat dibutuhkan untuk stabilitas global.

Untuk memperkuat konektivitas Asia-Eropa di sektor perdagangan, investasi, dan teknologi, Turki dinilai dapat menjadi model. Negara tersebut berhasil mengoptimalkan posisi geografisnya sebagai penghubung strategis Eurasia.

Keberhasilan Turki menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat, posisi geografis dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif. Indonesia, dengan posisi maritimnya yang strategis, memiliki potensi serupa. Mengadopsi pendekatan serupa dapat membantu Indonesia meningkatkan peran sebagai penggerak ekonomi dan inovasi di kawasan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi