Militer Israel Akhirnya Akui Data Pihak Palestina Benar, Jumlah Korban Tewas di Gaza Lebih dari 70.000
Militer Israel akhirnya mengakui selama ini data dari Kementerian Kesehatan Gaza benar tentang jumlah korban tewas selama perang.
Militer Israel untuk pertama kalinya mengakui angka yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza yang menunjukkan bahwa lebih dari 70.000 warga Palestina tewas selama perang di wilayah tersebut, menurut sebuah laporan.
Dilansir the Independent, Kamis (29/1), Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan 71.667 orang telah tewas sejak operasi militer Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, termasuk 492 orang yang tewas sejak kesepakatan gencatan senjata difinalisasi pada Oktober lalu.
Sumber-sumber dari militer Israel (IDF) mengatakan kepada Haaretz bahwa angka korban tewas tersebut kini telah diterima oleh pejabat militer. Data itu dianggap andal oleh organisasi kemanusiaan, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Jumlah Sebenarnya Jauh Lebih Tinggi
Jumlah tersebut mencakup korban yang tewas langsung akibat tembakan Israel, tidak termasuk mereka yang meninggal karena penyebab lain seperti kelaparan. Sejumlah studi menunjukkan jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan 171.343 orang terluka akibat tembakan Israel, atau sekitar 8,1 persen dari total populasi Gaza.
Militer Israel tidak memberikan komentar saat dimintai tanggapan oleh The Independent.
Catatan Kementerian Kesehatan Gaza mengidentifikasi hampir seluruh korban menggunakan nama dan nomor identitas, namun tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil. Menurut Haaretz, militer Israel saat ini sedang menganalisis data korban tewas tersebut untuk menghitung berapa banyak yang diyakini sebagai kombatan dan berapa yang merupakan warga sipil.
40 Persen Lebih Banyak
Sebuah studi yang dilakukan oleh Profesor Michael Spagat dari University of London menyebutkan lebih dari 75.000 orang tewas selama perang tersebut hingga Januari 2025. Pada saat itu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban tewas sedikit di atas 45.600 orang, yang mengindikasikan angka resmi tersebut menghitung lebih rendah sekitar 40 persen dari total sebenarnya.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet pada Januari 2025 juga menyimpulkan bahwa jumlah korban tewas sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan angka yang tercatat.
Kekerasan terus berlanjut di Gaza meski gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada Oktober tahun lalu. Dua warga Palestina kembali tewas di wilayah timur Khan Younis pada Kamis, menurut keterangan tenaga medis, di area yang berdekatan dengan lokasi operasi militer Israel.
Israel Batasi Jumlah Warga Palestina Masuk ke Gaza
Situasi ini terjadi saat Israel dan Hamas bersiap memasuki tahap kedua gencatan senjata, menyusul ditemukannya jasad sandera Israel terakhir yang masih berada di Gaza pada Senin lalu, yakni polisi bernama Ran Gvili.
Israel menyatakan telah menyetujui pembukaan kembali perlintasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir—jalur utama keluar-masuk warga Palestina—yang sebagian besar ditutup sejak Mei 2024 ketika pasukan Israel mengambil alih sisi Palestina dari perlintasan tersebut.
Perlintasan Rafah seharusnya dibuka pada tahap pertama gencatan senjata, namun pemerintah Israel menjadikannya bersyarat dengan upaya Hamas untuk mengembalikan jasad Gvili.
Militer Israel berniat membatasi jumlah warga Palestina yang diizinkan masuk ke Gaza untuk memastikan lebih banyak orang yang keluar daripada yang masuk, demikian dilaporkan Reuters dengan mengutip tiga sumber.