Agresi Israel Berlanjut, Jumlah Korban Tewas Gaza Tembus 72.938 Jiwa
Agresi rezim Israel di Jalur Gaza terus memakan korban jiwa. Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas Gaza telah mencapai 72.938 orang, dengan ribuan lainnya terluka, memperparah krisis kemanusiaan.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah total korban tewas di Jalur Gaza telah mencapai 72.938 orang seiring berlanjutnya agresi rezim Israel terhadap wilayah tersebut. Angka tragis ini terus bertambah sejak konflik dimulai pada 7 Oktober 2023, menyebabkan penderitaan yang mendalam bagi warga sipil di Gaza.
Dalam 48 jam terakhir, tujuh orang dinyatakan syahid dan 25 lainnya mengalami luka-luka di Gaza. Mereka telah dilarikan ke berbagai rumah sakit di Gaza untuk mendapatkan perawatan medis, menunjukkan intensitas serangan yang masih berlangsung di tengah situasi kemanusiaan yang kritis.
Agresi yang dilancarkan oleh rezim Israel sejak 7 Oktober 2023 ini didukung penuh oleh Amerika Serikat. Konflik ini telah menyebabkan kehancuran infrastruktur dan krisis kemanusiaan yang parah, dengan dampak jangka panjang terhadap penduduk Gaza.
Eskalasi Korban di Jalur Gaza
Kantor Berita Sama, mengutip data dari Kementerian Kesehatan Gaza, melaporkan peningkatan signifikan jumlah korban. Sejak gencatan senjata diumumkan pada 11 Oktober 2025, sebanyak 929 orang telah gugur di Gaza dan 2.811 orang lainnya mengalami luka-luka. Sumber lain menyebutkan 922 orang tewas dan 2.786 terluka sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025.
Selain itu, 781 jenazah korban juga telah berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Upaya evakuasi ini menunjukkan skala kehancuran dan banyaknya korban yang tertimbun puing-puing. Total keseluruhan korban luka sejak 7 Oktober 2023 mencapai 172.919 orang.
Angka-angka ini mencerminkan dampak kemanusiaan yang sangat besar akibat konflik berkepanjangan di Jalur Gaza. Setiap hari, warga sipil terus menjadi korban dari kekerasan yang tak berkesudahan. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional untuk menghentikan penderitaan.
Latar Belakang Konflik dan Gencatan Senjata
Rezim Israel memulai operasi militer besar-besaran terhadap Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023. Tindakan ini dilakukan dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, yang menyediakan bantuan militer dan politik. Tujuan awal Israel adalah menghancurkan gerakan Hamas dan mengembalikan tahanan Israel yang ditahan.
Namun, Israel gagal mencapai tujuan utamanya tersebut melalui jalur perang, sehingga akhirnya terpaksa menyetujui gencatan senjata dengan Hamas. Kesepakatan gencatan senjata diharapkan dapat membawa sedikit jeda bagi warga Gaza yang telah lama menderita.
Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, rezim Israel menolak melaksanakan beberapa ketentuan penting dalam perjanjian tersebut. Israel terus melanjutkan serangannya terhadap Jalur Gaza, mengabaikan kesepakatan yang telah dicapai. Situasi ini memperburuk kondisi kemanusiaan dan menghambat upaya perdamaian yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews