Organisasi Dokter Lintas Batas atau Doctors Without Borders (MSF) mendesak Uni Eropa menekan Israel agar menghentikan pembantaian di Gaza. Sekjen MSF, Christopher Lockyear membacakan surat terbuka berisi tuntutan tersebut dalam konferensi pers, ditujukan pada para pemimpin Uni Eropa, seperti dilaporkan Anadolu.
"Pesan kami kepada para pemimpin ini sederhana. Kami mendesak kalian menggunakan semua alat politik, ekonomi, dan diplomatik untuk memberikan tekanan nyata kepada Israel agar menghentikan pembantaian di Gaza dan mengizinkan bantuan kemanusiaan tanpa hambatan," jelas Lockyear, dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (17/6).
Lockyear mengatakan parahnya situasi di Gaza merupakan "bukti kegagalan nyata tanggung jawab moral dan politik," serta mendesak Eropa dan negara-negara lain untuk menunjukkan solidaritas "yang berakar pada tindakan dan pertanggungjawaban."
"Berapa banyak lagi anak-anak, perempuan dan laki-laki yang harus dibunuh atau ditarik dari reruntuhan sebelum Anda bertindak? Para pemimpin Eropa, apakah Anda akan terus terlibat melalui ketidakpedulian Anda? Apakah Anda akan terus mengeluarkan pernyataan kosong tentang keprihatinan atas situasi di Gaza sambil mengirimkan senjata yang membunuh dan melukai anak-anak yang kita rawat setiap hari?" tegasnya.
Tim MSF di lapangan, lanjutnya, menggambarkan situasi di Gaza sebagai "lebih buruk dari neraka di bumi," karena rumah, rumah sakit, pasar, jaringan air, jalan, dan kabel listrik telah dihancurkan oleh pasukan Israel.
Ia menambahkan, ini adalah serangan yang "tidak berdiri sendiri" tetapi merupakan bagian dari "pengabaian sistematis terhadap hukum humaniter internasional."
Dia menegaskan, satu-satunya jalur kehidupan yang tersisa bagi Gaza yaitu bantuan kemanusiaan, telah "dipersenjatai" Israel dan dialihkan untuk melayani tujuan militer dan politik, seraya menekankan bantuan adalah "kewajiban hukum" dan "bukan alat tawar-menawar."
Israel telah membunuh ratusan warga Palestina di Gaza yang tengah menunggu bantuan kemanusiaan yang disalurkan lembaga buatan AS-Israel, Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang kontroversial.
“Israel secara sistematis menghancurkan kondisi yang diperlukan bagi kehidupan warga Palestina di Gaza. Bencana ini sengaja ditimbulkan oleh keputusan manusia, diperpanjang dan dimungkinkan oleh komunitas internasional yang belum memiliki keberanian dan ketegasan untuk menghentikannya,” tegasnya.
Koordinator tanggap darurat MSF yang meninggalkan Gaza 10 hari lalu, Omar Ebeid menggambarkan kondisi di Gaza penuh dengan suara pesawat tanpa awak yang “terus-menerus”, dan bau limbah di sebagian besar wilayah. Dia juga mengungkapkan air bersih sangat langka karena jaringan air dihancurkan Israel.
"Sistem pembuangan limbah tidak berfungsi dengan baik,” kata Ebeid, seraya menunjukkan sepertiga penduduk Palestina telah mengungsi setidaknya sekali sejak gencatan senjata gagal.
Dokter Medis MSF, Virginia Moneti juga memperingatkan mereka kehabisan persediaan medis, menekankan bahwa “tidak ada cara” bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Dalam dua bulan terakhir, kami telah melihat sedikitnya tiga staf kami yang harus dirawat di rumah sakit, dan mereka sendiri menjadi pasien,” kata Moneti.
“Ini tidak manusiawi. Jadi, kami benar-benar menyerukan tindakan. Sekarang, kami membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk memasuki Gaza. Sekarang, kami ingin ini dihentikan,” pungkasnya.