522 Kelompok Usia Sekolah di Sidoarjo Terpapar HIV, Dinkes Buka Suara

Secara kumulatif, Dinkes Kabupaten Sidoarjo mencatat 7.230 kasus HIV sejak 2001 hingga Juni 2026

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
522 Kelompok Usia Sekolah di Sidoarjo Terpapar HIV, Dinkes Buka Suara
Ilustrasi HIV/AIDS (Liputan6.com/Andri WIranuari)

Kasus HIV pada kelompok usia sekolah di Kabupaten Sidoarjo menjadi perhatian serius. Hingga 1 Juli 2026, Yayasan Delta Crisis Center (DCC) mencatat terdapat 522 orang dengan HIV (ODHIV) yang berasal dari kelompok usia sekolah, mulai anak usia dini hingga mahasiswa.

Direktur Program DCC, Ferry Efendi, mengungkapkan dari total 7.129 ODHIV yang tercatat di Kabupaten Sidoarjo, sebanyak 522 orang berada dalam rentang usia sekolah. Rinciannya meliputi sekitar 13 anak usia PAUD/TK, 44 anak usia SD hingga SMP sederajat, serta 465 remaja dan dewasa muda usia SMA sederajat hingga mahasiswa.

Menurut Ferry, penularan HIV pada kelompok usia tersebut tidak berasal dari satu faktor saja. Kasus yang ditemukan merupakan akumulasi dari berbagai jalur penularan, seperti transmisi dari ibu ke anak, penggunaan jarum suntik pada penyalahgunaan narkotika, hingga hubungan seksual berisiko.

"HIV hanya menular melalui darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, dan ASI. Karena itu masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang benar agar memahami cara penularan maupun pencegahannya," ujar Ferry.

 

Penjelasan Dinkes

Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mengingatkan agar angka 522 tersebut tidak dimaknai sebagai jumlah pelajar yang saat ini masih aktif bersekolah dan hidup dengan HIV.

Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakshmie Herawati Yuwantina, menjelaskan data tersebut merupakan akumulasi berdasarkan kelompok usia, mulai anak usia dini hingga mahasiswa, yang dihimpun selama bertahun-tahun.

Lakshmie mengatakan Dinkes menggunakan klasifikasi berbeda untuk kelompok pelajar, yakni usia 11 hingga 17 tahun. Berdasarkan pencatatan Dinkes, terdapat 60 kasus HIV pada kelompok usia tersebut secara kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah itu, tujuh orang telah meninggal dunia, sementara 53 lainnya masih hidup dan mendapatkan pendampingan.

"Kalau pelajar kami klasifikasikan usia 11 sampai 17 tahun. Berdasarkan data Dinkes, jumlahnya 60 kasus secara kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah itu, tujuh orang telah meninggal dunia sehingga saat ini terdapat 53 orang yang masih hidup dan menjalani pendampingan," kata Lakshmie.

Ia menegaskan perbedaan angka antara DCC dan Dinkes muncul karena perbedaan metode pengelompokan data. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tidak menarik kesimpulan bahwa terdapat 522 pelajar aktif di sekolah yang hidup dengan HIV.

Selain kelompok usia 11–17 tahun, Dinkes juga mencatat 117 kasus HIV pada anak usia 0–10 tahun sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 35 anak meninggal dunia, 50 anak berstatus lost to follow-up (LFU), sedangkan 32 anak masih menjalani terapi antiretroviral (ARV).

Menurut Lakshmie, seluruh pasien yang masih menjalani terapi memperoleh pendampingan dari tenaga kesehatan bersama komunitas untuk memastikan kepatuhan dalam mengonsumsi obat sekaligus mengurangi stigma terhadap ODHIV.

"Pendampingan dilakukan agar mereka tetap rutin menjalani terapi dan stigma di masyarakat dapat terus ditekan," ujarnya.

Ia menambahkan, kepatuhan menjalani terapi ARV sangat penting karena mampu menekan jumlah virus hingga mencapai kondisi undetectable. Dengan kondisi tersebut, risiko penularan HIV kepada orang lain dapat ditekan secara signifikan.

Secara kumulatif, Dinkes Kabupaten Sidoarjo mencatat 7.230 kasus HIV sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari total tersebut, sebanyak 1.708 pasien meninggal dunia, sementara 810 lainnya berstatus lost to follow-up, terdiri atas 565 orang berdomisili di luar Kabupaten Sidoarjo, 52 orang menghentikan pengobatan, dan 193 orang belum berhasil ditemukan.

Rekomendasi