Suku Bunga The Fed Naik, Modal Asing Berpotensi Kabur dari RI

Suku Bunga The Fed naik 25 bps ke 3,75%–4%. Ekonom menilai potensi capital outflow dari Indonesia dan tekanan pada Rupiah. Ini pandangan para analis.

Arief Rahman H
Oleh Arief Rahman H - Reporter
Suku Bunga The Fed Naik, Modal Asing Berpotensi Kabur dari RI
Ketua Dewan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh berbicara selama konferensi pers di Federal Reserve di Washington. Rabu, 29 Juli 2026. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4%. Kenaikan Suku Bunga The Fed ini dinilai membuka peluang keluarnya dana asing dari Indonesia (capital outflow) dan menambah tekanan pada nilai tukar Rupiah.

Kepala Makroekonomi Indef, Rizal Taufikurrahman, menilai perubahan suku bunga acuan AS langsung memengaruhi perhitungan investor global atas aset berdenominasi Rupiah. Imbal hasil yang meningkat di AS membuat investor asing menuntut kompensasi risiko lebih tinggi ketika menempatkan dana di Indonesia.

"Bagi investor, kenaikan Fed Rate mengubah kalkulasi risk-return aset Indonesia. Investor asing akan menuntut yield dan premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset Rupiah, sehingga arus modal menjadi lebih sensitif terhadap stabilitas Rupiah, kredibilitas fiskal, dan prospek ekonomi domestik," kata Rizal saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (17/9/2026).

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia, Teuku Riefky, sependapat bahwa tekanan terhadap Rupiah bisa menguat. Namun, ia memperkirakan dorongan capital outflow cenderung bersifat sementara dan tidak berdampak langsung pada penyaluran kredit.

"Naiknya suku bunga the Fed memicu naiknya capital outflow yang akan mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah. Pengaruh terhadap kredit Indonesia tidak ada dampak langsung, nampaknya tidak akan naik kredit," urainya.

Jika Rupiah Tembus Rp 18.000, BI Bisa Naikkan Bunga Acuan

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, memperkirakan penguatan Dolar AS terhadap Rupiah masih berlanjut. Ia menilai, apabila pelemahan Rupiah kembali menembus ambang tertentu, Bank Indonesia (BI) bisa mempertimbangkan penyesuaian suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas.

"Kalau Rupiah masuk lagi ke atas Rp 18.000, BI mungkin akan berpikir lagi untuk menaikan suku bunga acuannya dan ini akan berpengaruh ke kenaikan suku bunga kredit, obligasi, ekonomi Indonesia bisa mengalami tekanan," ucap dia.

Ariston menambahkan, kenaikan imbal hasil aset di AS berpotensi mengubah preferensi investasi global. Kondisi ini dapat memicu pergeseran penempatan dana asing.

"Investor asing mungkin bisa lebih memilih memarkirkan uangnya ke aset-aset AS karena tingkat imbal hasilnya naik," sambung dia.

Suku Bunga The Fed Naik, FOMC Sepakat

Kenaikan suku bunga The Fed ini merupakan yang pertama dalam tiga tahun terakhir, disertai sinyal bahwa peluang pengetatan lanjutan masih terbuka pada tahun berjalan.

Keputusan yang sudah diantisipasi pasar itu disetujui secara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC), menempatkan federal funds rate pada kisaran 3,75%–4%.

"Inflasi masih tinggi," kata komite dalam pernyataan singkat setelah rapat, dikutip dari CNBC, Kamis (17/9/2026).

"Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju target Komite sebesar 2%. Komite akan mewujudkan stabilitas harga."

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan urgensi penurunan inflasi yang berkelanjutan. "Inflasi terlalu tinggi, terlalu lama," ujar Warsh.

Menurutnya, The Fed harus memastikan tren inflasi inti bergerak menuju target dengan jelas dan cukup cepat. "Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju tujuan kita dengan jelas dan pada kecepatan yang memadai," katanya.

"Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi."

Rekomendasi