Para ahli bedah yang bekerja di Rumah Sakit Eropa dan al-Aqsa di Jalur Gaza mengungkapkan, Israel menggunakan senjata 'tak kasat mata' untuk membunuh anak-anak. Senjata ini menyebabkan luka parah akibat serpihan ‘fragmentasi’ yang menurut ahli sengaja dirancang untuk memaksimalkan jumlah korban.
Dilansir The Guardian, senjata buatan Israel yang dirangkai untuk menyebarkan serpihan logam dalam jumlah besar menyebabkan cedera yang mengerikan bagi warga sipil di Gaza. Senjata itu secara tidak proporsional melukai anak-anak.
Banyak dokter yang mengatakan mayoritas penyebab kematian, amputasi, dan luka permanen yang dialami anak-anak Gaza adalah tembakan rudal dan peluru yang dipenuhi logam tambahan yang sengaja dirancang untuk terfragmentasi menjadi serpihan-serpihan kecil.
Dokter relawan di dua rumah sakit di Gaza mengatakan sebagian besar operasi yang mereka lakukan adalah anak-anak yang terkena serpihan yang sangat kecil dan nyaris tak terlihat dari luar. Namun, serpihan tak kasat mata itu menyebabkan kerusakan yang luar biasa di dalam tubuh. Amnesty International menyatakan senjata-senjata tersebut tampaknya sengaja dirancang untuk memaksimalkan jumlah korban jiwa.
“Sekitar setengah dari pasien yang saya tangani adalah anak-anak. Kami banyak menemui luka-luka serpihan kecil, yang sangat kecil hingga bisa dengan mudah terlewat saat memeriksa pasien. Jauh lebih kecil dari apa pun yang pernah saya lihat sebelumnya, tetapi menyebabkan kerusakan luar biasa di dalam tubuh,” kata Feroze Sidhwa, ahli bedah trauma dari California yang pernah bekerja di Rumah Sakit Eropa di Gaza, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (3/6).
Para ahli senjata mengatakan serpihan logam dan luka-luka yang dihasilkan konsisten dengan senjata buatan Israel, berbeda dengan senjata konvensional yang digunakan untuk menghancurkan gedung. Mereka mempertanyakan mengapa senjata seperti ini digunakan di area padat penduduk sipil.
The Guardian mewawancarai enam dokter asing yang pernah bekerja di dua rumah sakit di Gaza, Rumah Sakit Eropa dan al-Aqsa, dalam tiga bulan terakhir. Mereka semua melaporkan telah melihat luka-luka serius akibat senjata “fragmentasi,” yang menyebabkan angka amputasi yang mengkhawatirkan sejak perang dimulai.
“Anak-anak lebih rentan terhadap luka tembus karena ukuran tubuh mereka lebih kecil. Organ vital mereka lebih kecil dan lebih mudah rusak. Jika anak mengalami luka pada pembuluh darah, karena ukurannya sudah sangat kecil, sulit sekali untuk diperbaiki. Arteri paha anak kecil, misalnya, ukurannya hanya setebal mi. Sangat kecil. Jika menyambung kembali dan mempertahankan anggota tubuh yang rusak, maka akan sangat sulit,” kata Sidhwa.
Advertisement
Tulang Hancur Total
Mark Perlmutter, seorang ahli bedah ortopedi dari North Carolina, bekerja di rumah sakit yang sama dengan Sidhwa mengatakan, “Luka paling umum yang kami lihat adalah luka masuk dan luka keluar seukuran satu atau dua milimeter.”
“Rontgen menunjukkan tulang yang hancur total dengan lubang kecil di satu sisi dan lubang kecilnya lainnya di sisi yang berlawanan, dan tulang yang tampak seperti dilindas truk besar. Anak-anak yang kami operasi sebagian besar mengalami luka semacam itu.”
Perlmutter mengatakan anak-anak yang terkena beberapa pecahan kecil sering kali meninggal, dan banyak yang selamat namun harus kehilangan anggota tubuh.
Advertisement
Tersebar ke Segala Arah
Senjata dengan fragmentasi tambahan yang digunakan Israel adalah peluru M329. Proyektil ini memiliki panjang 750 mm dan berat 27 kg. mengandung enam submunisi, masing-masing berisi bahan peledak yang dibungkus dalam lapisan ‘fragmentasi’ yang terdiri dari kubus tungsten.
Saat meledak, lapisan ini pecah dan kubus tersebut tersebar ke segala arah dalam radius 20 meter.
“Kubus dan bola logam adalah penyebab utama fragmentasi dari amunisi ini. Sementara casing peluru hanya berkontribusi sedikit. Kebanyakan artileri atau bom konvensional mengandalkan pecahan dari casing, bukan lapisan tambahan,” jelas Trevor Ball, mantan teknisi penjinak bahan peledak Angkatan Darat Amerika Serikat (AS).
Ball mengatakan, kubus logam yang ditemukan Adusumilli umumnya terdapat pada senjata buatan Israel seperti beberapa jenis rudal Spike yang diluncurkan dari drone. Ia juga menyatakan luka dengan lubang masuk kecil sesuai dengan bom meluncur dan peluru tank yang dilengkapi lapisan fragmentasi seperti peluru M329 APAM. Peluru tersebut biasanya dirancang untuk menembus bangunan.
Advertisement
Ditemukan Sejak 2009
Amnesty International pertama kali mengidentifikasi amunisi dengan kubus logam di Gaza pada 2009.
“Mereka (senjata) tampaknya dirancang untuk menyebabkan cedera maksimal, dan dalam beberapa hal, tampak sebagai versi yang lebih canggih dari paku atau mur dan baut yang kerap kali digunakan kelompok bersenjata dalam roket atau bom bunuh diri,” ungkap Amnesty dalam laporannya.
Seorang ahli senjata lainnya, yang tidak ingin disebutkan namanya karena bekerja untuk pemerintah AS, mempertanyakan penggunaan senjata seperti itu di area padat penduduk di Gaza.
“Klaimnya adalah bahwa senjata ini lebih presisi dan membatasi jumlah korban di area kecil. Tapi jika digunakan di daerah yang padat penduduk di tempat terbuka tanpa perlindungan, militer seharusnya tahu bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil,” jelas sumber ini.
Seorang dokter UGD asal AS yang bekerja di Gaza tengah, mengatakan bahwa tenaga medis terus menangani luka tusuk dalam akibat serpihan. Ia pernah merawat anak yang mengalami luka di jantung dan pembuluh darah utama, serta penumpukan darah antara tulang rusuk dan paru-paru yang menyebabkan kesulitan bernafas.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey