Utang Pinjol Warga Indonesia Capai Rp100 Triliun per Febrruari 2026
Pertumbuhan ini mencerminkan tingginya permintaan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang cepat dan fleksibel melalui platform digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan industri pinjaman daring atau pinjol (pinjaman online) per Februari 2026 tercatat tumbuh 25,75 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp100,69 triliun.
"Pada industri pinjaman daring, outstanding pembiayaan pada Februari 2026 tumbuh 25,75 persen year on year dengan nilai nominal sebesar Rp100,69 triliun," kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, dalam RDKB OJK Maret 2026, Senin (6/4).
Pertumbuhan ini mencerminkan tingginya permintaan masyarakat indonesia terhadap akses pembiayaan yang cepat dan fleksibel melalui platform digital. Meski demikian, sektor pembiayaan secara umum masih menunjukkan daya tahan yang baik di tengah dinamika ekonomi global.
Di sektor Perusahaan Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Mikro (PVML), total utang pembiayaan tercatat tumbuh 1,01 persen yoy pada Februari 2026 menjadi Rp512,14 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pembiayaan modal kerja yang meningkat 8,31 persen yoy.
Sisi Kualitas Pinjaman
"Di sektor PVML, utang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 1,01 persen year on year pada Februari 2026 menjadi Rp512,14 triliun yang didukung oleh Pembiayaan Modal Kerja yang meningkat sebesar 8,31 persen year on year," ujarnya.
Dari sisi kualitas, profil risiko perusahaan pembiayaan tetap terjaga. Rasio non-performing financing (NPF) gross berada di level 2,78 persen, sementara NPF net tercatat sebesar 0,81 persen. Selain itu, gearing ratio tercatat sebesar 2,13 kali, jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan sebesar 10 kali.
Untuk pembiayaan modal ventura, nilai pembiayaan tercatat mencapai Rp16,46 triliun atau tumbuh 0,78 persen yoy. Meski pertumbuhannya relatif terbatas, sektor ini masih berperan penting dalam mendukung pembiayaan bagi perusahaan rintisan dan usaha berkembang.
Pegadaian Melonjak, Risiko Kredit Tetap Terkendali
Agusman menyampaikan, kinerja impresif juga terlihat pada industri pegadaian. Penyaluran pembiayaan pada Februari 2026 melonjak 61,78 persen yoy menjadi Rp152,40 triliun.
Sebagian besar pembiayaan pegadaian disalurkan dalam bentuk produk gadai, dengan nilai mencapai Rp126 triliun atau setara 83,01 persen dari total pembiayaan. Hal ini menegaskan dominasi produk gadai sebagai andalan industri dalam menjangkau kebutuhan likuiditas masyarakat.
"Pembiayaan terbesar industri pegadaian ini disalurkan dalam bentuk produk gadai yaitu sebesar Rp126 triliun atau 83,01 persen dari total pembiayaan yang disalurkan oleh industri pegadaian," pungkasnya.