Kemenhub Finalisasi Strategi Atasi Arus Balik Ketapang Gilimanuk
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah mematangkan strategi untuk mengurai kepadatan arus balik Ketapang Gilimanuk pada puncak kedua 28-29 Maret, memastikan kelancaran penyeberangan dan mengurangi kemacetan.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sedang gencar memfinalisasi strategi penting guna mengelola puncak kedua arus balik Lebaran 2026. Fokus utama adalah pada periode 28-29 Maret di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, yang menjadi titik krusial penyeberangan menuju Gilimanuk. Langkah ini diambil untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas dan meminimalisir potensi kemacetan parah yang kerap terjadi saat musim mudik.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, menyampaikan bahwa berbagai pemangku kepentingan terkait telah mengadakan rapat koordinasi intensif. Pertemuan ini bertujuan untuk menyempurnakan strategi yang akan diterapkan menjelang puncak arus balik. Koordinasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan sinergi dalam penanganan lonjakan kendaraan.
Suhanan menegaskan pentingnya memprioritaskan layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk selama periode arus balik ini. Ia menekankan bahwa mekanisme Tambat-Bongkar-Berangkat (TBB) harus diimplementasikan secara cepat dan tanpa penundaan. Penerapan TBB yang efektif dan sesuai dengan kondisi lapangan diharapkan dapat mempercepat proses penyeberangan kendaraan dan penumpang.
Strategi Penguraian Kemacetan di Pelabuhan Ketapang
Untuk mengatasi antrean kendaraan, Kemenhub akan mengoptimalkan penggunaan zona penyangga dan sistem penundaan. Hal ini dilakukan berdasarkan evaluasi dari arus mudik sebelumnya, di mana antrean panjang kendaraan sempat terjadi di jalan menuju Pelabuhan Gilimanuk pada 15 Maret, dilaporkan mencapai puluhan kilometer. Sistem ini dirancang untuk mencegah penumpukan kendaraan langsung di area pelabuhan.
Zona penyangga yang telah disiapkan untuk kendaraan roda empat dan bus berlokasi di area parkir Gran Watudodol dan Bulusan. Lokasi-lokasi ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sebelum kendaraan diizinkan masuk ke area pelabuhan. Pengaturan ini sangat vital untuk menjaga kelancaran lalu lintas di sekitar akses pelabuhan.
Sementara itu, untuk kendaraan angkutan barang, zona penyangga akan dipusatkan di Sri Tanjung serta area parkir PT Pusri dan Pelindo. Pemisahan zona penyangga berdasarkan jenis kendaraan ini bertujuan untuk efisiensi dan mengurangi potensi kemacetan. Dengan demikian, alur kendaraan logistik dan penumpang dapat diatur lebih baik.
Peningkatan Kapasitas Armada Kapal Penyeberangan
Strategi Kemenhub juga mencakup peningkatan operasional kapal penyeberangan untuk arus balik Ketapang Gilimanuk. Jumlah kapal yang beroperasi akan ditingkatkan dari 28 unit pada kondisi normal menjadi 30 unit selama periode sibuk. Angka ini bahkan dapat mencapai 32 unit saat permintaan berada di puncaknya, menunjukkan kesiapan dalam menghadapi lonjakan penumpang.
Aan Suhanan menambahkan bahwa jika situasi sangat mendesak, jumlah kapal dapat ditingkatkan lebih lanjut hingga 35 sampai 40 unit. Selain itu, dua kapal pendukung dengan kapasitas angkut 60 hingga 80 kendaraan juga disiagakan. Fleksibilitas dalam penambahan armada ini menjadi kunci untuk memastikan kapasitas angkut yang memadai.
Peningkatan kapasitas armada ini merupakan langkah proaktif untuk mengantisipasi volume kendaraan yang diperkirakan akan sangat tinggi. Dengan lebih banyak kapal yang beroperasi, waktu tunggu di pelabuhan diharapkan dapat dipersingkat. Hal ini secara langsung berkontribusi pada pengalaman perjalanan yang lebih nyaman bagi para pemudik yang kembali.
Data dan Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran
Berdasarkan data dari PT ASDP Indonesia Ferry, antara H+1 dan H+3 Idulfitri, sebanyak 41.526 kendaraan telah menyeberang menuju Bali. Rinciannya mencakup 24.093 kendaraan roda dua (25 persen), 14.179 kendaraan roda empat (34 persen), 927 bus (20 persen), dan 2.327 truk (17 persen). Data ini memberikan gambaran tentang pola pergerakan kendaraan pasca-Lebaran.
PT ASDP Indonesia Ferry memproyeksikan bahwa puncak arus balik Ketapang Gilimanuk akan terjadi pada H+6 Lebaran. Tanggal yang dimaksud adalah 28 Maret 2026, yang bertepatan dengan hari Sabtu. Prediksi ini menjadi dasar bagi Kemenhub dan seluruh pihak terkait dalam menyusun dan menerapkan strategi penanganan arus balik.
Antisipasi terhadap puncak arus balik ini sangat penting untuk menghindari terulangnya kemacetan parah. Pengalaman antrean panjang di Gilimanuk sebelumnya menjadi pelajaran berharga. Oleh karena itu, semua upaya difokuskan untuk memastikan kelancaran dan keselamatan perjalanan para pemudik yang kembali ke daerah asal mereka.
Sumber: AntaraNews