Tangga ke Kamar Sudah Hilang, Kisah Pilu Bocah Korban Kebakaran Kemayoran Menyelamatkan Diri Tanpa Orangtua
AL masih merasa trauma. Mengingat peristiwa mencekam tadi malam. Ia menyelamatkan diri seorang diri tanpa pegangan orang tua.
Sepasang mata bulat milik AL menatap kosong ke arah tumpukan arang dan dinding rumah yang menghitam. Rumah dua lantai yang biasanya hangat, kini rata dengan tanah akibat amukan si jago merah yang melanda permukiman padat di kawasan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin (1/6) malam.
Terpancar rasa trauma dari bola mata bocah laki-laki yang baru saja duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar (SD) itu. Langkah kakinya perlahan mendekati sisa-sisa bangunan yang runtuh, mencoba mengingat kembali ruang demi ruang tempatnya bertumbuh.
Saat merdeka.com mendatangi lokasi kebakaran pada Selasa (2/6), AL menunjukkan sisa-sisa bagian rumahnya. Ruangan yang tersisa kini nyaris tak berbentuk lagi, hanya menyisakan puing-puing akibat terbakar.
"Sini, Sini (rumah)," kata AL saat menunjukkan rumahnya saat berbincang dengan merdeka.com di lokasi kebakaran, Kemayoran, Jakarta, Selasa (2/6).
AL menunjuk ke sebuah sudut yang telah hancur total, yang dulunya merupakan fasilitas penting bagi keluarganya. "Heeh," jawabnya lirih saat ditanya apakah area tersebut merupakan kamar mandi rumahnya.
Ketika pandangan dialihkan ke area lainnya, bocah itu hanya bisa menggelengkan kepala, seperti mengisyaratkan jika ia lupa apa bagian tersebut.
"Sini? Enggak tahu itu apaan," ujar AL dengan polosnya.
Rumah tersebut sebenarnya memiliki dua lantai sebelum api melahap tanpa ampun. AL kemudian menunjuk ke arah atas, tempat biasa melepas lelah setiap malamnya.
"Di atas," ucap AL sambil menunjuk bagian atas letak kamarnya.
Hanya ada sisa struktur yang rapuh di bagian atas, namun tangga yang biasa ia daki kini sudah tidak ada lagi untuk dilewati. "Heeh," tutur AL membenarkan keberadaan tangga yang menuju ke kamarnya itu.
Tinggal Bersama Orangtuanya dan Kakak
Konflik batin dan kesedihan mendalam tentu dirasakan oleh keluarganya yang kini harus kehilangan tempat bernaung. AL menceritakan, selama ini ia tinggal di rumah tersebut bersama dengan orang tua dan saudaranya.
"Mama, Papa, Kakak," ungkap AL.
Belum Sempat Tidur
Bencana kebakaran ini terjadi begitu cepat pada malam hari, saat sebagian warga mulai beristirahat. Bahkan, AL belum sempat memejamkan mata sama sekali sejak peristiwa mencekam itu terjadi.
"Belum (tidur)," kata AL lirih.
Sedang Bermain di Lapangan Dekat Rumah
Sebelum api berkobar hebat, AL mengaku sedang berada di luar area rumahnya tanpa teman yang menemani. "Enggak (sama teman), di situ mainnya (lapangan)," kenang AL tentang aktivitasnya sesaat sebelum bencana.
Suasana tenang malam itu mendadak berubah menjadi horor saat kepulan asap hitam dan gemuruh api mulai terlihat. Suara histeris dari warga sekitar langsung memecah keheningan malam di pemukiman padat tersebut.
"Heeh," jelas AL membenarkan adanya teriakan kebakaran malam itu.
Kobaran api dengan cepat membesar dan merembet ke bangunan lain, menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan bagi anak seusianya. "Gede," sahut AL menggambarkan ukuran api yang dilihatnya.
AL Merasa Takut
Rasa syok dan ngeri luar biasa langsung menyergap ingatan bocah berumur tujuh tahun tersebut. "Takut," aku AL jujur mengenai perasaannya malam itu.
Di tengah kepanikan massal, AL berusaha menyelamatkan diri ke area yang lebih aman di bagian depan pemukiman. "Enggak (lari) jalan (ke depan) heeh," tutur AL mengenai caranya menyelamatkan diri.
Dalam kondisi yang serba kacau dan membingungkan tersebut, AL mengaku menyelamatkan diri secara mandiri tanpa berpegangan pada orang tuanya. "Heeh. Enggak meluk siapa-siapa," ungkap AL.
Beruntung, AL sudah mendapatkan pakaian layak pakai dari bantuan yang datang ke lokasi pengungsian. "Sudah," pungkas AL yang kini hanya bisa menatap nanar sisa pendingin ruangan rumahnya yang terpanggang api sembari bergumam, "AC-nya habis."