Tragis! KPAI Sebut Ayah Kandung Diduga Ikut Aniaya Santri hingga Tewas di Sukabumi
Awalnya, Diyah lebih dulu mengatakan, jika jenazah korban dimakamkan di dekat rumah paman atau bibinya.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Diyah Puspitarini mengungkapkan bahwa ayah kandung NS (12), berinisial AS, diduga turut terlibat dalam penganiayaan terhadap anak tersebut.
Korban yang merupakan siswa SMP asal Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi itu dilaporkan mengalami dugaan kekerasan yang kini tengah menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Hal ini diungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/3).
Awalnya, Diyah lebih dulu mengatakan, jika jenazah korban dimakamkan di dekat rumah paman atau bibinya. Disana, pihaknya sempat bertemu dengan tetangga sekitar.
"Yakni keluarga Uwak, karena keluarga Uwak dari Ananda NS ini yang sangat dekat dan bahkan Ananda NS dimakamkan di dekat rumah Uwak," kata Diyah dalam rapat.
"Nah, kemudian kami bertemu dengan keluarga dan juga bertemu dengan tetangga. Kami mendapatkan informasi bahwa yang melakukan kekerasan tidak hanya ibu, tetapi ayah," sambungnya.
Keluarga Besar
Apa yang disampaikan oleh Diyah pun kemudian ditanyakan oleh Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman.
"Itu dari tetangga?," tanya Habiburokhman.
"Tetangga dan keluarga besar, Uwak. Dan itu sudah terjadi, terutama lebih intens 4 tahun terakhir? 4 tahun terakhir," jawab Diyah.
"Ini Almarhum umur berapa yang meninggalnya? 12? 13?," tanya Habiburokhman kembali.
"13," jawab singkat Diyah.
"Berarti dari umur 7? 9 tahun," tanya Habiburokhman.
"9 tahun. Ketika saya tanya pimpinan kepada keluarga dan juga tetangga, apakah tidak ada yang mengingatkan, keluarga besar mengatakan mengingatkan. Tetapi jawaban dari ayah, itu anak saya, itu urusan saya," jawab Diyah.
Kekerasan
Berikutnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini kembali bertanya soal kekerasan yang dimaksud tersebut.
"Biar tidak kelewat, bentuk kekerasannya ada disampaikan?," tanya Habiburokhman.
"Ada, pemukulan" jawab singkat Diyah.
"Dipukul ya?," tanya Habiburokhman seraya meyakinkan.
"Dipukul, ditampar. Kemudian setelah itu beberapa kali Ibu Tiri juga melakukan kekerasan dan diingatkan oleh keluarga besar alasannya sama, bahwa itu anak saya, jadi itu urusan saya," jawab Diyah.
Siswa SMP
Diketahui, Cita-cita yang mulia telah terkubur seiring dengan kepergian NS (12), seorang pelajar SMP dari Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Bocah yang dikenal sebagai santri yang rajin ini meninggal dunia dalam keadaan tubuhnya dipenuhi luka bakar, membawa serta mimpinya untuk menjadi seorang ulama.
Ayah kandung NS, Anwar Satibi (38), tidak dapat menyembunyikan kesedihannya saat mengenang harapan terbesar putra sulungnya itu. NS, yang baru saja kembali dari pondok pesantren untuk menyambut bulan suci Ramadan, memiliki cita-cita yang tinggi untuk mengabdi pada agama sebagai seorang kiai.
"Anak saya cita-citanya ingin jadi kiai, itu yang membuat saya sangat sakit. Sampai kemarin saat saya pulang dari Sukabumi, saya kasih uang 50 ribu untuk bekal di pesantren, dia sangat senang," ungkap Anwar dengan suara bergetar saat ditemui di RS Bhayangkara Setukpa Polri, Jumat (20/2).
Sebelum Meninggal Ungkap Disiksa Ibu Tiri
Kematian NS menyisakan banyak pertanyaan karena ditemukan luka melepuh di hampir seluruh tubuhnya, dari dada hingga kaki. Sebelum meninggal dunia di RSUD Jampang Kulon, korban sempat menceritakan kepada ayah dan kakek angkatnya, Isep, mengenai tindakan kejam yang ia alami.
Dalam keadaan kritis di IGD, NS memberikan pengakuan yang menggugah hati, mengklaim bahwa ia disiksa oleh ibu tirinya dengan cara dipaksa meminum air panas. Kesaksian dari Haji Isep juga mendukung pernyataan tersebut, di mana ia mengungkapkan bahwa korban secara jelas menunjuk ibu tirinya sebagai pelaku penyiksaan.
"Dia bilang itu sama mama (ibu tiri). Ada bukti videonya, itu ucapan Almarhum sendiri," tambahnya.
Hasil Autopsi yang Memilukan
Kepala RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri, Kombes Pol dr. Carles Siagian, memberikan penjelasan yang mendalam tentang keadaan fisik korban berdasarkan hasil autopsi yang telah dilakukan. Tim forensik menemukan bukti kekerasan yang disebabkan oleh benda panas pada beberapa titik vital tubuh bocah malang tersebut.
"Ditemukan luka bakar di lengan, kaki, dan punggung. Selain itu, ada luka bakar di area bibir dan hidung. Paru-parunya ditemukan sedikit membengkak, dan kami telah mengirim sampel organ ke Jakarta untuk memastikan apakah ada zat berbahaya di dalam tubuh korban," jelas dr. Carles secara rinci.
Penemuan luka di bagian bibir dan hidung ini semakin memperkuat dugaan bahwa korban mengalami paksaan ketika mengonsumsi cairan panas, sesuai dengan pengakuan yang sempat diucapkan oleh NS sebelum ia meninggal.