Sambil Tutup Mata Habiburokhman Minta Setop Tonton Video Kondisi Pelajar NS Sebelum Meninggal Dianiaya Ibu Tiri: Ya Allah, Udah Cukup!

Komisi III DPR menggelar RDPU terkait meninggalnya NS (12) di Sukabumi. Video kondisi korban diputar dalam rapat, pimpinan sidang tak kuasa menyaksikan.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Sambil Tutup Mata Habiburokhman Minta Setop Tonton Video Kondisi Pelajar NS Sebelum Meninggal Dianiaya Ibu Tiri: Ya Allah, Udah Cukup!
Sambil Tutup Mata Habiburokhman Minta Setop Tonton Video Kondisi Pelajar NS Sebelum Meninggal Dianiaya Ibu Tiri: Ya Allah, Udah Cukup! (Merdeka.com)

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman tiba-tiba meminta agar video kondisi seorang pelajar SMP dari Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang meninggal karena dianiaya ibu tiri disetop. Ia tak kuasa melihat kondisi korban NS saat dipertontonkan videonya.

"Oh ya Allah. Dah udah enggak kuat ya, cukup ya," kata Habiburokhman saat menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama keluarga NS (12), kuasa hukum, dan Kapolres Kabupaten Sukabumi pada Senin (2/3/2026).

Sebelumnya, dalam rapat tersebut, diputar video yang memperlihatkan kondisi korban sebelum meninggal dunia.

Kemudian, kuasa hukum ibu kandung NS, Mira Widyawati, menjelaskan bahwa video tersebut direkam di rumah pada pertengahan Februari.

Dalam rapat terungkap bahwa video direkam oleh ibu tiri korban dan kemudian dikirimkan kepada ayah korban sebelum diteruskan ke ibu kandungnya.

"Jadi ini yang merekam ibu tirinya, kemudian ibu tirinya kirim ke suaminya, suaminya kirim ke Ibu lisnya," jelas Mira.

Pengakuan Korban dan Hasil Autopsi

Bantah Menganiaya, Ibu Tiri di Sukabumi Buka Suara Terkait Kematian Bocah NS
Ibu tiri berinisial TR (tengah) © 2026 Liputan6.com

NS (12), pelajar SMP asal Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia dengan luka bakar di sejumlah bagian tubuhnya.

Sebelum meninggal di RSUD Jampang Kulon, korban sempat menyampaikan pengakuan kepada ayah dan kerabatnya.

Ayah kandung korban, Anwar Satibi (38), menyampaikan harapan yang pernah diutarakan putranya.

"Anak saya cita-citanya ingin jadi kiai, itu yang membuat saya sangat sakit. Sampai kemarin saat saya pulang dari Sukabumi, saya kasih uang 50 ribu untuk bekal di pesantren, dia sangat senang," ungkap Anwar saat ditemui di RS Bhayangkara Setukpa Polri, Jumat (20/2/2026).

Keterangan keluarga menyebut korban mengaku dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya. Pernyataan tersebut turut didukung kesaksian kerabat yang mendampingi korban saat berada di IGD.

"Dia bilang itu sama mama (ibu tiri). Ada bukti videonya, itu ucapan Almarhum sendiri," ujar Haji Isep.

Kepala RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri, Kombes Pol dr. Carles Siagian, menjelaskan hasil autopsi menemukan luka bakar di beberapa bagian tubuh korban.

"Ditemukan luka bakar di lengan, kaki, dan punggung. Selain itu, ada luka bakar di area bibir dan hidung. Paru-parunya ditemukan sedikit membengkak, dan kami telah mengirim sampel organ ke Jakarta untuk memastikan apakah ada zat berbahaya di dalam tubuh korban," jelas dr. Carles.

Luka di bagian bibir dan hidung disebut berkaitan dengan dugaan paparan cairan panas yang diceritakan korban sebelum meninggal dunia.

Rekomendasi