Soal Kematian NS di Sukabumi, Rieke 'Oneng' Geram : Kami Kejar Siapa Pelaku yang Renggut Hidupmu, Nak
Rieke mengimbau kepada publik untuk tetap bijak dan tidak mudah terpengaruh opini yang belum terverifikasi.
Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan,Rieke Diah Pitaloka, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya NS (12), siswa SMP asal Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Dalam pernyataan terbukanya, Rieke menyerukan agar proses hukum dikawal secara transparan dan berkeadilan.
"Nizam, maafkan kami yang tidak bisa memberi kehidupan yang seharusnya melindungimu. Insya Allah kami kawal kata-kata terakhirmu. Kami kejar siapa pelaku yang merenggut hidupmu, Nak," ujar Rieke seperti dikutip dari akun riekediahp, Senin (23/2).
Oneng sapaan akrabnya ini mengimbau kepada publik untuk tetap bijak dan tidak mudah terpengaruh opini yang belum terverifikasi.
"Jangan menghakimi jika belum pasti. Tapi kepastian hukum harus kita kawal. Kebenaran harus diungkap secara jelas," tegasnya.
Komisi III
Rieke turut menyampaikan apresiasi kepada Komisi III DPR RI yang dinilai cepat merespons kasus tersebut, khususnya kepada Ketua Komisi III, Habiburokhman. Ia meminta agar pengusutan dilakukan secara menyeluruh hingga tuntas.
Sejak duduk di bangku kelas 3 SD
Sementara itu, TR (47), ibu tiri korban, akhirnya menyampaikan klarifikasi atas berbagai tudingan yang beredar. TR membantah melakukan penganiayaan terhadap NS dan mengaku telah merawat korban sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Ia berharap proses hukum berjalan transparan dan fakta yang sebenarnya dapat terungkap.
Di sisi lain, kuasa hukum Lisnawati selaku ibu kandung NS, Mira Widyawati, membeberkan fakta baru yang dinilai memperjelas duduk perkara. Menurut Mira, selama empat tahun terakhir, kliennya kehilangan kontak dengan anaknya setelah ayah kandung membawa NS masuk pesantren.
"Selama ini dihembuskan oleh pihak bapaknya seolah-olah Ibu Lisna sudah tidak ada (meninggal), supaya NS merasa tidak punya ibu lagi. Padahal beliau masih hidup dan sehat di Cianjur," ungkap Mira kepada wartawan.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengakuan Lisnawati, komunikasi terputus secara sengaja oleh pihak ayah kandung. Selama periode tersebut, NS disebut diberi informasi bahwa ibu kandungnya telah meninggal dunia.
“Berdasarkan pengakuan Ibu Lisna, selama empat tahun belakangan mereka lost contact. Itu terjadi setelah ayahnya membawa NS masuk pesantren. Ternyata selama itu, ayahnya menghembuskan gosip kepada NS bahwa ibunya sudah meninggal dunia,” jelas Mira.
Autopsi tim dokter forensik
Dari sisi medis, hasil autopsi tim dokter forensik di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri menunjukkan adanya indikasi penganiayaan berat. Pada tubuh korban ditemukan luka bakar di permukaan kulit serta pembengkakan pada sejumlah organ dalam, termasuk jantung dan paru-paru.
"Selain luka bakar di permukaan kulit, tim forensik menemukan pembengkakan di beberapa organ dalam seperti jantung dan paru-paru," kata Mira mengutip temuan medis.