Krisis Gas Melon 3 Kg, Warga Sukabumi Selatan 'Kembali ke Zaman Dulu' Memasak Pakai Kayu Bakar

Krisis pasokan gas LPG 3 Kg di Sukabumi Selatan semakin mengkhawatirkan.

Fira Syahrin
Oleh Fira Syahrin - Reporter
Krisis Gas Melon 3 Kg, Warga Sukabumi Selatan 'Kembali ke Zaman Dulu' Memasak Pakai Kayu Bakar
Pertamina melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga menambah pasokan LPG 3 kg sebanyak 22.087 Metrik Ton atau setara dengan 7.36 juta tabung. Tambahan pasokan LPG 3 kg ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat di Lebaran 2024. (Dok. Pertamina) (@ 2024 merdeka.com)

Krisis pasokan gas LPG 3 Kg di Sukabumi Selatan semakin membuat warga resah. Di Kecamatan Jampang Tengah, masyarakat mulai menyerah dalam usaha mencari gas melon yang hilang dari pasaran selama seminggu terakhir.

Sebagai langkah terakhir, mereka terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari. Pemandangan warga yang mengangkut kayu bakar kini kembali terlihat di Desa Tanjungsari.

Kelangkaan ini terjadi pada waktu yang sangat penting, yaitu saat permintaan rumah tangga meningkat tajam menjelang libur panjang dan hari raya keagamaan.

Yayat (45), salah satu warga yang terkena dampak, mengungkapkan bahwa tidak adanya stok di pangkalan maupun warung eceran membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Meskipun merepotkan, kayu bakar menjadi satu-satunya solusi agar keluarganya tetap bisa makan.

"Mau tidak mau, karena sudah tidak ada pilihan. Kami terpaksa mencari alternatif lain untuk memasak, bahkan kembali menggunakan kayu bakar agar dapur tetap ngepul," ungkap Yayat pada Minggu (29/3/2026).

Hal serupa juga dialami oleh Usep Saepul Rohmat (31), seorang warga Kampung Cikiray. Ia mengaku telah berusaha mencari gas hingga ke daerah tetangga selama sepekan terakhir, namun selalu gagal.

"Sudah ada hampir satu pekan di sini kesulitan mendapatkan gas LPG. Sudah muter ke mana-mana, tapi kosong. Kalau ada juga langsung habis dalam sekejap karena warga sudah panik," keluh Usep.

Penyebab Harga Naik Hingga Rp 30 Ribu

Kelangkaan gas melon telah dimanfaatkan oleh sejumlah pengecer yang tidak bertanggung jawab. Di berbagai lokasi, harga gas melon mengalami lonjakan yang signifikan, mencapai Rp30.000 per tabung, yang jelas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi, Dani Tarsoni, mengonfirmasi bahwa ada peningkatan permintaan yang tidak biasa di lapangan.

"Penyebabnya banyak, mulai dari panic buying hingga permintaan tinggi karena adanya hari raya dan cuti bersama. Saat ini permintaan di lapangan terpantau naik hampir dua kali lipat," jelas Dani.

Pihak Disdagin mengklaim bahwa mereka sedang berupaya untuk memenuhi kebutuhan tambahan melalui koordinasi dengan Hiswana Migas dan SPBE. Namun, masyarakat berharap agar langkah-langkah tersebut tidak hanya menjadi rencana yang tertulis di atas kertas.

Warga mendesak agar segera diadakan operasi pasar untuk menekan harga yang semakin tidak terkendali dan mengembalikan ketersediaan gas ke pasaran agar aktivitas memasak di rumah dapat kembali normal.

Rekomendasi