Kematian NS, remaja 12 tahun pelajar SMP dari Surede, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat membuka tabir gelap keluarganya. Ibu kandung NS, Lisnawati membeberkan alasan tak bisa bertemu NS selama 4 tahun terakhir.
Sekalinya bertemu, NS sudah dijemput ajal. Dalam suasana duka yang mendalam atas kepergian NS, yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh ibu tirinya, Lisnawati kini telah resmi melaporkan mantan suaminya, AS, ke Polres Sukabumi Kota.
Laporan tersebut didasarkan pada dugaan pembiaran dan penelantaran yang berujung pada hilangnya nyawa sang anak.
Lisnawati menjelaskan bahwa keputusan untuk menjauh dari AS selama ini bukan karena kurangnya kasih sayang, tetapi disebabkan oleh trauma mendalam akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialaminya.
"Rambut saya dipotong pakai golok. Dia (AS) itu temperamental, saya sering dipukul, sering dijambak," ungkap Lisnawati dengan nada penuh kesedihan saat memberikan keterangan di Mapolres Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (25/2).
Perlakuan yang menyakitkan itu bahkan sudah dialaminya sejak masih mengandung NS. Ia mengenang saat AS mengancam akan membunuhnya sambil mengendarai sepeda motor dengan cara berbahaya. "Waktu dalam kandungan juga dia bilang, 'Sudahlah kamu meninggal saja sama anak saya', sambil bawa motornya diabrut-abrutin," tambahnya.
Advertisement
Penelantaran Anak
Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti mengungkap fakta menyedihkan. Dalam laporan nomor STPLB/106/II/2026 ini menyoroti tindakan AS yang diduga mengabaikan kesehatan NS hingga memburuk.
Terdapat bukti berupa pesan singkat yang dikirim dua hari sebelum NS meninggal, yang menunjukkan sikap tidak peduli dari sang ayah. "Ketika diminta untuk membawa anaknya ke rumah sakit karena sakit, dia menjawab belum ada waktu dan masih sibuk. Bahkan dia menyatakan, 'Kalau pun meninggal, ikhlasin saja'. Ini menunjukkan adanya pembiaran dari pihak ayah," jelas Krisna Murti.
Advertisement
7 Tahun Bersama Lisnawati, NS Tumbuh Sehat dan Bahagia
Menurut Krisna, NS yang diasuh oleh ibunya hingga berusia 7 tahun dalam keadaan sehat dan bahagia. Namun, perubahan fisik yang signifikan serta adanya luka lebam dan bakar baru terdeteksi setelah kondisi NS menjadi kritis.
Meskipun telah mengalami ketakutan selama bertahun-tahun, kematian tragis NS menjadi pemicu bagi Lisnawati untuk memperjuangkan keadilan.
Kasus ini kini mendapatkan perhatian khusus dari Komisi III DPR RI dan KPAI. "Doa yang terbaik buat anak mah," ungkap Lisnawati dengan singkat, sambil menahan tangis saat ditanya tentang harapannya untuk almarhum NS.