Puluhan ibu rumah tangga dari Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mendatangi Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk menuntut solusi atas krisis air bersih yang mereka alami selama 17 tahun. Demi menyampaikan aspirasi, mereka patungan menyewa mobil angkutan, bahkan ada yang rela menahan lapar dan membawa anak-anak ikut dalam perjalanan.
Aksi itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaan warga karena persoalan air bersih di wilayah mereka belum juga terselesaikan.
Salah seorang warga, Neni, mengaku para ibu menjadi pihak yang paling merasakan dampak krisis air karena harus memenuhi kebutuhan rumah tangga setiap hari.
"Kami bela-belain sewa mobil wara-wiri ke sini rombongan, sampai sengaja enggak makan dulu," kata Neni saat ditemui di lokasi aksi, Selasa (21/7/2026).
Ia berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan irigasi agar warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih.
"Harapan kami pemerintah segera wujudkan irigasi ini, jangan bertele-tele lagi lah. Saya jarang di Palabuhanratu, tapi pas pulang dari Arab, kondisinya kok masih begini saja," ujarnya.
Warga Terpaksa Beli Air hingga Gunakan Sumur KeruhSelama bertahun-tahun, Daerah Irigasi (DI) Citarik Somang Cikadu disebut tidak berfungsi. Akibatnya, warga yang mampu memilih menyedot air sumur, meski kualitas airnya sering keruh dan berwarna kemerahan.
Sementara itu, warga dengan keterbatasan ekonomi harus membeli air bersih yang dialirkan dari kawasan pegunungan melalui jaringan selang. Untuk layanan tersebut, mereka membayar sekitar Rp50 ribu per bulan, di luar biaya pemasangan selang dan kebutuhan operasional lainnya.
"Padahal keadaan ekonomi sekarang kan lagi sulit, jadi jujur saja bikin pusing," kata Neni.
Terpaksa Mandi dan Mencuci di SungaiBagi warga yang tidak mampu membeli air, Sungai Citarik menjadi pilihan terakhir untuk mandi dan mencuci pakaian. Namun, aktivitas tersebut menyimpan risiko karena arus sungai cukup deras.
Neni mengaku masih mengingat kejadian saat seorang anak warga sempat hanyut ketika mencuci di sungai, meski akhirnya berhasil diselamatkan.
"Ada kekhawatiran terbawa arus, kemarin saja ada warga yang sampai jatuh ke sungai. Bahkan anak Ibu Eef lagi nyuci baju sempat hanyut, untung selamat," ujarnya.
Peristiwa itu membuat sebagian warga merasa trauma setiap kali harus mengambil air atau mencuci di Sungai Citarik.
"Kejadian itu asli, bukan omong doang. Saya sampai trauma kalau harus ke Citarik," tutup Neni.