Deretan Guru Besar UI Sampaikan Amicus Curiae di Sidang Nadiem Makarim
Beberapa guru besar Universitas Indonesia hadir di Pengadilan Tipikor Jakarta untuk memberikan pendapat Amicus Curiae terkait Nadiem Makarim.
Sidang perkara dugaan korupsi dalam pengadaan laptop Chromebook dengan terdakwa mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, kini memasuki tahap akhir. Pada Selasa (9/6), sidang dilaksanakan dengan agenda pembacaan replik. Dalam kesempatan ini, sejumlah guru besar dari Universitas Indonesia (UI) hadir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta untuk menyampaikan Amicus Curiae atau sahabat pengadilan.
Guru Besar Antropologi Hukum Fakultas Hukum UI, Sulistyowati Irianto, menyatakan bahwa Amicus Curiae tersebut disampaikan sebagai bentuk inisiatif dan gerakan moral dari para akademisi yang mencermati adanya dugaan permainan hukum dalam kasus yang menimpa Nadiem Makarim.
"Dalam hukum pidana tidak boleh salah menghukum orang karena ini membatasi kebebasan yang sulit dipulihkan," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun mereka tidak ingin mengintervensi hakim, mereka merasa bahwa proses persidangan yang berlangsung selama ini menunjukkan bahwa semua tuduhan dapat dibantah. Pandangan senada disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI, Manneke Budiman, yang mengatakan bahwa perkara ini memberikan tekanan yang signifikan, baik kepada terdakwa maupun kepada majelis hakim yang menangani kasus tersebut.
Manneke menegaskan bahwa tujuan mereka bukan untuk mengintervensi proses peradilan, melainkan untuk memberikan dukungan moral kepada Nadiem dan para hakim yang terlibat.
"Fokus kami di sini justru mau memberikan dukungan moral kepada Mas Nadiem, kemudian dukungan moral kepada para hakim. Kami tahu tekanannya luar biasa," katanya.
Maka kehadiran kami di sini sebetulnya untuk mengatakan kepada hakim maupun Mas Nadiem bahwa kami ada bersama mereka."
Pernyataan ini mencerminkan komitmen para akademisi untuk mendukung keadilan dan proses hukum yang transparan, tanpa adanya tekanan yang tidak semestinya. Kehadiran mereka di Pengadilan Tipikor Jakarta merupakan upaya untuk menunjukkan solidaritas terhadap Nadiem Makarim dan majelis hakim dalam menghadapi tekanan yang ada.
Daftar Tokoh
Daftar tokoh, akademisi, dan jurnalis yang berperan sebagai Amicus Curiae mencakup sejumlah nama penting dari berbagai disiplin ilmu. Di antaranya adalah Prof. Sulistyowati Irianto, Prof. Teddy Prasetyono, dan Prof. Manneke Budiman, semua berasal dari Universitas Indonesia (UI). Selain itu, terdapat juga Prof. F. Ery Seda dan Prof. Fentiny Nugroho yang turut serta dalam daftar ini. Tokoh-tokoh lain yang juga berkontribusi adalah Prof.em. Daldiyono, Prof.em. Mayling Oey-Gardiner, dan Prof.em. Riris K. Toha Sarumpaet, yang merupakan akademisi terkemuka di UI.
Lebih lanjut, daftar ini juga mencakup nama-nama seperti Prof. Maria Farida Indrati, Prof. L Meily Kurniawidjaja, dan Prof. Bernardus Y. Nugroho, yang semuanya memiliki reputasi yang sangat baik di bidangnya. Selain itu, terdapat Prof. Em. Tri Budi W. Raharfjo dan Prof. em. Hadi Pratomo yang juga merupakan bagian dari kelompok ini. Tokoh-tokoh lain yang tidak kalah penting adalah Prof.em. Melani Budianta, Prof. Ratih Lestarini, dan Prof. Sonny Priyarsono dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Partisipasi akademisi dan jurnalis dalam kelompok ini semakin meluas dengan kehadiran Dr. Suraya Afif, Dr. Theresia Dyah Wirastri, dan Dr. L.I. Nurtjahyo, yang semuanya berasal dari UI. Selain itu, Dr. Raphaella Dewantari Dwianto dan Dr. Gabriel Andari Kristanto juga turut serta dalam memberikan pandangan mereka. Dr. V. Sutarmo Setiadji, Dr. Widyo Suwasto, dan Dr. Johannes Sutoyo melengkapi daftar ini dengan kontribusi mereka yang signifikan.
Terakhir, beberapa nama lain yang mencolok dalam daftar Amicus Curiae adalah Agnes Sri Poerbasari, Hendra Henny Andries, serta Sandrayati Moniaga dari Komnas HAM. Selain itu, Iwan Dwi Laksono dari JAMAN dan Damar Juniarto dari UPNVJ juga memberikan kontribusi yang berarti. Tak ketinggalan, ada juga nama-nama seperti Yoseph Billie Dosiwoda, Ayu Utami yang dikenal sebagai novelis, dan Agnes Aristiarini serta Maria Hartiningsih yang merupakan jurnalis senior. Semua nama ini menunjukkan keragaman dan kedalaman perspektif yang dibawa ke dalam diskusi ini.