Anggota Jaksa Penuntut Umum (JPU) Paul, mengungkap harga laptop chromebook dalam kasus Nadiem saat ini jika dijual dengan harga Rp 1 juta saja tidak bakal laku. Hal itu dikarenakan spesifikasinya yang terbatas dan harga beli yang terlampau jauh dari angka pasar. Akibatnya, jaksa meyakini negara telah dirugikan dalam pengadaanya senilai Rp 2,1 triliun.
"Seharusnya kalau ada kompetisi, harga ini akan terkoreksi menjadi murah. Tapi karena Google mengunci cuma hanya beberapa prinsipal tertentu, sehingga dengan demikian kata ahli LKPP, prinsipal akan dengan seenaknya memahalkan harga," kata Paul di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (9/6/2026).
"Dan ini terbukti, ketika ahli dari BPKP bilang bahwa laptop itu dari harga yang Rp 3 juta dalam e-katalog dimuat, ditayangkan oleh para prinsipal itu berapa? Rp 6 juta di pengadaan pusat dan Rp 8 juta di DAK," imbuh Paul.
Dengan tingginya harga laptop saat pengadaan, maka saat ini jika unit tersebut coba dijual dengan harga Rp 1 juta pun tidak akan terjual.
"Sedangkan kalau sekarang harganya berapa? Rp 1 juta pun tidak laku. Itulah sebab akibat kemahalan. Jadi dikunci pertama pada oleh Google, kemudian Google mengunci prinsipal yang akan membuat atau memproduksi laptop ini," tegas Jaksa.
Advertisement
Jawaban Nadiem Soal Harga Laptop
Ihwal harga laptop, Nadiem meyakini jaksa telah keliru. Padahal Nadiem menegaskan laptop sudah dibelinya di bawah harga pasar.
"Oke, Chromebook-nya kemahalan? Ayo kita bandingkan dengan harga pasar. Dibandingkan dengan harga pasar, menurut saksi dari jaksa sendiri, Chromebook dibeli di bawah harga pasar," kata Nadiem dalam kesempatan terpisah.
Nadiem menyebut, jaksa sengaja tak membandingkan itu dengan harga pasar melainkan angka yang diasumsikan dengan perhitungannya sendiri. Tujuannya mencari celah agar bisa ditemukan kerugiannya.
"Kerugiannya kemahalan tapi bukan berdasarkan perbandingan harga pasar, tapi kita buat asumsi bottom-up aja sendiri, dari harga produksi ditambah margin dengan asumsi sendiri. Akhirnya keluar satu angka, akhirnya dipastikan adanya kerugian. Bingung!," heran Nadiem menandasi.