Indonesia Siap Impor Minyak dan LPG dari Amerika Serikat, Nilainya Tak Main-Main
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana pun belum mau membocorkan detil rencana pembelian energi dari AS tersebut.
Indonesia menawarkan pembelian barang impor dan investasi ke Amerika Serikat (AS) senilai USD 34 miliar. Langkah ini sebagai upaya perundingan terhadap tarif resiprokal yang ditetapkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Pembelian komoditas energi seperti LPG dan minyak dari Amerika Serikat pun termasuk di dalamnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, tawaran USD 34 miliar tersebut jadi upaya agar surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat sebesar USD 18 miliar - USD 19 miliar bisa terpangkas.
"Jadi kita trade deficit terhadap Amerika Serikat USD 19 miliar, tetapi yang kita offer kepada mereka jumlahnya melebihi, USD 34 miliar. Jadi sudah dibahas mengenai rencana pembelian energi USD 15,5 miliar, pembelian barang agriculture, dan terkait rencana investasi," terangnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (3/7).
Namun, Airlangga belum mau membeberkan lebih lanjut mengenai kesepakatan dagang itu untuk pembelian barang apa saja. Termasuk pembelian energi dari Amerika Serikat senilai USD 15,5 miliar, atau setara Rp251,1 triliun (kurs Rp 16.200 per dolar AS).
Ditemui pada kesempatan sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana pun belum mau membocorkan detil rencana pembelian energi dari AS tersebut.
"Pak Menko (Airlangga) kan sudah jawabnya seperti itu. Jadi saya tidak akan melewati dari jawaban itu," ujar Dadan.
Bocoran Bahlil Soal Pembelian Minyak dan LPG
Namun sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat membocorkan rencana penambahan porsi impor minyak dan LPG dari Amerika, dengan total nilai di atas USD 10 miliar (Rp162 triliun).
Bahlil mengatakan, dia telah mendapat perintah langsung dari Prabowo, untuk melihat potensi barang apa saja yang bisa dibeli lebih banyak dari Amerika Serikat. Khususnya di sektor ESDM, dimana 54 persen daripada impor LPG berasal dari Amerika Serikat.
"Kita tahu bahwa impor minyak kita kan cukup besar. Ini yang kami lagi meng-exercise untuk kemudian dijadikan salah satu komoditas yang bisa kita beli di Amerika," ujar Bahlil di kantornya, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Impor Minyak dari AS Baru 4 Persen
Menurut perhitungannya, porsi impor minyak Indonesia dari Amerika Serikat baru sekitar 4 persen. Sejauh ini, impor minyak untuk konsumsi dalam negeri masih lebih banyak dari Singapura, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin.
"Kita akan meng-excercise (lebih banyak impor dari Amerika Serikat), sehingga bisa mengurangi defisit neraca perdagangan kita," imbuh Bahlil.
Namun, bukan berarti impor minyak dari negara-negara tersebut bakal dihentikan. "Ya tidak disetop juga. Volumenya yang mungkin dikurangi," tegas Bahlil.