Indef Ingatkan RI Perlu Perkuat Cadangan Energi di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pentingnya Indonesia memperkuat cadangan energi nasional di tengah potensi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik global.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan Indonesia untuk memperkuat cadangan energi nasional. Peringatan ini muncul menyusul insiden terbakarnya depot minyak di Kota Penza, Rusia, akibat serangan drone Ukraina pada Jumat (23/1) pagi waktu setempat. Kejadian tersebut berpotensi memicu gejolak harga minyak dunia dalam jangka pendek.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa kebakaran ini dapat mendorong kenaikan biaya impor energi bagi Indonesia. Pemerintah Indonesia perlu segera mengambil langkah antisipatif yang terukur untuk menghadapi situasi ini. Kenaikan harga minyak Brent tercatat di kisaran 1-3 persen secara harian setelah insiden serupa.
Kenaikan harga minyak utamanya didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dan eskalasi konflik, bukan karena hilangnya volume produksi global secara signifikan. Produksi minyak dunia masih di atas 102 juta barel per hari, dengan kapasitas cadangan OPEC+ yang memadai. Namun, dampaknya terhadap Indonesia tetap perlu diwaspadai.
Dampak Kenaikan Harga Minyak pada Ekonomi Nasional
Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Sekitar 60-65 persen kebutuhan BBM domestik dipasok dari luar negeri. Ketergantungan ini membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga minyak global.
Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah beban impor migas Indonesia. Beban tambahan ini diperkirakan mencapai 300-400 juta dolar AS per tahun. Kondisi ini secara langsung memengaruhi neraca pembayaran dan stabilitas fiskal negara.
Selain beban impor, kenaikan harga energi juga berpotensi memicu inflasi domestik. Komponen transportasi dan energi menyumbang sekitar 15-20 persen dalam keranjang inflasi nasional. Oleh karena itu, lonjakan harga minyak dapat berdampak signifikan pada daya beli masyarakat.
Meskipun demikian, Rizal berpendapat bahwa dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat dikelola. Hal ini berlaku selama lonjakan harga minyak bersifat sementara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5 persen menjadi bantalan.
Urgensi Penguatan Cadangan Energi dan Kebijakan Fiskal
Rizal menyoroti kondisi cadangan operasional BBM di Indonesia yang relatif terbatas. Cadangan tersebut hanya berkisar 20-25 hari konsumsi nasional. Angka ini dinilai belum cukup untuk meredam tekanan berkepanjangan akibat gejolak harga minyak.
Dari sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Subsidi dan kompensasi energi menjadi pos yang rentan terhadap perubahan harga. Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 10 dolar AS per barel dapat menambah beban anggaran hingga Rp50-60 triliun.
Untuk mengatasi kerentanan ini, Indef merekomendasikan beberapa langkah strategis. Penguatan cadangan energi nasional menjadi prioritas utama. Selain itu, pengelolaan subsidi yang lebih tepat sasaran juga sangat diperlukan.
Percepatan diversifikasi energi juga merupakan kunci untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meminimalkan dampak gejolak geopolitik energi di masa depan. Diversifikasi energi akan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.
Sumber: AntaraNews