BI: Surplus Neraca Dagang Indonesia Desember 2025 Kokohkan Ketahanan Eksternal
Surplus neraca dagang Indonesia di Desember 2025 mencapai 2,51 miliar dolar AS, sebuah kabar positif yang menurut BI mampu menopang ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus signifikan sebesar 2,51 miliar dolar AS pada Desember 2025. Capaian ini dipandang positif oleh bank sentral karena mampu menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut.
Surplus yang terjadi pada periode tersebut merupakan kelanjutan dari tren positif bulan sebelumnya, di mana neraca perdagangan juga mencatat surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS. Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (2/2), menunjukkan konsistensi kinerja perdagangan luar negeri yang baik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan komitmen bank sentral untuk terus memperkuat sinergi kebijakan. Hal ini dilakukan bersama pemerintah dan otoritas lain guna meningkatkan ketahanan eksternal serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Detail Surplus Neraca Perdagangan Indonesia
Surplus neraca perdagangan yang berlanjut pada Desember 2025 terutama bersumber dari kinerja positif neraca perdagangan nonmigas. Neraca perdagangan nonmigas pada periode ini mencatat surplus yang tetap baik, mencapai 4,61 miliar dolar AS.
Angka ini menunjukkan bahwa sektor nonmigas menjadi pendorong utama dalam menjaga keseimbangan perdagangan Indonesia. Sementara itu, neraca perdagangan migas justru mengalami defisit.
Defisit neraca perdagangan migas tercatat meningkat menjadi 2,09 miliar dolar AS pada Desember 2025 sejalan dengan peningkatan impor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan ekspor migas.
Kinerja Ekspor Nonmigas Unggul
Kinerja ekspor nonmigas menunjukkan angka yang menggembirakan, meningkat menjadi sebesar 25,09 miliar dolar AS pada Desember 2025. Peningkatan ini menjadi faktor kunci dalam menjaga surplus neraca perdagangan secara keseluruhan.
Ekspor nonmigas yang positif ini didukung oleh beberapa komoditas utama. Komoditas berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani/nabati, serta bahan bakar mineral, memberikan kontribusi signifikan.
Selain itu, ekspor produk manufaktur juga menunjukkan performa yang kuat. Produk seperti besi dan baja, serta berbagai produk kimia, turut menjadi penopang utama peningkatan ekspor nonmigas Indonesia.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia.
Sinergi Kebijakan untuk Ketahanan Ekonomi
Bank Indonesia secara konsisten menekankan pentingnya sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi. Kolaborasi erat dengan pemerintah dan berbagai otoritas terkait menjadi kunci dalam mencapai tujuan ini.
Upaya sinergi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan ketahanan eksternal, tetapi juga pada dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Hal ini mencerminkan pendekatan komprehensif dalam pengelolaan ekonomi makro.
Dengan terus memperkuat koordinasi, diharapkan perekonomian Indonesia dapat lebih resilient terhadap gejolak global. Kebijakan yang terintegrasi akan membantu menjaga momentum positif surplus neraca perdagangan dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews