Stok BBM dan LPG Aman Jelang Idul Fitri 1447 H, Kementerian ESDM Jamin Ketersediaan Energi Nasional
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM dan LPG nasional dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, menjamin kebutuhan energi masyarakat terpenuhi tanpa kendala.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) berada dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026. Laporan ini disampaikan di Jakarta pada Sabtu (14/3), menyusul Sidang Kabinet Paripurna yang digelar sehari sebelumnya.
Kepastian ketersediaan energi ini diberikan untuk menjamin kebutuhan masyarakat selama periode mudik dan perayaan Lebaran, yang biasanya disertai dengan peningkatan konsumsi. Cadangan berbagai jenis BBM saat ini berada di atas batas minimum yang ditetapkan, menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi lonjakan permintaan.
Pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga pasokan, termasuk mengantisipasi dinamika rantai distribusi global untuk LPG dan terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri. Upaya ini dilakukan demi memastikan stabilitas pasokan energi di seluruh wilayah Indonesia.
Ketersediaan Cadangan BBM Nasional Terjamin
Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa cadangan BBM nasional saat ini sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran. Cadangan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) RON 90 tercatat mencapai sekitar 24,39 hari. Sementara itu, Jenis BBM Umum (JBU) RON 92 memiliki cadangan sekitar 28 hari, dan RON 98 sekitar 31 hari.
Untuk jenis solar, kapasitas cadangan solar subsidi mencapai sekitar 16,41 hari, sedangkan solar CN 53 sekitar 46 hari. Selain itu, pasokan avtur yang vital untuk transportasi udara juga aman dengan cadangan sekitar 38 hari. Angka-angka ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi peningkatan mobilitas dan aktivitas ekonomi menjelang dan selama Idul Fitri.
“Jadi saya pikir untuk urusan bensin, insya Allah clear Bapak (Presiden). Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG, insya Allah aman Bapak,” kata Bahlil, memberikan jaminan langsung kepada Presiden dan masyarakat.
Strategi Pemerintah Amankan Pasokan LPG
Meskipun rantai distribusi global mengalami dinamika, Bahlil menyampaikan bahwa pasokan LPG nasional tetap terjaga. Indonesia mengimpor sekitar 70–72 persen LPG dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari Timur Tengah, dan sisanya dari sejumlah negara lain.
Untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah proaktif. Salah satunya adalah dengan membuka peluang tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan negara lain seperti Australia.
Sebagai bukti langkah konkret, Bahlil mengungkapkan, “Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia untuk LPG.” Strategi diversifikasi sumber pasokan ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan LPG di pasar domestik.
Peningkatan Produksi Dalam Negeri dan Pengurangan Impor
Kondisi pasokan solar di Indonesia relatif lebih stabil karena seluruhnya diproduksi dari dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada impor. Stabilitas ini semakin diperkuat dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026.
Proyek RDMP Balikpapan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi kilang nasional secara signifikan. Estimasi menunjukkan bahwa proyek ini mampu mengurangi impor bensin hingga sekitar 5,5 juta ton dan solar sekitar 3,5 juta ton per tahun, berkontribusi besar pada kemandirian energi.
Ke depan, pemerintah terus berkomitmen mendorong pembangunan kilang minyak baru untuk lebih meningkatkan produksi BBM dalam negeri. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor crude dan memperkuat ketahanan energi nasional. Bahlil menambahkan, "Kalau lifting kita nggak mencapai 1,6 juta (barel minyak per hari), selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan kita lifting, itulah yang kita impor. Jadi ke depan itu tinggal impor crude saja."
Sumber: AntaraNews