Mengenal Olop-Olop Bolon, Acara Pesta Rakyat Milik Orang Batak
Olop-Olop Bolon, acara pesta rakyat sebagai ungkapan rasa syukur atas berkat yang melimpah milik masyarakat Batak
Budaya Indonesia sangat beragam, salah satunya Olop-Olop Bolon milik orang Batak.
Mengenal Olop-Olop Bolon, Acara Pesta Rakyat Milik Orang Batak
Apa itu Olop-Olop Bolon
Melansir dari Jurnal Fungsi dan Nilai-Nilai Kearifan Lokal pada Olop-Olop Bolon pada Masyarakat Beragama Malim di Pelabuhan Ajibata, Parapat, Olob-Olob Bolon merupakan acara pesta rakyat Batak Toba yang masih menganut agama Malim khususnya di Kecamatan Ajibata.
Kata "Olo-Olop" berarti "Syukuran" sedangkan "Bolon" itu "Besar. Maka artinya Olop-Olop Bolon adalah syukuran yang besar.
Namun, sampai hari ini pesta ini sudah sangat sulit dijumpai. Secara umum, Olop-Olop Bolon adalah simbol rasa syukur atas berkat melimpah yang diberikan oleh tuhan.
Pelaksanaan Olop-Olop Bolon
Pada saat berlangsungnya acara pesta rakyat Olop-Olop Bolon, tentunya melibatkan banyak tokoh masyarakat seperti ulu punguan, raja-raja, tokoh adat dan para undangan dari kampung lainnya. Biasanya acara ini dipimpin oleh ulu punguan atau pimpinan jemaat agama Malim.
Setiap pelaksanaan pesta rakyat ini, selalu dihadiri oleh banyak orang terutama penganut agama Malim.
Pada tahun 2019, Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT) kembali menggelar Olop-Olop Bolon untuk melestarikan budaya Batak.
Ungkapan Rasa Syukur
Olop-Olop Bolon biasanya dilaksanakan untuk mensyukuri hasil panen yang melimpah.
Saat ini, sudah sangat jarang menjumpai pesta rakyat ini. Namun, sebagian masyarakat Batak beragama Malim masih melestarikannya.
(Foto: umsu.ac.id)
Diiringi Musik Tradisional
Saat acara berlangsung, biasanya Olop-Olop Bolon diiringi dengan musik tradisional bernama Margondang yaitu terdiri dari taganing/gendang, ogung/gong, dan sarune/serunai.
Gondang menjadi instrumen wajib ada disetiap pelaksanaan acara adat Batak Toba.
Ada Sesajen
Tak hanya diiringi musik tradisional khas Batak, Olop-Olop Bolon juga ada yang disebut dengan "Ulihan" atau sesajen. Nantinya, sesajen tersebut dipersembahkan ketika acara berlangsung.
Adapun macam-macam sesajen yang digunakan, seperti ni pangulu balang (untuk kakek dan nenek), habonaran ni huta (untuk malaikat menjaga kampung menurut kepercayaan orang Batak, dan ompunta sisingamangaraja.
Ulihan atau sesajen yang digunakan adalah ayam putuh untuk pangulu balan (pengawal raja), manuk sabur bintang untuk (malaikat penjaga kampung), dan jarum bosi. Persembahan sesajen tadi dilaksanakan dengan iringan gondang.
Tempat Pelaksanaan
Tempat berlangsungnya Olo-Olop Bolon adalah menggunakan balai pasogit atau tempat ibadah agama Malim.
Persiapannya sudah dimulai sejak hari sabtu, bertepatan dengan hari ibadah agama Malim. Saat itulah sesajen harus diketahui kualitasnya baik atau tidak dengan cara seseorang harus kesurupan roh leluhur. Apabila sesajen telah dicicipi, maka tidak akan diterima saat penyajian.
Bagaimana mengetahui jika "kualitas" sesajen itu baik, yaitu dengan menggunakan kuku dan ada tanda jika makanan atau sesajen itu masih kurang baik kualitasnya.