Rondang Bittang, Bentuk Rasa Syukur dalam Mengadakan Sebuah Pesta dari Adat Batak Simalungun
Sebuah tradisi ungkapan kegembiraan ketika masyarakat Suku Batak Simalungun telah mewujudkan sebuah kegiatan pesta yang melibatkan banyak orang
Sebuah tradisi ungkapan kegembiraan ketika masyarakat Suku Batak Simalungun telah mewujudkan sebuah kegiatan pesta yang melibatkan banyak orang.
Rondang Bittang, Bentuk Rasa Syukur dalam Mengadakan Sebuah Pesta dari Adat Batak Simalungun
Suku Batak yang mendiami Provinsi Sumatera Utara ini terbagi ke dalam beberapa sub-suku dengan beragam jenis tradisi, adat istiadat, maupun kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.Salah satu sub-suku Batak, yaitu Batak Simalungun memiliki satu tradisi yang cukup unik, yaitu bernama Rondang Bittang.
Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada tuhan atas terwujudnya pengadaan sebuah kegiatan pesta. (Foto: Wikipedia)
Masyarakat Batak Simalungun sangat menjunjung tinggi leluhur, bahkan mereka tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur apabila permintaannya terkabulkan. Contohnya saja seperti saat memulai menanam hingga waktu panen tiba dan juga kelahiran anak.
Penasaran seperti apa simbol Rondang Bittang di lapisan masyarakat Batak Simalungun? Simak informasi selengkapnya yang dirangkum merdeka.com (4/6) dari berbagai sumber berikut ini.
Arti Rondang Bittang
Mengutip dari berbagai sumber, Rondang Bittang ini artinya adalah terang-benderang (melebihi terang pada umumnya). Biasanya Rondang Bittang atau juga disebut dengan Rondang Bintang ini dilakukan pada malam hari saat bulan purnama dan bintang sedang bersinar terang.
Ungkapan rasa syukur atas diwujudkannya sebuah pesta dalam lapisan masyarakat Batak Simalungun kemudian dirayakan dengan nama Rondang Bittang ini.
Biasanya, ada beberapa wujud pesta yang dirayakan dengan tradisi ini seperti Sehabis panen raya (Rondang Bintang Sahuta), mencari atau mendapatkan jodoh (Rondang Bintang Garama & Anak Boru), atau Rondang Bintang untuk momen perpisahan karena hendak menikah.
Diisi Kegiatan Menari dan Musik
Setiap terwujudnya suatu kegiatan, maka pesta Rondang Bittang ini pasti dilakukan pada malam hari.
Selayaknya pesta pada umumnya, Rondang Bittang akan diisi dengan kegiatan menari, bermusik, dan juga bermain.
Untuk setiap pelaksanaan Rondang Bittang biasa diikuti oleh semua lapisan umur. Semua tumpah ruah dalam kegembiraan dan berpesta sekaligus bersenang-senang.
Sejak tahun 1981, Pemerintah Kabupaten Simalungun telah menetapkan Rondang Bittang ini menjadi agenda wisata resmi yang dilaksanakan setiap setahun sekali.
Sampai saat ini, agenda tersebut masih terus berlanjut dan diharapkan tradisi tersebut bisa terus dilestarikan.
Persiapan Pelaksanaan Rondang Bittang
Melansir dari kanal Liputan6.com, sebelum pelaksanaan Rondang Bittang, masyarakat Simalung secara gotong-royong mempersiapkan seluruh rangkaian acara yang disebut dengan Marharoan.
Selain termasuk unsur dari Rondang Bittang, Marharoan ini juga diartikan sebagai wujud kebersamaan dalam tradisi.
Setelah itu, diadakan tradisi Mamuhun atau meminta ijin pelaksanaan acara kepada keturunan raja-raja Simalungun. Pihak penyelenggara akan menyerahkan sirih dan Demban Sise serta sejumlah uang.
Mamuhun sudah selesai dilaksanakan, kemudian dilanjut dengan berziarah ke makam-makam Raja Simalungun. Lalu dilanjutkan dengan saling memberikan Dayok Nabinatur.
Menyucikan Diri Sebelum Pelaksanaan
Sebelum Rondang Bittang dilaksanakan, seluruh peserta harus berpangir atau menyucikan diri agar roh-roh jahat bisa pergi dari tubuh mereka. Lalu mereka memakan bunga mange-mange dan bunga Banei Pansur.
Dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai jenis kegiatan selain adanya musik dan menari. Biasanya ada perlombaan modifikasi busana tradisional Simalungun hingga pertandingan olahraga tradisional.