Otorita IKN Dorong Pengembangan Batik Khas IKN, Peluang Ekonomi Kreatif Masyarakat Lokal
Otorita IKN melihat potensi besar dalam pengembangan Batik Khas IKN sebagai peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal, didukung pemanfaatan pewarna alami dari tanaman hutan.
Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) baru-baru ini menyatakan bahwa batik khas IKN memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pernyataan ini membuka peluang usaha yang signifikan bagi masyarakat lokal di wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menjelaskan bahwa pengembangan batik ini mencakup aspek budaya dan ekonomi kreatif. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar IKN.
Dengan semakin meningkatnya jumlah pengunjung ke kawasan ibu kota baru Indonesia, kebutuhan akan suvenir khas daerah juga turut meningkat. Batik khas IKN diharapkan dapat mengisi ceruk pasar ini, menawarkan produk otentik dan bernilai tinggi kepada para wisatawan.
Potensi Ekonomi dan Budaya Batik Khas IKN
Myrna Asnawati Safitri menegaskan bahwa batik khas IKN tidak hanya sekadar produk kerajinan, tetapi juga merupakan ekspresi kebudayaan yang kuat. Pengembangan ini akan memperkenalkan ragam hias khas wilayah IKN kepada khalayak yang lebih luas. Otorita IKN melihat ini sebagai aset berharga untuk identitas budaya nasional.
Peningkatan jumlah pengunjung ke Ibu Kota Nusantara menciptakan permintaan yang besar terhadap suvenir dan produk lokal. Batik khas IKN memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu produk unggulan yang diminati. Hal ini memberikan dorongan ekonomi bagi para pengrajin lokal untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk mereka.
Otorita IKN secara aktif mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai program pelatihan. Pelatihan ini dirancang untuk membekali masyarakat dengan keterampilan yang diperlukan dalam menghasilkan batik dan wastra berkualitas tinggi. Tujuannya adalah agar produk mereka memiliki daya saing yang kuat di pasar yang lebih luas.
Inovasi Pewarna Alami dari Tanaman Lokal
Salah satu keunikan batik khas IKN terletak pada penggunaan pewarna alami yang bersumber dari tanaman khas Kalimantan. Tanaman seperti ketapang dan bagian dari bakau (mangrove) dimanfaatkan untuk menghasilkan spektrum warna yang beragam dan ramah lingkungan. Inovasi ini menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan dan kearifan lokal.
Proses pewarnaan melibatkan perebusan ketapang untuk menghasilkan warna alami, sementara bagian bakau seperti propagul, kulit, atau daun yang digeprek juga digunakan. Sari dari tanaman ini diekstrak untuk mendapatkan pigmen pewarna yang intens. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga memberikan nilai tambah pada produk batik.
Variasi warna yang dihasilkan diperkaya melalui proses fiksasi menggunakan kapur, tawas, dan tunjung. Metode ini memungkinkan terciptanya nuansa warna seperti merah bata, merah muda, biru tua, hingga kecokelatan. Penggunaan bahan-bahan alami ini memberikan karakter unik pada setiap lembar batik yang diproduksi.
Lokakarya Interaktif untuk Pengenalan Batik
Untuk memperkenalkan lebih jauh batik khas IKN kepada masyarakat, Otorita IKN menyelenggarakan lokakarya interaktif membatik dengan pewarna alami. Kegiatan ini diadakan gratis untuk umum tanpa pendaftaran selama periode libur nasional, dari pukul 10.00 hingga 16.00 Wita di kawasan Sentra Masa IKN. Inisiatif ini bertujuan untuk edukasi dan promosi.
Myrna Asnawati Safitri, yang juga Ketua Panitia Pelayanan Kunjungan Masyarakat periode libur Kenaikan Isa Almasih 2026, menyatakan bahwa lokakarya ini bertujuan agar masyarakat dapat mengenal pemanfaatan tanaman hutan IKN sebagai pewarna tekstil alami. Peserta diajak untuk belajar teknik membatik sederhana, seperti metode shibori atau tie-dye.
Antusiasme pengunjung terlihat jelas dalam partisipasi mereka di workshop membatik ini. Novita Sandra, salah satu peserta, mengungkapkan kekagumannya terhadap penggunaan akar tumbuhan sebagai pewarna. Ia menilai kegiatan ini sangat edukatif dan memberikan pengalaman baru yang berharga. Panitia telah menyediakan semua alat dan bahan, dan hasil karya peserta dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Sumber: AntaraNews