Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya Temui Pendemo Korban Penipuan SPPG Catut Namanya
Para korban yang berjumlah puluhan orang ini lebih dulu membentangkan spanduk bertuliskan 'Usut Tuntas Mafia Dapur MBG' di depan kantor BGN.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sanjaya menemui sejumlah korban penipuan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (26/5).
Para korban yang berjumlah puluhan orang ini lebih dulu membentangkan spanduk bertuliskan 'Usut Tuntas Mafia Dapur MBG' di depan kantor BGN, sebelum akhirnya diterima masuk dan berdiskusi dengan Sony.
Puluhan orang itu mengaku ditipu yayasan yang memberikan iming-iming mempermudah pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Momen itu terjadi tak lama setelah Sony meluncurkan aplikasi 'Review MBG'. Melihat adanya massa aksi, kemudian ia membiarkan mereka masuk ke dalam gedung BGN.
Saat itu, ia lebih dulu menerima penjelasan massa aksi. Salah satu koordinator massa, Usep Sarwat, mengaku datang dari Kabupaten Bandung dan Sumedang untuk menyampaikan aspirasi sekaligus meminta penjelasan terkait yayasan yang disebut-sebut mengatasnamakan pejabat BGN.
"Dalam kesempatan ini saya ingin mendapatkan informasi tentang undang-undang informasi publik kemudian pelayanan publik terkait tentang BGN yang lagi resah di Kabupaten Bandung dan Sumedang," ujar Usep langsung dihadapan Sony.
Ia mengaku menjadi korban sebuah yayasan yang menjanjikan keterlibatan dalam program MBG, dengan mengklaim memiliki kedekatan dengan pejabat tinggi negara.
"Kami adalah korban dari sebuah oknum yayasan yang mengatasnamakan kenal dengan para pejabat tinggi di BGN. Kenal dengan Bapak, kenal juga dengan Kemenhan," katanya.
Usep menjelaskan, sempat membangun dapur MBG di kawasan Sukasari setelah diyakinkan oleh pihak yayasan tersebut.
Menanggapi hal itu, Sony menegaskan, mekanisme pendaftaran mitra MBG di BGN tidak dilakukan melalui kelompok atau yayasan tertentu. Melainkan dilakukan secara perorangan.
"Pendaftaran itu dalam proses pendaftaran BGN itu tidak bekerja sama dengan satu kelompok. Jadi setiap personil itu mengajukan ID-nya kepada portal mitra BGN. Jadi ID-nya itu perorangan bukan per kelompok yayasan atau organisasi," tegas Sony.
Setelah mendengarkan penjelasan singkat, Sony kemudian mengajak para korban yang melakukan aksi itu untuk berbicara lebih lanjut di ruang kerjanya
"Ini berapa orang? 20? Kita ngobrol saja di ruangan saya," ujar Sony.
"Kita ngobrol, bapak sebutkan siapa pelakunya, kapan, siapa, apa, di mana, bagaimana, mengapa. Kalau seandainya ada bukti-bukti, bukti transfer, tolong kasih tahu saya," sambungnya.
BGN Siap Koordinasi dengan Polisi
Dalam dialog tersebut, Sony memastikan BGN siap membantu menindaklanjuti laporan apabila ditemukan unsur pidana dalam kasus tersebut.
"Kalau ada rekaman-rekaman nanti saya akan lihat, ini ranah pidana sudah terpenuhi, kami akan koordinasi dengan Polres atau Polda untuk menerima laporan bapak-bapak," ucapnya.
Keterlibatan Ordal
Sony menegaskan, pihaknya ingin memastikan apakah benar ada keterlibatan oknum yang mencatut nama pejabat BGN atau tidak.
"Kalau memang ada ranah pidananya betul saya lihat maka ya sudah ini kan berarti korban tindak pidana ya dilaporkan. Saya yakin BGN tidak terlibat," ujarnya.
Dibuka Secara Transparan
Menurut Sony, kasus seperti ini harus dibuka terang-benderang agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
"Oleh karena itu ini yang katanya ngaku-ngaku kenal pejabat BGN. Nah yang seperti ini harus diungkap, benar kenal atau tidak. Kalau kenal saja kan tidak apa-apa. Tapi terlibat atau tidaknya ingin saya buktikan," pungkasnya.