Program Makan Bergizi Gratis Serap 1,28 Juta Pekerja, Dorong Ekonomi Nasional
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti efektif menyerap 1,28 juta pekerja di seluruh Indonesia dan menggerakkan perekonomian nasional. Simak bagaimana inisiatif ini memberikan dampak luas dari hulu hingga hilir, melibatkan jutaan penerima manfaat dan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menunjukkan dampak signifikan dalam penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi nasional. Inisiatif strategis ini berhasil menyerap 1,28 juta pekerja di berbagai sektor. Dampak positif ini menjadi bukti nyata kontribusi MBG terhadap penguatan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Badan Gizi Nasional (BGN) merilis statistik terbaru pada Jumat (22/5), yang mengonfirmasi keterlibatan jutaan pekerja tersebut. Para pekerja ini tersebar di 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di seluruh wilayah Indonesia. Data ini menunjukkan skala besar program dalam menciptakan lapangan kerja baru.
Angka penyerapan tenaga kerja ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya. Dalam Sidang Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 pada Rabu (20/5), Presiden menegaskan komitmen pemerintah. Ia menyatakan bahwa Program MBG telah membuka 1,2 juta lapangan kerja baru di sektor dapur.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Manfaat Sosial
Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga berhasil menciptakan jutaan lapangan kerja baru. Sebanyak 1,28 juta pekerja kini terlibat aktif dalam operasional MBG di seluruh Indonesia. Para pekerja ini berperan penting dalam menyiapkan makanan bergizi bagi jutaan penerima manfaat.
Penerima manfaat program ini mencakup 62,45 juta individu dari berbagai kelompok rentan. Mereka terdiri dari peserta didik, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan santri yang tersebar di berbagai daerah. Keterlibatan para pekerja ini memastikan makanan bergizi dapat tersalurkan dengan baik kepada mereka yang membutuhkan.
Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa program ini juga menjamin pasar yang stabil bagi petani, peternak, dan nelayan. Hal ini menciptakan kepastian ekonomi bagi puluhan juta produsen bahan pangan lokal. Dengan demikian, MBG tidak hanya mengatasi masalah gizi, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat secara luas.
Keterlibatan Pelaku Usaha Lokal
Dampak ekonomi Program Makan Bergizi Gratis meluas hingga ke sektor pelaku usaha lokal melalui rantai pasok yang komprehensif. BGN mencatat, hingga 22 Mei 2026, sebanyak 142.387 pemasok telah terlibat dalam program ini. Jumlah ini menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang diciptakan oleh MBG.
Dari total pemasok tersebut, mayoritas berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan 59.921 entitas. Selain itu, 13.306 koperasi, 690 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), 1.410 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan 157 Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) turut ambil bagian. Keterlibatan ini memperkuat ekonomi kerakyatan di tingkat desa dan daerah.
Sebanyak 66.903 pemasok lainnya berasal dari berbagai kategori penyedia bahan pangan dan jasa pendukung. Hal ini menunjukkan ekosistem ekonomi yang berkembang pesat di sekitar program MBG. Program ini secara efektif mengintegrasikan berbagai skala usaha dalam satu tujuan besar.
Dampak Ekonomi Hulu-Hilir yang Berkelanjutan
Badan Gizi Nasional menambahkan bahwa Program MBG turut menggerakkan ekonomi rakyat dari hulu hingga hilir. Program ini menciptakan permintaan bahan pangan dalam jumlah besar secara berkelanjutan. Kebutuhan bahan baku yang konsisten memberikan stabilitas bagi para produsen.
Sebagai ilustrasi, satu SPPG membutuhkan sekitar 200 kg beras setiap hari, atau setara 4,8 ton per bulan, untuk memenuhi 3.000 porsi MBG. Kebutuhan ini menciptakan pasar yang besar bagi petani beras di seluruh Indonesia. Permintaan yang terjamin mendorong peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.
Selain beras, kebutuhan protein juga sangat tinggi; satu SPPG membutuhkan sekitar 2.800 ekor ayam per bulan, dengan asumsi menu ayam disajikan dua kali dalam seminggu. Kebutuhan susu juga signifikan, mencapai sekitar 450 liter per hari untuk 3.000 porsi MBG. Setiap penerima manfaat memperoleh 150 mililiter susu per sajian, menunjukkan skala konsumsi yang masif.
Sumber: AntaraNews