Nadiem Bicara Ironi Kasus Chromebook: Saya Berjuang Melawan Korupsi, Sekarang Dikorbankan Dituduh Korupsi
Nadiem mengaku selama menjabat menteri ada pihak terusik sehingga menyebabkan gesekan internal karena mereka merasa tersingkirkan.
Mantan Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim mengaku selama menjabat menteri ada pihak terusik sehingga menyebabkan gesekan internal karena mereka merasa tersingkirkan. Kendati tidak menyebut pihak terusik, namun menurut Nadiem, hal itu mengganggu 'kantong' finansial mereka dengan menggunakan istilah 'Banyak yang periuk nasinya terganggu'.
Nadiem menjelaskan, penyebabnya saat menjadi menteri dirinya melakukan berbagai macam hal, terutama dalam tata kelola administrasi pendidikan. Hal itu Nadiem saat menyampaikan nota pembelaan atau pleidoi dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (2/6).
"Saya bukan hanya melakukan digitalisasi, tapi kebijakannya juga banyak yang menutup celah-celah korupsi di dalam Kementerian. Nah kenyataannya, waktu saya jadi Menteri, saya pun tahu bahwa banyak sekali pihak-pihak yang sangat kuat di dalam yang tidak menginginkan itu terjadi," ujar Nadiem.
Ironi Kasus Chromebook
Namun Nadiem mengakui tidak mengantisipasi bahwa gesekan itu bisa menjadi dendam besar. "Dari dendam besar itu, mungkin sebagian dari itu adalah alasan mengapa kasus ini menjerat saya, kenapa kasus ini direkayasa sehingga menjerat saya. Saya rasa itu adalah bagian dari alasan kenapa saya ada di dalam situasi seperti ini," ujar Nadiem.
Nadiem menegaskan, hal itu adalah ironi terbesar sepanjang perjuangannya untuk Indonesia. Khususnya, selama 5 tahun saat menjadi menteri.
"Itulah ironi terbesar dari kasus ini. Ironi terbesarnya adalah saya berjuang melawan korupsi selama 5 tahun menjadi Menteri, dan sekarang saya di sini dikorbankan sebagai orang yang dituduh korupsi. Sungguh begitu miris untuk saya," dia menandasi.