Hari Anak Sedunia: KemenPPPA dan Pihak Terkait Perkuat Komitmen Perlindungan Anak Digital
Peringatan Hari Anak Sedunia menjadi momentum KemenPPPA dan berbagai pihak untuk memperkuat komitmen perlindungan anak digital, menghadapi risiko di dunia maya dengan regulasi dan kolaborasi. Bagaimana upaya ini dijalankan?
Pada momentum Hari Anak Sedunia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama berbagai pihak terkait menegaskan komitmen kuat. Mereka berupaya melindungi anak-anak dari potensi risiko di ranah daring. Langkah ini diambil di Jakarta sebagai respons terhadap perkembangan teknologi.
Plt. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Ratna Susianawati, menekankan pentingnya kesadaran. Ia juga menyerukan perubahan perilaku serta paradigma terkait keamanan anak di dunia digital. Penggunaan teknologi informasi kini menjadi kebutuhan esensial bagi banyak keluarga.
Namun, sisi lain teknologi juga membawa berbagai ancaman yang harus diantisipasi. Oleh karena itu, peringatan Hari Anak Sedunia dijadikan kesempatan untuk memperkuat upaya perlindungan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi generasi muda Indonesia.
Penguatan Regulasi dan Kolaborasi Lintas Sektor
KemenPPPA terus menguatkan komitmen perlindungan anak digital melalui penyusunan kerangka regulasi nasional. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan ekosistem digital yang aman. Regulasi ini dirancang untuk melindungi anak-anak dari berbagai ancaman di dunia maya.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kominfo, Alexander Sabar, menjelaskan dua regulasi penting. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) dan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ranah Daring saling melengkapi. "PP Tunas sebagai peraturan operasional, berfokus pada penyelenggara sistem elektronik (PSE) yang produknya berpotensi diakses oleh anak," ujar Alex.
Ia menambahkan, "Sementara itu, Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Daring sebagai peraturan strategis, memastikan seluruh ekosistem, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, PSE, dan komunitas untuk bergerak dalam satu arah yang sama." Kolaborasi ini penting untuk memastikan perlindungan anak digital yang komprehensif.
Selain itu, Save the Children Indonesia juga turut berpartisipasi aktif dalam upaya perlindungan anak digital. Sejak tahun 2024, mereka bekerja sama dengan KemenPPPA melalui program First Click. Program ini fokus pada pencegahan, penanganan, dan advokasi kebijakan perlindungan anak di ranah digital. "Ini adalah aksi kolaborasi," kata Chief Executive Officer Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar.
Inovasi Teknologi dan Literasi Keluarga untuk Keamanan Digital
Berbagai perusahaan teknologi juga turut memperkuat ekosistem perlindungan anak digital. LEGO Group, misalnya, berkomitmen memastikan keamanan anak dalam produk digitalnya dengan menerapkan Verified Parental Control (VPC) dan Pro-Moderated Content untuk meminimalisasi konten tidak ramah anak. Senior Manager Government and Public Affairs LEGO Group, Ardi Hendharto, menjelaskan bahwa mereka bekerja sama dengan UNICEF mengembangkan prinsip desain digital ramah anak.
LEGO juga mendorong peningkatan literasi digital keluarga melalui program Build and Talk, yang dirancang membantu orang tua berdialog dengan anak mengenai keamanan digital, termasuk isu cyber bullying. Survei LEGO Play Well Report menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan, di mana 41 persen orang tua di Indonesia tidak nyaman berbicara tentang keamanan digital dan 49 persen merasa tidak memiliki pengetahuan memadai. Hal ini menyebabkan 67 persen anak mengetahui lebih banyak soal dunia digital dibanding orang tuanya.
Senada, Grab Indonesia juga menyatakan komitmennya dalam menyediakan layanan yang aman, nyaman, dan inklusif, termasuk bagi perempuan dan anak. Director of Trust and Safety Grab Indonesia, Radhi Juniantino, menjelaskan bahwa Grab mengembangkan berbagai fitur seperti verifikasi wajah mitra, perekaman suara, trip monitoring, dan family account. Fitur-fitur ini dirancang untuk memastikan perjalanan yang aman dan nyaman.
Radhi menambahkan, "Kami meluncurkan fitur family account yang memungkinkan anak berusia 13–20 tahun melakukan pemesanan secara mandiri dan orang tua menjadi admin untuk memantau langsung perjalanan anaknya." Selain itu, Grab juga memastikan konten di aplikasinya termoderasi agar ramah anak dan remaja, serta memungkinkan orang tua memantau kolom chat untuk keselamatan anak.
Sumber: AntaraNews