Delpedro Bacakan Pledoi dan Awali dengan Ucapan Duka atas Wafatnya Khamenei
Delpedro menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan AS dan Israel.
Direktur Eksekutif Lokataru Delpedro Marhaen menyampaikan nota pembelaan atau pledoi dalam kasus dugaan penghasutan yang menyebabkan kericuhan saat demonstrasi di akhir Agustus 2025. Bersama tiga terdakwa lainnya, yaitu Muzaffar Salim yang merupakan staf Lokataru, Syahdan Husein dari Gerakan Gejayan Memanggil, dan Khariq Anhar, seorang mahasiswa Universitas Riau (Unri), mereka menyampaikan pledoi masing-masing secara terpisah.
Dalam pembacaan pledoi, Delpedro memulai dengan menyampaikan rasa duka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang meninggal akibat serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Saya ingin mengucapkan berduka cita atas meninggalnya, syahidnya Imam Ayatullah Khamenei yang gugur dalam membela keadilan dan kebenaran. Semoga syahidnya menularkan kebenaran dan kebaikan bagi kita semua. Amin," kata Delpedro pada Senin, 2 Maret 2026.
Selanjutnya, Delpedro membacakan nota pembelaan yang berjudul "Membela Mereka di Agustus".
Di dalamnya terdapat kutipan yang berbunyi, 'Untuk mereka, orang muda yang mendambakan adanya perbaikan demokrasi dan hak asasi manusia Indonesia.' Selain itu, ia juga menyampaikan kutipan kedua: 'Bunda, Ayah, keluarga, dan kekasihku tersayang. Terima kasih karena tak pernah lelah mendampingi, memahami, dan merelakan waktuku yang kerap kuhabiskan untuk kepentingan banyak orang. Semoga kita bisa merayakan hari raya Idulfitri nanti bersama tanpa jeruji.'
Delpedro menambahkan, 'Mungkin inilah kesempatan terakhir saya untuk berbicara secara bebas dan utuh di muka umum. Oleh karena itu, saya memohon sedikit waktu dari panjangnya dan melelahkannya seluruh proses hukum yang telah saya jalani, baik sejak tahap penyidikan di Polda Metro Jaya hingga tibanya saat pada agenda pembacaan pledoi di persidangan ini.'
Jaksa dan Hakim yang Tertindas
Delpedro menjelaskan bahwa pledoinya terdiri dari sembilan bagian, namun ia hanya membacakan enam bagian. Bagian-bagian tersebut mencakup tema seperti jalan sebagai pembela HAM, generasi muda di Lokataru yang mencintai Republik, kerusuhan Agustus dengan fokus pada penghasutan atau advokasi, alasan mengapa pelajar yang berunjuk rasa harus dibela, peran orang muda dan pelajar dalam etika republikan, serta komitmennya untuk membela Jaksa atau Hakim yang tertindas.
Ia menekankan, "Perlu ditegaskan bahwa demonstrasi Agustus pada awalnya adalah ekspresi penolakan publik terhadap rencana kenaikan tunjangan DPR. Ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial, justru wacana kenaikan tunjangan DPR naik. Kemarahan publik semakin memuncak ketika beredar tayangan anggota DPR yang berjoget-joget. Bagi banyak warga, pandangan itu bukan sekadar hiburan melainkan simbol terputusnya empati antara elit dan rakyat."
Selanjutnya, ia menyatakan, "Peristiwa Agustus bukan sekadar demonstrasi yang menimbulkan kegaduhan sebagaimana disederhanakan dalam tuntutan. Ia adalah fenomena sosiopolitik kolektif yang lahir dari akumulasi ketegangan publik yang panjang. Kerusuhan yang kemudian terjadi dipengaruhi banyak variabel: tindakan represif aparat yang menggunakan kekuatan berlebihan, penyempitan ruang sipil, provokasi narasi 'STM Genteng' di media sosial, hingga terjadi penindasan seorang pengemudi ojek online yang sedang mencari nafkah dan harus meregang nyawa."
Delpedro juga mempertanyakan tuduhan penghasutan terhadapnya, dengan tegas ia berkata, "Terkait dakwaan penghasutan, izinkan saya bertanya secara jernih: Jika niat saya adalah menghasut dan mendorong orang melakukan tindak pidana, mengapa saya harus capek-capek membangun lembaga riset? Mengapa saya harus melakukan advokasi konstitusional? Mengapa harus menyusun kajian akademik, berdialog dengan pemerintah, menghadiri rapat-rapat resmi? Bukankah jauh lebih mudah bagi saya jika sekadar mengumpulkan orang, mengompori emosi, dan membiarkan kerusuhan terjadi tanpa struktur? Tapi saya tidak melakukan itu."
Keadilan yang Hanya Mengenal Angka akan Kehilangan Nuraninya
Sebelum saya mengakhiri pledoi ini, Delpedro mengajukan permintaan yang terbilang tidak biasa. Ia menyatakan, "Hari ini saya tidak hendak menutup dengan kesimpulan argumentasi hukum atau pasal-pasal. Saya hendak menutup dengan nama. Karena hukum yang kehilangan nama akan berubah menjadi angka, dan keadilan yang hanya mengenal angka perlahan akan kehilangan nuraninya."
Dalam kesempatan ini, ia meminta kepada Majelis Hakim yang arif dan bijaksana untuk mengizinkannya menyampaikan permohonan tersebut.
Delpedro melanjutkan, "Ingatlah 700 Nama Ini". Ia menegaskan bahwa di balik istilah seperti 'massa', 'kerusuhan', 'penindakan', dan 'tersangka', terdapat individu-individu yang memiliki wajah dan kehidupan. Ia juga menekankan bahwa kebebasan berkumpul serta menyampaikan pendapat bukanlah sekadar hadiah dari negara, melainkan hak konstitusional yang dimiliki oleh setiap warga negara.
Dia menambahkan, "Jika hari ini saya duduk di kursi terdakwa, maka saya sadar perkara ini tidak berdiri sendiri." Delpedro menyadari bahwa kasus yang dihadapinya mencerminkan bagaimana negara merespons kritik. Dengan penuh kerendahan hati, ia meminta kepada semua yang hadir di ruang sidang untuk berdiri dan memberikan penghormatan kepada seluruh warga negara yang telah meninggal, serta ratusan lainnya yang ditangkap dalam berkas-berkas perkara akibat demonstrasi pada bulan Agustus. Nama-nama tersebut mungkin bagi negara hanyalah data, namun bagi keluarga mereka adalah harapan.