Hasil Investigasi Ungkap Militer Israel Perbolehkan Tentaranya Bunuh Jurnalis di Gaza
Hasil Investigasi Ungkap Militer Israel Perbolehkan Tentaranya Bunuh Jurnalis di Gaza
Israel menuduh sejumlah media berafiliasi dengan Hamas dan mereka boleh dibunuh.
Hasil Investigasi Ungkap Militer Israel Perbolehkan Tentaranya Bunuh Jurnalis di Gaza
Tentara Israel menyatakan media yang berafiliasi dengan kelompok perlawanan Palestina seperti Hamas adalah target militer yang sah, sehingga jurnalis yang bekerja untuk media tersebut boleh dibunuh.
Hal ini merupakan hasil investigasi The Guardian yang dirilis pada 25 Juni.
Investigasi ini merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai proyek Gaza, yang dipimpin LSM Forbidden Stories yang berbasis di Prancis, yang telah menganalisis pembunuhan jurnalis di Jalur Gaza sejak awal agresi Israel pada 7 Oktober 2023.
Dikutip dari The Cradle, Jumat (28/6), Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) yang berbasis di Amerika Serikat menempatkan jumlah wartawan yang terbunuh di Gaza sejak dimulainya perang mencapai 103 orang. Menurut CPJ, 30 persen di antaranya bekerja untuk media yang berafiliasi dengan Hamas.
Investigasi The Guardian mengidentifikasi setidaknya 23 jurnalis yang tewas dipekerjakan oleh media terbesar yang terkait dengan Hamas, jaringan media Al-Aqsa.
Ketika ditanya mengenai jumlah jurnalis yang tergabung dalam jaringan Al-Aqsa yang telah terbunuh, seorang juru bicara senior militer Israel mengatakan "tidak ada perbedaan" antara bekerja untuk media tersebut dan menjadi anggota sayap bersenjata Hamas, Brigade Al Qassam.
"Ini adalah pernyataan yang mengejutkan. kesalahpahaman yang lengkap atau hanya pengabaian yang disengaja terhadap hukum internasional," kata Adil Haque, profesor hukum di Universitas Rutgers AS.
Kantor-kantor jaringan Al-Aqsa telah dibom oleh jet-jet tempur Israel selama serangan-serangan sebelumnya di Gaza.
Pada 2019, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menandatangani sebuah perintah yang menggunakan kekuatan hukum yang luas untuk menetapkan jaringan tersebut, yang juga berada di bawah sanksi AS, sebagai organisasi teroris. Penetapan tersebut dibuat berdasarkan hukum domestik Israel, yang menurut para ahli hukum bukanlah "cek kosong" untuk membunuh jurnalis yang berafiliasi dengan jaringan tersebut.
Sumber-sumber yang dikutip oleh The Guardian mengatakan kantor-kantor Al-Aqsa dievakuasi pada awal perang di Gaza saat ini karena adanya keyakinan mereka akan menjadi sasaran.
Salah satu sumber Israel mengatakan telah terjadi "pendekatan permisif terhadap penargetan di seluruh" tentara dalam perang ini.
Sumber lain yang mengetahui nasihat hukum yang diberikan kepada tentara Israel mengatakan wartawan yang berafiliasi dengan Hamas berada dalam "zona abu-abu" dan ada "pandangan bermasalah" di kalangan militer "setiap kali ada orang yang pada akhirnya mendapat gaji dari Hamas," maka mereka akan dilegitimasi sebagai target.
Menurut CPJ, lebih dari 75 persen dari seluruh jurnalis yang meninggal pada tahun 2023 dibunuh oleh militer Israel di Gaza.
Banyak dari para jurnalis ini tidak ada hubungannya dengan Hamas. Hamza Dahdouh, putra kepala biro Al Jazeera yang terkenal, Wael Dahdouh, terbunuh dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza pada tanggal 7 Januari.
Hamza Dahdouh terbunuh bersama seorang jurnalis lainnya, Mustafa Thuraya, ketika mereka melaporkan kerusakan yang disebabkan oleh serangan udara Israel di daerah pemukiman antara kota Khan Yunis dan Rafah.
Beberapa jurnalis juga telah terbunuh di Lebanon selatan ketika meliput pemboman Israel di sana sejak awal perang.