Moamen Abu Alouf, jurnalis Palestina syahid bersama dengan tiga paramedis dalam serangan terbaru Israel di Gaza. Ketiga paramedis itu tengah mengevakuasi warga yang terluka, sementara Abu Alouf sedang melaporkan serangan tersebut. Hal ini membuat jumlah total jurnalis yang syahid selama serangan Israel yang sedang berlangsung menjadi 227 jiwa.
Abu Alouf bersama dengan tim ambulans sedang mendokumentasikan pekerjaan mereka saat serangan itu terjadi.
Israel menyerang sebuah sekolah yang dijadikan tempat mengungsi oleh banyak keluarga di lingkungan Al-Daraj, Gaza timur. Sebuah video yang sebelumnya direkam dalam keadaan perang oleh Abu Alouf menangkap kejadian ketika paramedis Hussein Muhaysin sedang menyelamatkan seorang anak dari kobaran api. Baik Muhaysin maupun Abu Alouf kini telah meninggal.
Advertisement
Dilansir Quds News Network, Selasa (10/6), Ketua Serikat Jurnalis Palestina pada pekan lalu mengatakan bahwa Jalur Gaza sedang “menyaksikan pembantaian terbesar dalam sejarah terhadap jurnalis”
Kantor Media pemerintah Gaza menyatakan bahwa setidaknya 227 jurnalis telah terbunuh dalam serangan Israel sejak dimulainya genosida pada Oktober 2023.
Kantor tersebut juga mengatakan pihaknya mengutuk dengan sekeras-kerasnya “penargetan, pembunuhan, dan eksekusi sistematis terhadap jurnalis-jurnalis Palestina” oleh pasukan Israel.
“Kami menuding penjajahan Israel, pemerintah Amerika Serikat, dan negara-negara yang turut serta dalam kejahatan genosida seperti Inggris, Jerman, dan Prancis, bertanggung jawab sepenuhnya atas kejahatan keji dan brutal ini,” lanjut pernyataan itu.
Reporters Without Borders mengatakan pada bulan lalu dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2025, pasukan Israel telah membunuh hampir 200 jurnalis dan pekerja media dalam 18 bulan pertama perangnya di Gaza.
Advertisement
Setidaknya di antara jurnalis yang syahid itu terdapat 42 jiwa yang tewas saat menjalankan tugas. Organisasi ini juga mengatakan Palestina menjadi negara paling berbahaya di dunia bagi Jurnalis di tengah perang Israel.
“Terjebak di dalam wilayah yang terkepung, jurnalis-jurnalis di Gaza tidak memiliki tempat berlindung dan kekurangan segalanya, termasuk makanan dan air,” ujar organisasi yang berlokasi di Paris itu yang juga dikenal sebagai RSF.
“Di Tepi Barat, para jurnalis sering dilecehkan dan diserang oleh pemukim ataupun pasukan Israel. Namun, tekanan mencapai tingkat yang lebih parah dengan gelombang penangkapan setelah 7 Oktober, ketika kebebasan melakukan kejahatan terhadap jurnalis menjadi aturan baru,” lanjut RSF.
Perang genosida Israel di Gaza dianggap sebagai yang paling mematikan bagi jurnalis dan pekerja media dalam 30 tahun terakhir.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey