Diplomat Senior dan Mantan Dubes Dino Patti Djalal Sampaikan Empat Kritik untuk Menlu Sugiono
Dino menyampaikan empat kritik itu melalu akun Instagramnya.
Diplomat senior sekaligus Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal menyampaikan kritik sekaligus pesan terbuka kepada Menteri Luar Negeri Sugiono terkait arah dan kepemimpinan diplomasi Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Dino Patti Djalal melalui sebuah video yang diunggah ke akun Instagram @dinopattidjalal (22/12) setelah berbagai upaya komunikasi langsung dengan Menlu Sugiono disebut tidak mendapatkan respons.
Dalam pernyataannya, mantan wakil menteri luar negeri itu menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan berangkat dari kepedulian dan dukungan terhadap kesuksesan politik luar negeri Indonesia. Ia berbicara sebagai sesepuh Kementerian Luar Negeri, pendukung diplomasi Indonesia, ketua organisasi hubungan internasional, sekaligus sebagai warga negara yang telah berkecimpung di dunia diplomasi hampir 40 tahun.
“Ini adalah pesan cinta dan dukungan. Kami ingin melihat Menteri Luar Negeri Sugiono sukses dan diplomasi Indonesia tetap kuat,” kata Dino Patti Djalal.
Soroti Kepemimpinan dan Fokus di Kementerian Luar Negeri
Kritik pertama yang disampaikan Dino berkaitan dengan kepemimpinan dan fokus Menlu Sugiono dalam mengelola Kementerian Luar Negeri. Menurutnya, Kemlu membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan kehadiran langsung dari menteri.
Dino menyebut idealnya Menlu dapat mencurahkan waktu penuh untuk memimpin Kemlu, atau setidaknya 50 persen hingga 80 persen dari waktu kerja. Ia menggambarkan Kemlu sebagai “mobil Ferrari” yang memiliki talenta diplomat luar biasa, namun membutuhkan pengemudi yang fokus agar dapat berjalan optimal.
Ia menyoroti belum adanya arahan strategis yang jelas dari pusat kepada perwakilan Indonesia di luar negeri.
Bahkan, rapat koordinasi para duta besar disebut tertunda hampir satu tahun, dan ketika digelar pun dinilai minim arahan strategis.
Selain itu, pemotongan anggaran diplomasi disebut berdampak pada menurunnya kinerja serta demoralisasi diplomat. Dino Patti Djalal juga mengungkapkan adanya keluhan bahwa sejumlah duta besar kesulitan bertemu Menlu saat berada di Tanah Air.
“Risikonya, banyak kesempatan strategis tidak ditindaklanjuti, dan hubungan bilateral Indonesia bisa menjadi tidak berimbang,” ujarnya Dino Patti Djalal.
Kritik Minimnya Komunikasi Publik Politik Luar Negeri
Kritik kedua menyasar minimnya komunikasi publik Menlu Sugiono terkait kebijakan dan arah politik luar negeri Indonesia.
Dino Patti Djalal mengutip prinsip diplomasi almarhum Menlu Ali Alatas bahwa “foreign policy begins at home”, yang berarti kebijakan luar negeri harus dipahami dan didukung publik domestik.
Menurut Dino Patti Djalal, selama satu tahun terakhir Menlu Sugiono belum pernah menyampaikan policy speech, baik di dalam maupun luar negeri, serta belum melakukan wawancara mendalam dengan media terkait substansi politik luar negeri.
Ia juga menilai komunikasi Menlu lebih banyak dilakukan melalui media sosial berbasis visual seperti Instagram, tanpa penjelasan kebijakan yang memadai. Kondisi ini dikhawatirkan membuat Menlu mendapat citra sebagai “silent minister”.
Dino Patti Djalal turut menyinggung ketidakhadiran Menlu Sugiono dalam sejumlah forum besar hubungan internasional di dalam negeri, termasuk Conference on Indonesian Foreign Policy dan ASEAN for the People Conference, meski konferensi tersebut dihadiri ribuan peserta dan melibatkan menteri luar negeri negara lain.
Dinilai Jauh dari Pemangku Kepentingan Hubungan Internasional
Kritik ketiga diarahkan pada relasi Menlu Sugiono dengan pemangku kepentingan hubungan internasional, termasuk organisasi masyarakat dan komunitas akademik. Dino menyebut banyak undangan dialog dan permohonan audiensi dari berbagai organisasi tidak mendapatkan respons.
“Kami sebagai konstituen hubungan internasional merasa Menlu sangat jauh, tidak komunikatif, tidak responsif, dan tidak aksesibel,” kata Dino Patti Djalal.
Ia menegaskan bahwa dukungan, kepercayaan, dan penghormatan dari para pemangku kepentingan harus dibangun secara aktif, bukan diperoleh secara otomatis. Dino juga mengingatkan prinsip para menlu terdahulu untuk tidak memutus jembatan komunikasi dengan komunitas diplomasi.
Dorong Kerja Sama dengan Akar Rumput Diplomasi
Kritik keempat menyangkut keterbukaan kerja sama antara Kementerian Luar Negeri dan komunitas akar rumput hubungan internasional.
Dino menilai tidak seharusnya terdapat kontradiksi antara seruan kerja sama di forum internasional dengan sikap tertutup terhadap inisiatif masyarakat di dalam negeri.
Ia menekankan bahwa diplomasi tidak hanya berjalan dari atas ke bawah, tetapi juga dari bawah ke atas, melalui peran organisasi masyarakat dan komunitas internasional.
“Gotong royong antara pemerintah dan ormas hubungan internasional adalah resep sukses diplomasi Indonesia,” ujarnya Dino Patti Djalal.
Menutup pesannya, Dino menyampaikan peringatan bahwa Menlu Sugiono hanya memiliki “satu kesempatan dalam sejarah” untuk membuktikan kepemimpinannya. Ia menyebut jika keempat usulan tersebut dijalankan, Menlu Sugiono berpotensi menjadi menteri luar negeri yang cemerlang.
Sebaliknya, jika tidak dilakukan, Dino memperingatkan bahwa Kementerian Luar Negeri dapat mengalami kemunduran dan diplomasi Indonesia merosot.
“Saya berbicara kebenaran kepada kekuasaan dan kepada rakyat. Wisdom without fear,” ujar Dino Patti Djalal.
Reporter Magang: Ahmad Subayu