FPCI Dorong Indonesia Kembangkan Strategi Kekuatan Menengah di Tengah Geopolitik Global
Menurutnya, langkah tersebut penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyerukan agar pemerintah Indonesia segera mengembangkan strategi kekuatan menengah (middle power strategy) dalam menghadapi perubahan tatanan dunia. Menurutnya, langkah tersebut penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Hal ini disampaikan Dino dalam diskusi dengan sejumlah diplomat negara lain, bertema 'Tanggapan Perkembangan Kebijakan Luar Negeri AS' di The St. Regis, Jakarta Selatan, Selasa (14/4).
"Seruan FPCI kepada pemerintah Indonesia adalah lihat, kita jelas merupakan kekuatan menengah sekarang. Dan sangat penting bagi kita untuk mengembangkan strategi kekuatan menengah, ketahui apa ambisi kita, ketahui apa aset kita," kata Dino.
Dalam Tatanan Dunia
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI ini menyebut, Indonesia harus mengetahui posisi dalam tatanan dunia yang terus berkembang.
Pemerintah juga disebutnya sudah harus memetakan negara-negara mana saja yang bisa diajak kerja sama lebih erat seraya membangun hubungan koalisi.
"Ketahui posisi kita dalam tatanan dunia yang terus berkembang. Ketahui kekuatan menengah mana yang harus kita ajak bekerja sama lebih erat dan kembangkan hubungan pembangunan koalisi," sebutnya.
Dubes RI untuk Amerika Serikat (AS) era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mengungkapkan, dewasa ini seperti yang terjadi pada konflik antara Iran dengan Israel dan AS, negara-negara kekuatan menengah tampil.
Perang antara Negara
Menurutnya, konflik Iran dan AS adalah perang antara negara kekuatan menengah melawan negara kekuatan besar. Namun berdasarkan berbagai laporan yang ia terima, Iran yang notabene negara kekuatan menengah justru lebih unggul dalam perang tersebut.
Belum lagi, Arab Saudi dan Pakistan selaku negara kekuatan menengah, dikatakannya ikut andil dan hampir terlibat.
"Itu adalah perang antara kekuatan super dan kekuatan menengah. Dan Amerika Serikat tidak memenangkan perang tersebut, bukan? Dan faktanya, Iran, menurut banyak laporan, terlihat lebih unggul," katanya.