Dino Patti Djalal: Indonesia Harus Jadi Perancang Utama Tatanan Dunia Berikutnya
Pendiri FPCI Dino Patti Djalal menyerukan Indonesia mengambil peran krusial dalam merancang Tatanan Dunia Berikutnya, menyoroti pergeseran kekuatan global dan rapuhnya sistem multilateral.
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyerukan Indonesia untuk mengambil peran krusial dalam merancang Tatanan Dunia Berikutnya. Menurutnya, dunia kini sedang berada di ambang perubahan besar yang menuntut respons strategis dari negara-negara berpengaruh. Pernyataan ini disampaikan Dino saat membuka Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025 di Jakarta pada hari Sabtu.
Dino Patti Djalal menegaskan bahwa dinamika global saat ini menunjukkan pergeseran signifikan yang memerlukan pemikiran ulang terhadap struktur dan cara kerja hubungan internasional. Ia melihat tatanan dunia yang baru ini bukan sebagai pengganti total, melainkan evolusi dari yang sudah ada. Oleh karena itu, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk berkontribusi dalam membentuk arah masa depan global.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini menekankan bahwa meskipun tatanan baru akan muncul, banyak elemen penting dari tatanan lama seperti PBB dan ASEAN akan tetap relevan. Indonesia, dengan kekuatan diplomasi dan idealismenya, dinilai sangat tepat untuk menjadi salah satu perancang utama dalam era Tatanan Dunia Berikutnya ini.
Memahami Konsep Tatanan Dunia Berikutnya
Dino Patti Djalal memperkenalkan istilah "Next World Order" untuk menggambarkan fase baru dinamika global, yang berbeda dengan "New World Order" yang sepenuhnya menggantikan tatanan lama. Menurutnya, banyak fondasi tatanan dunia saat ini masih harus dipertahankan dan diperkuat. Institusi seperti Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Piagam PBB, Konvensi Jenewa, Konvensi Hukum Laut PBB, serta ASEAN dan kedaulatan NKRI, akan tetap menjadi pilar penting.
Konsep Tatanan Dunia Berikutnya ini mengakui adanya perubahan fundamental namun tetap menghargai kontinuitas. Dino menyebutkan bahwa jumlah negara di dunia, yang sekitar 200 negara, juga akan tetap stabil. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada pergeseran kekuatan dan norma, kerangka dasar sistem internasional akan tetap ada, namun dengan penyesuaian yang signifikan.
Pergeseran ini menyoroti kebutuhan untuk beradaptasi tanpa harus meruntuhkan seluruh struktur yang telah dibangun. Indonesia, sebagai negara besar dengan sejarah diplomasi yang kaya, memiliki kapasitas untuk memimpin diskusi tentang bagaimana menjaga stabilitas sambil merangkul perubahan yang tak terhindarkan dalam Tatanan Dunia Berikutnya.
Empat Alasan Utama Pergeseran Tatanan Dunia
Dino Patti Djalal mengidentifikasi empat alasan utama yang mendorong dunia menuju Tatanan Dunia Berikutnya. Pertama adalah pergeseran distribusi kekuatan global. Ia mencontohkan bahwa jumlah negara penandatangan Piagam PBB meningkat dari 51 pada 1945 menjadi 193 pada 2025. Selain itu, kekuatan ekonomi juga bergeser, dengan BRICS kini memiliki PDB gabungan berbasis PPP yang lebih besar dari G7, yaitu 40 persen berbanding 28 persen.
Alasan kedua adalah rapuhnya sistem berbasis aturan. Dino menyoroti bahwa kepercayaan global terhadap penegakan hukum internasional berada pada titik terendah. Hal ini menciptakan ketidakpastian dan tantangan serius bagi stabilitas global, yang membutuhkan pendekatan baru dalam menjaga Tatanan Dunia Berikutnya.
Ketiga, institusi multilateral semakin melemah. Dewan Keamanan PBB, misalnya, semakin sulit merespons krisis global akibat kepentingan anggota tetap dan penggunaan hak veto. Kelemahan ini menghambat upaya kolektif untuk mengatasi masalah-masalah lintas batas. Keempat, arah dunia yang semakin melenceng, ditandai dengan hilangnya kompas moral dan kaburnya batas antara benar dan salah. Dino juga menambahkan bahwa hampir semua aspek, mulai dari perdagangan hingga budaya, kini dipersenjatai, memperkeruh dinamika internasional.
Peran Krusial Indonesia dalam Merancang Tatanan Dunia Berikutnya
Melihat dinamika global yang kompleks ini, Dino Patti Djalal menilai bahwa ini adalah momentum yang sangat tepat bagi Indonesia untuk menjadi salah satu perancang utama Tatanan Dunia Berikutnya. Indonesia memiliki kekuatan diplomasi yang bersumber dari kekuatan gagasan dan idealisme. Ini adalah aset berharga dalam menghadapi tantangan global yang memerlukan solusi inovatif.
Posisi Indonesia sebagai negara anggota ASEAN dan G20, ditambah dengan reputasi kuat dalam inovasi multilateral, memberikan landasan yang kokoh. Dino Patti Djalal secara tegas menyatakan, "Kekuatan diplomasi Indonesia terletak pada kekuatan gagasan dan idealisme. Dengan posisi sebagai negara ASEAN, anggota G20, serta reputasi kuat dalam inovasi multilateral, ini adalah saatnya Indonesia menjadi salah satu perancang utama tatanan dunia berikutnya."
Oleh karena itu, Indonesia didorong untuk proaktif dalam membentuk narasi dan kerangka kerja Tatanan Dunia Berikutnya. Dengan pengalaman dan kapasitasnya, Indonesia dapat berkontribusi signifikan dalam menciptakan tatanan global yang lebih adil, stabil, dan berkelanjutan untuk masa depan.
Sumber: AntaraNews