Dengan Suara Bergetar Sembari Menahan Tangis, Dirjen WHO Mohon Belas Kasih Israel Agar Hentikan Kekejamannya di Gaza
Israel telah membunuh hampir 54.000 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023, lebih dari 16.000 adalah anak-anak.
Dengan suara bergetar menahan tangis, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (23/5) mendesak Israel untuk menunjukkan "belas kasihan" untuk Gaza. Ia menegaskan perdamaian justru akan memberikan keuntungan bagi Israel sendiri. Dalam intervensi yang penuh emosi di Majelis Kesehatan Dunia ke-77 yang berlangsung di Jenewa, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan perang ini justru merugikan Israel dan tidak akan menghasilkan solusi yang permanen.
"Saya bisa merasakan penderitaan warga Gaza saat ini. Saya bisa menciumnya. Membayangkannya. Bahkan mendengar suara-suara itu. Ini karena post-traumatic stress disorder/PTSD (gangguan stres pascatrauma)," ungkap Tedros (59 tahun) yang sering menceritakan pengalaman masa kecilnya di tengah perang Ethiopia, seperti yang dikutip dari Arab News pada Sabtu (24/5).
"Bayangkan bagaimana mereka menderita. Sangat keliru menjadikan makanan sebagai senjata. Sungguh tak manusiawi menjadikan pasokan medis sebagai alat perang," tegasnya.
Tedros menekankan bahwa satu-satunya jalan menuju perdamaian sejati adalah melalui solusi politik.
"Seruan perdamaian sesungguhnya untuk kepentingan terbaik Israel sendiri. Perang ini justru melukai Israel dan tak akan memberi solusi abadi," tegasnya.
"Saya mohon, tunjukkan belas kasihan. Ini baik untuk Israel, baik untuk Palestina, dan baik untuk kemanusiaan."
Sementara itu, Direktur Kedaruratan WHO, Michael Ryan mengungkapkan 2,1 juta penduduk Gaza berada dalam "ancaman kematian seketika".
"Kita harus hentikan kelaparan, bebaskan semua tawanan, dan pulihkan sistem kesehatan," ujarnya.
Sebagai mantan tawanan, ia menegaskan pentingnya pembebasan semua tawanan, karena keluarga mereka menderita akibat situasi ini. WHO juga merinci bahwa warga Gaza mengalami kelangkaan parah dalam hal makanan, air, obat-obatan, bahan bakar, dan tempat tinggal.
Empat rumah sakit besar terpaksa menghentikan operasionalnya pekan ini, disebabkan oleh lokasi yang berada di zona konflik atau evakuasi.
"Hanya 19 dari 36 rumah sakit di Jalur Gaza yang masih beroperasi, dengan staf yang bekerja dalam 'kondisi yang mustahil'," ungkap badan kesehatan PBB dalam sebuah pernyataan.
Di sisi lain, 94 persen fasilitas kesehatan di Gaza mengalami kerusakan atau hancur total.
"Setidaknya 94 persen dari semua rumah sakit di Jalur Gaza rusak atau hancur," kata WHO, sembari menambahkan wilayah utara Gaza "hampir tidak memiliki semua fasilitas perawatan kesehatan."
Saat ini, hanya tersisa 2.000 tempat tidur rumah sakit di seluruh Palestina, yang jumlahnya "jauh dari mencukupi".
"Sistem kesehatan dihancurkan secara sistematis. Rumah sakit yang sudah direhabilitasi dan dipasok kembali, lalu dihancurkan lagi. Siklus kehancuran ini harus dihentikan," jelas WHO.