Menteri Israel: Tidak Sebutir Gandum Pun Akan Masuk ke Gaza
Israel mencegah masuknya makanan ke Gaza selama 37 hari berturut-turut pada 7 Maret kemarin.
Kepala enam lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak diberlakukan kembali gencatan senjata di Gaza dengan memperingatkan kekurangan bantuan dan ancaman kelaparan sejak Israel melanjutkan genosida terhadap warga Palestina bulan lalu.
“Lebih dari 2.1 juta orang kembali terjebak, dibom, dan kelaparan. Sementara di titik-titik penyeberangan, makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan persediaan tempat tinggal menumpuk,” menurut pernyataan yang ditandatangani bersama oleh kepala enam badan PBB, termasuk badan koordinasi bantuan PBB (OCHA) dan Program Pangan Dunia, seperti dilansir The Cradle, Selasa (8/4).
“Kami menyaksikan berbagai tindakan perang di Gaza yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap kehidupan manusia. Kami mengimbau para pemimpin dunia untuk bertindak dengan tegas, dan mendesak untuk memastikan prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan internasional ditegakkan,” kata pernyataan itu lagi.
Israel menghentikan sepenuhnya truk bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza pada 2 Maret.
Hamas berkeras agar melanjutkan gencatan senjata ke fase kedua, sebagaimana disetujui Israel saat pertama kali kesepakatan ditandatangani untuk mengakhiri perang secara permanen.
Pada 18 Maret, Israel secara sepihak melanjutkan perang. Hingga kini, korban tewas menyentuh angka 1.400 penduduk Palestina, termasuk di antaranya lebih dari 300 anak-anak dalam waktu tiga pekan.
Kemarin Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich berjanji tidak ada truk bantuan kemanusiaan yang akan diizinkan masuk ke Gaza, menyusul laporan di media Israel bahwa militer berencana untuk melonggarkan blokade.
“Bahkan sebutir gandum pun tidak akan memasuki wilayah itu,” kata dia saat berbicara di Konferensi Rakyat Israel yang diselenggarakan Yedioth Ahronoth.
Badan-badan PBB juga memperingatkan tentang kekurangan pangan dan medis yang parah di Gaza. Dua puluh lima toko roti yang didukung oleh Program Pangan Dunia selama gencatan senjata terpaksa tutup karena kekurangan tepung dan gas untuk memasak.
Pada Minggu (6/4), juru bicara UNICEF Kazem Abu Khalaf mengumumkan penutupan sekitar 21 pusat perawatan malnutrisi di Gaza karena operasi militer Israel, serta dikeluarkannya perintah evakuasi.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 50.000 warga Palestina di Gaza. Ribuan lainnya diyakini tewas terkubur di bawah reruntuhan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey