Munafiknya Amerika Serikat, Veto Resolusi PBB soal Gencatan Senjata dengan Dalih Israel Membela Diri Padahal Pelaku Pembantaian di Gaza

Amerika Serikat terus membela pembantaian yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Munafiknya Amerika Serikat, Veto Resolusi PBB soal Gencatan Senjata dengan Dalih Israel Membela Diri Padahal Pelaku Pembantaian di Gaza
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperlihatkan daftar negara yang menjadi target dalam pengenaan tarif timbal balik yang baru ditetapkan di Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, AS, pada 2 April 2025. (©REUTERS/Carlos Barria)

Amerika Serikat terus membela pembantaian yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Negara yang dipimpin Donald Trump itu kembali memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menyerukan gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen di Gaza.

Resolusi itu diajukan oleh 10 negara dari 15 negara anggota dewan karena serangan Israel di Gaza telah menewaskan hampir 100 warga Palestina dalam 24 jam terakhir di tengah blokade bantuan yang membuat warga Gaza kelaparan parah.

AS adalah satu-satunya negara yang memberikan suara menentang tindakan tersebut pada hari Rabu. Sementara 14 negara anggota dewan lainnya memberikan suara mendukung.

Resolusi tersebut juga menyerukan pembebasan tawanan Israel yang ditahan di Gaza. Namun AS mengatakan hal tersebut "tidak dapat dilaksanakan" karena tuntutan gencatan senjata tidak terkait langsung dengan pembebasan tawanan.

AS Lagi-Lagi Berdalih Israel Membela Diri

Hamas Bebaskan Sandera, Israel Lakukan Pertukaran dengan Warga Palestina
Sementara PM Israel Benjamin Netanyahu bersiap-siap melakukan perjalanan ke Washington untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump, kelompok militan Hamas membebaskan tiga sandera Israel, termasuk di antaranya satu orang Amerika berkewarganegaraan ganda. © 2025 merdeka.com

Dalam sambutannya sebelum dimulainya pemungutan suara, Penjabat Duta Besar AS, Dorothy Shea menyatakan dengan jelas penolakan negaranya terhadap resolusi yang menurutnya "tidak mengejutkan" itu. Tak cuma itu, pihaknya juga lagi-lagi berdalih Israel memiliki hak membela diri.

Padahal nyatanya Israel telah membantai warga Palestina di Gaza dengan serangan militer dan blokade bantuan kemanusian yang mengakibatkan warga Palestina di Gaza kelaparan parah.

"Amerika Serikat telah mengambil posisi yang sangat jelas sejak konflik ini dimulai, yaitu bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri, termasuk mengalahkan Hamas dan memastikan mereka tidak akan pernah lagi berada dalam posisi yang dapat mengancam Israel," ungkapnya kepada dewan dilansir Aljazeera, Kamis (5/6/2025).

China Tegaskan Israel Telah "Melewati Setiap Garis Merah"

Bendera China
Ilustrasi (iStock) @ 2023 merdeka.com

Duta Besar China, Fu Cong mengatakan tindakan Israel telah "melewati setiap garis merah" hukum humaniter internasional dan melanggar resolusi PBB secara serius.

"Namun, karena perlindungan yang diberikan oleh satu negara (AS), pelanggaran ini belum dihentikan atau dimintai pertanggungjawaban."

Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara mencatat bahwa veto AS membuatnya "sangat terisolasi".

"Jelas ada badai yang sedang terjadi... dengan begitu banyak negara yang menentang AS di DK PBB. Hanya AS yang mencoba menghalangi arus yang menyatu dan meningkat ini terhadap Israel dan apa yang dilakukannya di Gaza... Israel tidak membela diri di Gaza, Israel membela pendudukan dan pengepungannya di Gaza," kata Bishara.

Israel Terus Menyerang & Memblokade Gaza

Israel Sengaja ‘Pikat' Warga Gaza yang Kelaparan dengan Bantuan Makanan Lalu Ditembaki, Bunuh 102 Orang dalam 8 Hari
Para pelayat berdiri di dekat jenazah warga Palestina yang terbunuh akibat tembakan Israel di dekat lokasi distribusi bantuan di Rafah, pada 3 Juni 2025. Hatem Khaled/Reuters

Meskipun ada tuntutan global untuk gencatan senjata, Israel telah berulang kali menolak seruan untuk gencatan senjata tanpa syarat atau permanen, dengan bersikeras Hamas tidak dapat tetap berkuasa di Gaza.

Israel telah memperluas serangan militernya di Gaza, menewaskan dan melukai ribuan warga Palestina lainnya dan mempertahankan blokade brutal di daerah kantong itu, hanya mengizinkan sedikit bantuan yang dikontrol ketat di tempat yang dilanda kelaparan.

"Setidaknya 95 warga Palestina tewas pada hari Rabu dan lebih dari 440 terluka," menurut pejabat kesehatan di Gaza.

Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, melaporkan dari Deir el-Balah, mengatakan, "Terjadi lonjakan serangan yang jelas". Ia mengatakan Israel terus-menerus melancarkan serangan di Gaza bagian tengah dan di seluruh wilayah.

Israel Tetapkan Lokasi Distribusi Bantuan Sebagai Zona Perang

Hamas Sebut Lembaga GHF Bentukan Israel-AS sebagai 'Jebakan Kematian dan Penghinaan', Manfaatkan Bantuan Untuk Usir Paksa Warga Gaza
Warga Palestina di Gaza yang kelaparan menunggu bantuan Quds News Network

Sementara itu, militer Israel memperingatkan warga Palestina yang kelaparan agar tidak mendekati jalan menuju lokasi distribusi bantuan yang didukung AS yang dijalankan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang kontroversial. Mereka mengatakan wilayah tersebut akan "dianggap sebagai zona pertempuran" selama bantuan dihentikan selama satu hari penuh.

Tindakan itu dilakukan setelah pasukan Israel beberapa kali menembaki para pencari bantuan, menewaskan lebih dari 100 warga Palestina dan melukai ratusan lainnya sejak GHF mulai beroperasi pada 27 Mei.

Para saksi mata mengatakan tentara Israel menembaki kerumunan yang berkumpul sebelum fajar untuk mencari makanan pada hari Selasa. Gambar-gambar warga Palestina yang kelaparan berebut paket bantuan yang tidak seberapa, digiring dalam barisan seperti kandang dan kemudian ditembaki telah menyebabkan kemarahan global.

Israel Membantai Warga Palestina di Gaza saat Berupaya Mengambil Bantuan Kemanusiaan

Dokter Palestina yang 9 Anaknya Dibunuh Israel Meninggal Karena Luka Parah Akibat Serangan Pasukan Zionis di Gaza
Pelayat menghadiri pemakaman Hamdi Al-Najjar, dokter Palestina dan seorang ayah yang 9 anaknya dibunuh Israel dalam sebuah serangan di Khan Younis pekan lalu, Minggu (1/6). Hatem Khaled/Reuters

Militer Israel mengakui telah menembaki para pencari bantuan pada hari Selasa, namun mengklaim bahwa mereka melepaskan tembakan ketika "tersangka" menyimpang dari rute yang ditentukan.

Di sebuah rumah sakit di Gaza selatan, keluarga Reem al-Akhras, yang tewas dalam penembakan massal Israel pada hari Selasa, berduka atas kematiannya.

"Dia pergi membawakan kami makanan, dan inilah yang terjadi padanya," kata putranya Zain Zidan sambil menangis.

Suaminya, Mohamed Zidan, mengatakan setiap hari orang-orang tak bersenjata dibunuh. "Ini bukan bantuan kemanusiaan – ini jebakan".

Proses penyaluran bantuan baru, yang saat ini hanya dilakukan di tiga lokasi, telah dikritik secara luas oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan PBB, yang mengatakan bahwa hal itu tidak mematuhi prinsip-prinsip kemanusiaan. Mereka juga mengatakan bahwa model bantuan, yang menggunakan pekerja keamanan dan logistik swasta AS, memiliterisasi bantuan.

PBB Salahkan Israel

FOTO: Sedikitnya 60 Warga GazaTewas Akibat Serangan Israel Selama 24 Jam terakhir
Asap mengepul menyusul serangan Israel terhadap rumah keluarga al-Qattaa di lingkungan al-Tuffah di Kota Gaza, Sabtu (31/05/2025). AFP/ Omar Al-Qattaa

Menjelang pemungutan suara DK PBB, kepala bantuan PBB Tom Fletcher kembali memohon agar PBB dan kelompok-kelompok bantuan diizinkan membantu orang-orang di Gaza, sambil menekankan bahwa mereka memiliki rencana, perlengkapan, dan pengalaman.

"Buka semua tempat penyeberangan. Biarkan bantuan penyelamat masuk dalam skala besar, dari segala arah. Cabut pembatasan tentang apa dan berapa banyak bantuan yang dapat kami bawa. Pastikan konvoi kami tidak terhambat oleh penundaan dan penolakan," kata Fletcher dalam sebuah pernyataan.

PBB telah lama menyalahkan Israel dan pelanggaran hukum di daerah kantong itu karena menghalangi pengiriman bantuan dan distribusinya di Gaza. Israel menuduh Hamas mencuri bantuan, yang dibantah keras oleh kelompok itu, dan Program Pangan Dunia mengatakan tidak ada bukti yang mendukung tuduhan itu.

Unicef Bersaksi Anak-Anak di Gaza Tinggal Tulang Akibat Ulah Israel

Israel Bunuh 36 Warga Gaza pada Hari Kedua Idul Adha, Termasuk 6 Orang yang Mencari Bantuan
Distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza pun mengalami sejumlah hambatan. Di mana dari 900 truk bantuan yang disetujui hanya kurang dari 600 yang berhasil dibongkar. (AP Photo/Abdel Kareem Hana © 2025 Liputan6.com

Juru bicara Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) James Elder, yang saat ini berada di Gaza, menggambarkan "kengerian" yang disaksikannya hanya dalam waktu 24 jam. Berbicara dari al-Mawasi, Elder mengatakan kepada Al Jazeera bahwa rumah sakit dan jalan-jalan di Gaza dipenuhi anak-anak yang kekurangan gizi.

"Saya melihat anak-anak remaja menangis, memperlihatkan tulang rusuk mereka," katanya, seraya mencatat bahwa anak-anak itu mengemis meminta makanan.

DK PBB telah memberikan suara pada 14 resolusi terkait Gaza dan menyetujui empat resolusi sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Pemungutan suara hari Rabu adalah yang pertama sejak November 2024.

Hamas masih menahan 58 tawanan, sepertiga dari mereka diyakini masih hidup, setelah sebagian besar sisanya dibebaskan dalam perjanjian gencatan senjata jangka pendek sebelumnya atau kesepakatan lainnya.

Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 54.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Rekomendasi