Wisata Budaya Udohotma Pegunungan Arfak Tembus Mancanegara, Tarik Minat Turis Asing
Kampung Udohotma di Pegunungan Arfak kini menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara berkat pengembangan Wisata Budaya Udohotma berbasis masyarakat yang unik dan lestari.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Provinsi Papua Barat sukses mengembangkan wisata budaya berbasis masyarakat di Kampung Udohotma, Kabupaten Pegunungan Arfak. Inisiatif ini dengan cepat menarik perhatian wisatawan mancanegara, menunjukkan potensi besar pariwisata daerah. Kunjungan turis asing ke Udohotma dijadwalkan akan dimulai pada 22 Januari 2026 mendatang.
Kampung Udohotma menjadi destinasi wisata budaya pertama di Pegunungan Arfak yang dipersiapkan secara khusus. Keberhasilan ini didorong oleh komitmen masyarakat setempat dalam merawat dan melestarikan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari mereka. Rozene Sanchia J Patay dari Disbupar Papua Barat menyatakan bahwa ada 13 paket wisata budaya telah dibeli agen internasional dalam kurun waktu satu pekan.
Pengembangan ini tidak hanya bertujuan mendatangkan wisatawan, tetapi juga menjaga agar budaya tetap hidup dan menjadi bagian keseharian masyarakat. Wisata menjadi alternatif ekonomi tanpa menghilangkan identitas budaya lokal yang kuat. Pemerintah provinsi telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak untuk kelancaran perjalanan turis.
Kekayaan Paket Wisata Budaya Udohotma yang Menarik
Kampung Udohotma menawarkan beragam paket wisata budaya yang dirancang untuk memberikan pengalaman otentik kepada pengunjung. Wisatawan dapat mengunjungi rumah adat kaki seribu, sebuah arsitektur tradisional yang unik dan sarat makna. Mereka juga berkesempatan mempraktikkan merajut noken dari kulit kayu, kerajinan tangan khas Papua.
Selain itu, turis akan diajak membuat alat musik tradisional, mempelajari teknik menyalakan api secara tradisional, serta memahami penggunaan alat berburu. Aktivitas berkebun tradisional juga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan. Pengunjung juga diperkenalkan pada prosesi perkawinan adat Suku Arfak.
Pengalaman memasak makanan tradisional menggunakan kulit kayu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Seluruh kegiatan ini memberikan gambaran mendalam tentang kehidupan dan tradisi Suku Arfak. Paket-paket ini dirancang untuk memastikan wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan budaya setempat.
Dampak Positif dan Kolaborasi Pemerintah
Kehadiran wisatawan mancanegara diharapkan membawa dampak positif signifikan terhadap perekonomian daerah dan masyarakat lokal. Pemerintah provinsi telah aktif berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak. Kolaborasi ini bertujuan memastikan kelancaran perjalanan wisatawan asing ke wilayah tersebut.
Rangkaian perjalanan wisata tidak hanya terbatas pada Kampung Udohotma, melainkan juga mencakup kunjungan ke Kampung Kobrey. Wisatawan akan diajak menikmati keindahan alam dan Danau Anggi yang memukau. Hal ini memperkaya pengalaman turis dan memperkenalkan lebih banyak potensi wisata Pegunungan Arfak.
Kepala Seksi Kelembagaan dan Pemberdayaan Masyarakat Disbupar Papua Barat, Rozene Sanchia J Patay, menegaskan tujuan utama pengembangan ini. Ia menyatakan bahwa tujuannya bukan sekadar mendatangkan wisatawan. Namun, juga untuk menjaga agar budaya tetap hidup dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat.
Pengembangan dan Pemberdayaan Komunitas Lokal
Pemerintah provinsi telah melakukan pendampingan intensif untuk pengembangan Kampung Udohotma sebagai destinasi wisata budaya sejak tahun 2024. Perkembangan yang terjadi sangat positif, seiring dengan meningkatnya minat wisatawan asing. Pendampingan ini meliputi edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat lokal.
Edukasi tersebut bertujuan agar masyarakat memahami konsep, pengelolaan, serta strategi pemasaran wisata budaya. Pelatihan juga diberikan dalam menyusun paket wisata budaya yang menarik. Paket-paket ini kemudian disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satu contoh keberhasilan program ini adalah Hans Mandacan, warga setempat yang awalnya berperan sebagai pemandu wisata. Kini, Hans telah berkembang menjadi agen lokal yang mampu menjual paket wisata secara mandiri. Pemanfaatan platform digital menjadi kunci dalam pemasaran mandiri ini, menunjukkan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sumber: AntaraNews