"Mimpi Saya Umur 30 Tahun Punya Rumah, tapi Sekarang Bisa Bayar Kontrakan Saja Sudah Bersyukur"
Meski masih lajang dan bergaji Rp6 juta per bulan, Anwar merasa setiap rupiah dari gajinya langsung menguap begitu tanggal gajian tiba.
Di balik gemerlap ibu kota, ada kisah-kisah senyap dari mereka yang digolongkan sebagai kelas menengah. Sebuah kelompok yang dulunya identik dengan kestabilan ekonomi, kini justru mulai kehilangan pijakan.
Anwar (27), seorang karyawan swasta di Jakarta, adalah salah satu potret nyata dari fenomena ini. Meski masih lajang dan bergaji Rp6 juta per bulan, Anwar merasa setiap rupiah dari gajinya langsung menguap begitu tanggal gajian tiba.
Bukan karena gaya hidup mewah, tetapi semata-mata untuk bertahan hidup. "Sekarang, yang penting cukup buat hidup sebulan," ujarnya, dengan suara datar yang menyiratkan kelelahan hidup.
Setiap bulan, Anwar harus mengeluarkan sekitar Rp2,2 juta hanya untuk makan dengan lauk sederhana. Tempat tinggal mungil berukuran 3x4 meter menggerus Rp1 juta termasuk listrik dan iuran.
Kebutuhan digital seperti internet dan langganan aplikasi AI untuk kerja menambah Rp500.000 lagi. Belum termasuk ongkos transportasi dan pengiriman uang Rp1,5 juta ke orang tuanya di kampung. Total pengeluaran: hampir Rp5,8 juta. Menabung? Mustahil. Yang lebih menyedihkan, saat tanggal gajian masih jauh, dia kerap berutang.
"Pernah tanggal muda sudah ngutang buat bayar kos. Tabungan tinggal sisa receh," katanya getir.
Utang Paylater Jadi Solusi
Terkadang, dia juga mengakses layanan paylater untuk kebutuhan membeli pulsa maupun cicilan handphone. Proses pengajuan utang yang relatif mudah dan bunga cicilan yang flat dirasa cukup membantu di tengah keterbatasan gaji.
"Jadi, mau gak mau pakai paylater. Selama kita bisa bayar cicilannya ya kita ambil dulu buat talangan sebelum gajian," ucapnya.
Tren penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) emmang terus mengalami peningkatan. Hal itu terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2025 menunjukan nilai transaksi Rp22,78 triliun. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di Rp21,98 triliun.
Perencana Keuangan Imelda Tarigan menilai hal tersebut menjadi indikator melemahnya daya beli masyarakat.
Jika tabungan menurun sementara utang melalui skema paylater meningkat, itu jelas menunjukkan penurunan kemampuan belanja. Kebutuhan tetap harus dipenuhi, tetapi ketika dana tidak tersedia, masyarakat terpaksa berutang," ujar Imelda kepada merdeka.com, Selasa (13/5).
Anwar bukan satu-satunya. Ahmad (31), karyawan swasta dengan satu anak, merasakan hal yang sama. Gaji Rp7 juta miliknya tak cukup mengimbangi kebutuhan rumah tangga kecil di Jakarta. Makanan, kontrakan, sekolah anak, bensin semuanya naik. Sementara gaji tetap.
"Tiap bulan gaji cuma numpang lewat. Jangan kan nabung, buat bertahan saja sulit," keluhnya.
Fenomena Makan Tabungan
Cerita Keduanya adalah cermin dari fenomena yang kini dijuluki kelas menengah makan tabungan. Berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC), 76,3 persen kelas menengah di Indonesia kini terpaksa menggunakan tabungan untuk menutup biaya hidup. Sisanya beralih ke pinjaman berbunga.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat biaya hidup di Jakarta sudah mencapai Rp14,8 juta per bulan per rumah tangga. Akan tetapi, UMR Jakarta 2025 hanya sebesar Rp5,39 juta. Jauh panggang dari api.
Kisah Anwar dan Ahmad mencerminkan pergeseran besar dalam mimpi kelas menengah. Jika dulu mereka bercita-cita punya rumah, investasi, bahkan dana pendidikan anak. kini harapan itu tinggal cerita.
"Mimpi saya, umur 30-an udah bisa punya rumah. Tapi sekarang, bisa bayar kontrakan saja udah bersyukur," kata Ahmad.
Anwar hanya berharap satu hal, yakni kenaikan gaji yang bisa mengejar laju inflasi dan naiknya biaya hidup.
“Kalau bisa gaji naik ke Rp8 juta. Biar kami bisa hidup, bukan cuma bertahan,” ujarnya.
Dalam realita baru ini, kelas menengah tak lagi bicara soal kemapanan. Mereka kini berjuang, bukan untuk naik kelas, tapi agar tidak jatuh ke jurang yang lebih dalam.
Penyebab Kelas Menengah Sedikit Menabung
Mengamini hal tersebut. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal angkat suara terkait fenomena ‘makan tabungan’ di masyarakat kelas menengah. Menurut dia, ini dipengaruhi oleh pengeluaran yang tak sebanding dengan pendapatan di kalangan masyarakat kelas menengah.
Tekanan yang dihadapi masyarakat kelas menengah juga tercermin dari indikator penduduk berdasarkan golongan pendapatan.
Apabila mengacu pada indikator pembagian penduduk menjadi 5 kuintil, Faisal menjelaskan bahwa saat ini tingkat pertumbuhan pengeluaran paling rendah ada di kuintil 4 yang justru merupakan masyarakat dengan tingkat pendapatan menengah, disusul dengan kuintil 3, 2, dan 1.
"Paling rendah itu kuintil 4 pertumbuhan spending-nya, disusul kuintil 3, 2, 1. Kuintil 1 itu adalah yang paling rendah pendapatannya. Jadi golongan menengah ini pertumbuhan spending-nya lebih rendah daripada golongan bawah. Tapi yang paling tinggi spending-nya tentu saja adalah yang kuintil 5, itu yang paling kaya," kata Faisal dalam pemberitaan merdeka.com dikutip Kamis (15/5).
Hal itu mengindikasikan adanya tren perlambatan tingkat tabungan di kalangan masyarakat kelas menengah.