Prabowo Rencanakan Sekolah Integrasi untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Kelas Menengah

Presiden Prabowo Subianto berencana membangun sekolah integrasi dari SD hingga SMA khusus untuk siswa kelas menengah (desil 3-6). Konsep ini masih digodok oleh Menko PMK Pratikno, menjanjikan fasilitas lengkap dan pendidikan unggul.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Prabowo Rencanakan Sekolah Integrasi untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Kelas Menengah
Presiden Prabowo Subianto berencana membangun sekolah integrasi dari SD hingga SMA khusus untuk siswa kelas menengah (desil 3-6). Konsep ini masih digodok oleh Menko PMK Pratikno, menjanjikan fasilitas lengkap dan pendidikan unggul. (AntaraNews)

Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan gebrakan baru di sektor pendidikan dengan rencana pembangunan sekolah-sekolah terintegrasi. Inisiatif ini akan mencakup jenjang pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), khusus ditujukan bagi siswa dari kelompok masyarakat kelas menengah, atau mereka yang berada dalam kategori desil 3 sampai dengan desil 6.

Rencana strategis ini muncul dalam sebuah rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, pada Rabu malam. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno diberikan mandat untuk merumuskan konsep detail mengenai sekolah integrasi ini. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan pemerataan akses pendidikan berkualitas tinggi bagi segmen masyarakat yang lebih luas.

Konsep sekolah integrasi ini dirancang untuk tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pengembangan keterampilan holistik. Dengan fasilitas lengkap dan kurikulum yang diperkaya, sekolah ini diharapkan mampu mencetak generasi unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan. Fokus utama adalah pada peningkatan kualitas pendidikan dan penyediaan sarana prasarana yang memadai.

Menko PMK Pratikno menjelaskan bahwa kementeriannya telah diperintahkan untuk memikirkan secara mendalam mengenai konsep sekolah integrasi ini. Rencananya, sekolah ini akan dibangun di tiap kecamatan dengan fasilitas yang sangat lengkap. Fasilitas tersebut mencakup laboratorium modern, sarana olahraga yang memadai, hingga bengkel untuk pendidikan vokasional.

Pratikno menambahkan, “Jadi bukan hanya tentang sains, teknologi, engineering, dan matematika, tetapi Pak Presiden menambahkan ada arts dan olahraga.” Hal ini menunjukkan komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang seimbang, tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual tetapi juga bakat seni dan fisik siswa. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi multidimensional.

Sekolah integrasi ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensif, mulai dari dasar hingga menengah atas, dalam satu lingkungan pendidikan. Dengan demikian, diharapkan terjadi kesinambungan kurikulum dan pembinaan karakter yang lebih efektif. Konsep ini juga bertujuan untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antar wilayah.

Pemerintah sebelumnya telah meluncurkan program pendidikan lain untuk segmen masyarakat berbeda. Untuk mencetak siswa unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), telah ada Sekolah Garuda. Sementara itu, untuk memastikan pemerataan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga sangat miskin (desil 1) dan miskin (desil 2), pemerintah memiliki program Sekolah Rakyat.

Pratikno menegaskan bahwa rencana pembangunan sekolah integrasi ini memerlukan kajian yang lebih mendalam dan elaborasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak terburu-buru dalam implementasi, melainkan ingin memastikan konsep yang matang dan berkelanjutan. Kajian ini akan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kurikulum, tenaga pengajar, hingga infrastruktur.

Mengenai implementasi, Pratikno menjelaskan bahwa sekolah-sekolah integrasi yang akan dibentuk tidak harus selalu berupa bangunan baru. Ada opsi untuk mengkonversi sekolah-sekolah negeri yang sudah ada, sebagaimana yang telah dilakukan dalam pembentukan Sekolah Garuda. “Di Sekolah Garuda, tidak semuanya baru. Ada sebagian yang merupakan transformasi dari sekolah existing,” ujarnya.

Meskipun demikian, Pratikno mengakui bahwa rencana ini masih dalam tahap awal. “Demikian juga dengan sekolah integrasi, tetapi ini masih terlalu dini (untuk dibicarakan), karena kami juga baru saja memperoleh penugasan untuk memikirkan mengenai ini,” pungkas Menko PMK. Proses transformasi atau pembangunan baru akan disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di setiap daerah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi