Kini, Kelas Menengah Tak Lagi Doyan Flexing Konsumsi buat Bertahan Hidup
Semula yang konsumsi untuk Flexing kini Konsumsi untuk Feeling Good.
Hakuhodo International Indonesia melalui Sei-katsu-sha Lab menyingkap hasil studi terbaru berjudul Navigating the In Between-Living as Indonesian Middle Class.
Dari hasil studi tersebut, pandangan kelas menengah terhadap pola konsumsi (Value on Consumption) mengalami pergerseran. Semula yang konsumsi untuk Flexing kini Konsumsi untuk Feeling Good.
"Di dunia yang terus bergerak tanpa henti, kita semua dituntut beradaptasi. Kelas menengah sedang berada di pusaran perubahan, mereka membawa mimpi yang mendorong indonesia untuk maju sekaligus menanggung tekanan yang terbentuk oleh zaman," kata Group CEO Hakuhodo International Indonesia, Devi Attamimi, dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (6/11).
Di Sei-katsu-sha Lab, kata Devi, pihaknya mempelajari manusia bukan sebagai tren, melainkan sebagai kisah hidup yang terus berkembang. Bagi para pelaku industri pemasaran, peran kita adalah mendengarkan, memahami, dan membangun hubungan yang membuat hidup terasa lebih bermakna.
Ia menjelaskan, kelas menengah tidak lagi belanja semata untuk menunjukkan status mereka. Belanja kini mempunyai fungsi yang penting dalam bertahan di tengah-tengah ketidakpastian. Belanja yang tepat ditujukan untuk memprioritaskan diri mereka sendiri agar bisa merasa nyaman dan cukup.
Hasil Studi
Dari hasil studi, 90 persen menyebut kualitas yang konsisten sebagai alasan utama loyalitas terhadap Brand, mencerminkan bahwa menghargai kualitas berarti juga menghargai diri sendiri.
"Mereka membeli bukan untuk pamer, tetapi untuk mengisi kembali semangat diri," ujarnya.
Seorang responden bahkan menyebut motornya sebagai "penyemangat hidup," simbol keberanian dalam menjalani hari.
Kelas Menengah Sisihkan Anggaran untuk 'Me Time'
Sementara, 70 persen merasa terhubung dengan Brand yang mampu meningkatkan suasana hati mereka, membuktikan bahwa kedekatan emosional kini menjadi faktor utama
Meski anggaran terbatas, banyak yang tetap menyishkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan "Mental Therapy" seperti hobi, hiburan, atau waktu pribadi.
"61 persen mengaku rutin memberi hadiah kecil untuk diri sendiri sebagai cara menjaga 'kewarasan' di masa penuh ketidakpastian," pungkasnya.